Seni yang Tak Lagi Netral di Tengah Konflik Global
Di berbagai panggung seni di seluruh dunia, seni tidak lagi hanya menjadi ekspresi estetika. Ia menjadi wadah untuk menyampaikan pesan politik, protes, dan kepedulian terhadap isu-isu global yang semakin memanas. Dari panggung opera di Ankara hingga pertunjukan jalanan di Atlanta, seni kini menjadi cerminan dari perasaan dan sikap masyarakat terhadap situasi yang sedang terjadi.
Opera: Ruang Legitimasi Kekuasaan atau Bentuk Protes?
Dalam laporan Mehmet Riza di Daily Sabah, penampilan penyanyi opera Turki Caner Akın di Tel Aviv, delapan bulan setelah tragedi Mavi Marmara, menjadi bahan kritik tajam. Riza menilai bahwa tindakan tersebut bukan sekadar keputusan artistik, tetapi juga keputusan politik. Ia menyoroti bagaimana seni, khususnya opera, bisa menjadi ruang yang samar antara ekspresi artistik dan keberpihakan politik.
Bagi Riza, panggung opera bisa menjadi ruang legitimasi kekuasaan, bukan hanya estetika. Ia mengkritik para seniman yang tampil dalam karya-karya yang dianggap memperkuat narasi Israel, seperti “Nabucco” dan “Fiddler on the Roof”. Di akhir tulisannya, Riza menulis dengan tegas, “Seni tidak boleh pernah dijadikan tameng bagi penindas.”

Kapal Mavi Marmara – (WIKIMEDIA COMMONS)
Pertunjukan Jalanan: Seni sebagai Bentuk Protes
Di sisi lain, di Atlanta, seni berubah menjadi bentuk protes yang lebih frontal dan provokatif. Dalam laporan Chris Nesi di New York Post, aksi “No Kings” oleh seniman Jessica Blinkhorn menjadi sorotan. Ia menyeret figur yang menyerupai Donald Trump dan JD Vance dengan rantai, diiringi musik techno dan kostum yang ekstrem.
Blinkhorn menjelaskan bahwa aksinya bukan sekadar pertunjukan, tetapi bentuk protes yang kuat. Ia menegaskan bahwa seni harus menjadi alat untuk menyampaikan kemarahan publik terhadap kekuasaan. Di tengah eskalasi perang Iran, seni jalanan ini menjadi simbol oposisi yang terang-terangan terhadap pemerintah dan sistem yang dianggap tidak adil.
Musik Klasik: Seni sebagai Ruang Kebenaran
Di Australia, pianis Jayson Gillham memilih untuk tidak memisahkan musik dari realitas politik. Dalam laporan Kelly Burke di The Guardian, ia memutuskan untuk menyuarakan tragedi Gaza di atas panggung, meskipun hal itu membuatnya kehilangan kontrak dengan Melbourne Symphony Orchestra. Namun, ia tidak mundur.
Gillham percaya bahwa seni bukan lagi ruang steril, melainkan ruang kebenaran. Ia membangun panggungnya sendiri di luar institusi untuk menjaga kebebasan ekspresi. Baginya, seni adalah relasi, bukan sekadar pertunjukan. “Saya ingin memiliki jalur komunikasi langsung dengan audiens saya,” ujarnya.
Seni sebagai Cermin Ketegangan Global
Meskipun ketiga narasi ini tampak berbeda—dari opera yang dikritik karena terlalu dekat dengan kekuasaan, hingga seni jalanan yang menjadi bentuk protes ekstrem, dan konser klasik yang menjadi ruang perlawanan moral—semuanya menunjukkan satu titik kesamaan: seni tidak lagi bisa berpura-pura netral.
Dalam konteks perang Amerika-Israel melawan Iran, seni menjadi cermin yang memantulkan ketegangan global dalam berbagai bentuk. Opera di Turki menunjukkan bagaimana seni bisa terseret dalam arus geopolitik tanpa disadari. Seni jalanan di Amerika menegaskan bahwa estetika bisa digunakan untuk menantang kekuasaan. Sementara musik klasik di Australia menegaskan bahwa bahkan ruang paling “sakral” pun tidak kebal dari politik.
Transformasi Seni dari Ruang Estetika Menjadi Arena Politik
Secara komparatif, ketiganya menggambarkan satu fenomena besar: transformasi seni dari ruang estetika menjadi arena politik. Di era konflik global yang semakin terbuka, seniman tidak lagi hanya dituntut untuk mencipta, tetapi juga untuk memilih posisi. Diam pun menjadi pilihan politik.
Dan ketika seni berbicara, ia tidak lagi sekadar indah, ia bisa menjadi tajam, mengganggu, bahkan mengguncang. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah seni harus netral, tetapi apakah netralitas itu sendiri masih mungkin.
Di tengah dunia yang terbelah oleh konflik, seni tampaknya telah mengambil keputusan. Ia tidak lagi berdiri di tengah, melainkan bergerak, kadang ke arah kekuasaan, kadang melawannya, tetapi selalu, dalam cara yang paling manusiawi, mencoba menjelaskan dunia yang semakin sulit dipahami.





