Keluarga dalam Sentimental Value

Mengungkap Kedalaman Emosi dalam “Sentimental Value”

Sebuah karya sinematik yang berhasil memukau juri Festival Film Cannes dengan meraih Grand Prix, “Sentimental Value” karya sutradara Joachim Trier kini semakin mencuri perhatian publik internasional. Film ini terpilih untuk mewakili Norwegia dalam persaingan ketat kategori Film Fitur Internasional Terbaik di ajang Academy Awards (Oscar). Kisah yang diangkat berpusat pada kompleksitas hubungan antara dua saudara perempuan, Nora yang diperankan oleh Renate Reinsve dan Agnes yang dimainkan oleh Inga Ibsdotter Lilleaas.

Joachim Trier kembali berkolaborasi dengan Renate Reinsve, seorang aktris yang sebelumnya telah bekerja sama dengannya dalam beberapa proyek, termasuk film yang juga mendapat pujian luas, “The Worst Person in the World”. Sementara itu, Inga Ibsdotter Lilleaas menjadi wajah baru yang diperkenalkan Trier dalam semesta karyanya. Lilleaas berbagi pengalamannya dalam proses audisi, mengungkapkan bahwa ia tidak hanya menjalani tes peran, tetapi juga melakukan percakapan mendalam selama setengah jam dengan sutradara. Ia menganggap pendekatan Trier yang meluangkan waktu untuk mengenal para aktor yang dipertimbangkan sebagai langkah brilian, karena menciptakan fondasi saling pengertian sejak dini.

Proses persiapan akting kedua bintang utama ini dilaporkan telah dilakukan selama berbulan-bulan. Tujuannya adalah agar mereka merasa sangat nyaman dan siap untuk mengambil risiko kreatif serta melakukan penyesuaian naskah yang diperlukan pada saat syuting. Menurut Lilleaas, latihan intensif dan diskusi mendalam mengenai naskah serta karakter memberikan makna yang sangat besar. Baginya, hal ini memberikan “kehidupan yang nyata” pada karakter karena telah dihidupi bersama dalam waktu yang cukup lama.

Momen Spontan yang Menggetarkan Hati

Salah satu adegan yang paling menyentuh hati dan menjadi sorotan publik dalam “Sentimental Value” terjadi menjelang akhir film. Dalam sebuah momen yang sarat emosi, ketika Nora dan Agnes sama-sama tengah berjuang menghadapi kembalinya ayah mereka yang telah lama terasing, Gustav (diperankan oleh Stellan Skarsgard), Agnes tiba-tiba mengucapkan kalimat yang sederhana namun penuh makna kepada Nora: “Aku mencintaimu.” Pernyataan cinta yang begitu langsung dan rentan ini jarang sekali diungkapkan dalam konteks keluarga, seringkali terhalang oleh rasa sungkan atau norma sosial.

Dialog spontan yang secara gamblang menunjukkan kerapuhan Nora ini ternyata tidak tertulis dalam naskah, bahkan tidak pernah didiskusikan sebelumnya. Inga Ibsdotter Lilleaas mengaku merasa gugup saat harus mengucapkan kalimat tersebut secara tiba-tiba di depan kamera. Namun, kata-kata itu keluar begitu saja dari lubuk hatinya. Ia menjelaskan bahwa dalam budaya Norwegia, pengungkapan perasaan secara verbal tidak umum dilakukan. Ada kecenderungan untuk menghindari ungkapan yang dianggap berlebihan. Namun, karena kata-kata itu lahir dari perasaan tulus yang dirasakannya saat itu, Lilleaas merasa itu adalah sesuatu yang memang ingin ia katakan, dan ia juga ingin kakaknya sendiri mendengarnya.

Renate Reinsve menambahkan bahwa Joachim Trier melakukan sedikit penyesuaian pada peran Agnes setelah bertemu dengan Lilleaas. Hal ini dikarenakan Lilleaas mampu membawa tingkat keaslian dan kejujuran yang luar biasa pada karakternya. Reinsve menggambarkan momen tersebut sebagai titik balik yang sangat kuat baginya. Ia merasa bahwa dialog spontan Agnes tersebut “benar-benar menghantamnya,” membuatnya memahami segalanya, mengubah perspektifnya terhadap keseluruhan alur cerita, dan membuatnya sangat terlibat secara emosional.

Kolaborasi yang Membebaskan

Aktris yang mendapatkan nominasi Oscar untuk Aktris Terbaik ini juga menyoroti salah satu keunggulan bekerja dengan Joachim Trier. Ia merasa bahwa Trier memiliki kemampuan luar biasa untuk memahami apa yang dilakukan para aktornya dengan cara yang sangat halus. Reinsve menjelaskan bahwa mereka tidak perlu “menunjukkan” apa pun kepada sutradara. Para aktor dapat sepenuhnya jujur pada karakter dan situasi yang dihadapi, tanpa perlu melebih-lebihkan. Trier akan mampu menangkap esensi tersebut.

Lebih lanjut, Reinsve mengungkapkan bahwa Trier tidak perlu memahami secara intelektual setiap detail emosi yang terjadi di antara para aktor. Namun, ia memiliki kepekaan untuk memanfaatkan otentisitas tersebut dalam proses penyuntingan. Jika ada sesuatu yang benar-benar asli dan terjadi secara alami, Trier tahu bagaimana cara menggunakannya untuk memperkaya narasi film. Pendekatan ini menciptakan lingkungan kerja yang membebaskan, di mana para aktor dapat mengeksplorasi kedalaman karakter mereka tanpa rasa takut, mengetahui bahwa sutradara mereka akan menghargai dan mengintegrasikan kejujuran artistik mereka ke dalam karya akhir.

Pos terkait