Kinerja Emiten Tumbuh, Prospek Industri Komponen Otomotif 2026 Menjanjikan

Kinerja Emen Komponen Otomotif pada Tahun 2025

Pada tahun 2025, kinerja sejumlah emiten komponen otomotif di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Setelah mengalami peningkatan pada tahun sebelumnya, para produsen komponen otomotif mulai memperhatikan berbagai peluang dan tantangan yang dapat memengaruhi prospek industri pada tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025 di Bursa Efek Indonesia, pendapatan dan laba bersih sejumlah emiten komponen otomotif mengalami peningkatan. Contohnya adalah PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), yang mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,2 triliun. Angka ini menjadi rekor kinerja tertinggi dalam empat tahun terakhir dan sepanjang sejarah emiten komponen otomotif dari Grup Astra.

Peningkatan laba bersih AUTO sebesar 8,37% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan raihan tahun 2024, yang tercatat sebesar Rp 2,03 triliun. Kenaikan bottom line AUTO sejalan dengan kenaikan pendapatan bersih yang tumbuh 4,35% (yoy) dari Rp 19,07 triliun menjadi Rp 19,90 triliun.

Selain AUTO, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) juga mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 7,81% yoy dari Rp 5,50 triliun menjadi Rp 5,93 triliun. DRMA meraih laba bersih sebesar Rp 652,58 miliar atau naik 12,65% dibandingkan raihan Rp 579,28 miliar pada 2024.

Sementara itu, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 3,29% yoy dari Rp 5,16 triliun menjadi Rp 5,33 triliun pada 2025. Laba bersih SMSM tumbuh 9,80% yoy menjadi Rp 1,12 triliun, dari sebelumnya Rp 1,02 triliun.

PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) turut mengalami pertumbuhan dengan kenaikan penjualan sebesar 38,22% yoy dari Rp 267,37 miliar menjadi Rp 369,58 miliar. Sedangkan laba bersih PART meningkat 29,94% yoy dari Rp 23,24 miliar menjadi Rp 30,20 miliar pada 2025.

Faktor Pendorong Pertumbuhan Kinerja

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmad Basuki menyebutkan bahwa pertumbuhan kinerja emiten komponen tahun lalu disebabkan oleh beberapa faktor. Meski sebagian besar emiten komponen mengalami peningkatan, ada juga yang tertekan, khususnya yang hanya mengandalkan pasar OEM untuk roda empat.

Rachmad menyoroti bahwa terjadi penurunan di segmen roda empat, sedangkan segmen roda dua relatif stagnan. Namun, pasar ekspor untuk kendaraan Completely Built Up (CBU) maupun produk komponen tersendiri (part by part) membantu menopang kinerja produsen komponen.

“Kalau dilihat secara keseluruhan, bisa jadi industri komponen juga mengalami sedikit penurunan, meski sangat terbantu dengan ekspor CBU maupun part by part. Yang sangat tertekan adalah perusahaan komponen yang hanya supply ke OEM roda empat,” ujar Rachmad.

Prospek Industri Komponen

Menginjak kuartal kedua 2026, GIAMM masih berhati-hati dalam memasang proyeksi kinerja hingga akhir tahun ini. Pada awal tahun, setidaknya hingga bulan Februari 2026, industri komponen terpapar katalis positif dari pertumbuhan penjualan mobil di dalam negeri.

Katalis positif lain pada kuartal I-2026 datang dari momentum mudik Lebaran Idulfitri, terutama untuk segmen penggantian suku cadang. “Hasil penjualan Februari untuk roda empat cukup bagus dan mudah-mudahan bisa bertahan sampai Q1-2026 dengan momentum Lebaran, sehingga industri komponen juga terjaga pertumbuhannya,” ujar Rachmad.

Namun, GIAMM memproyeksikan kondisi yang menantang untuk kuartal II-2026. Rachmad menyoroti dampak dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpengaruh terhadap berbagai industri, terutama dari sisi rantai pasok dan harga energi maupun bahan baku.

Strategi dan Peluang Ekspor

Fokus produsen komponen otomotif saat ini adalah mencari alternatif dari luar kawasan Timur Tengah untuk mengamankan pasokan bahan baku seperti raw material plastik dan aluminium. Para pelaku industri melirik pasokan bahan baku dari kawasan Asia Timur seperti China, Jepang dan Korea Selatan.

Di sisi lain, GIAMM berharap peningkatan pangsa pasar kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) yang di segmen roda empat sudah menembus 15% bisa turut mendongkrak kinerja industri komponen. Rachmad menyoroti peluang dari berakhirnya insentif impor secara CBU dan pengoperasian beberapa pabrik EV di dalam negeri.

Perspektif Perusahaan

Wakil Direktur Utama SMSM Ang Andri Pribadi menyampaikan pandangan bahwa prospek industri komponen otomotif pada tahun 2026 masih kondusif dengan pertumbuhan yang stabil. SMSM melihat peluang dari kebutuhan aftermarket yang masih kuat, seiring pertumbuhan populasi kendaraan dan meningkatnya mobilitas masyarakat.

Selain itu, potensi pertumbuhan ekspor juga masih terbuka, didukung oleh perluasan jangkauan pasar internasional serta penguatan jaringan distribusi global. Meski begitu, Andri menegaskan bahwa SMSM terus mencermati sejumlah tantangan yang membayangi industri.

Tantangan yang menjadi sorotan SMSM antara lain ketidakpastian kondisi global, fluktuasi nilai tukar, tekanan biaya bahan baku dan logistik, serta perkembangan teknologi otomotif yang menuntut inovasi dan penyesuaian berkelanjutan. Menghadapi berbagai tantangan tersebut, SMSM bakal terus menjaga konsistensi dalam menjalankan efisiensi operasional dan pengelolaan biaya secara disiplin.

“Secara umum, Perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada kisaran single digit dibandingkan tahun 2025, dengan tetap berfokus pada menjaga profitabilitas, stabilitas margin, serta arus kas yang sehat,” ungkap Andri.

Sementara itu, President Direktur Dharma Polimetal, Irianto Santoso mengungkapkan bahwa DRMA telah menyiapkan berbagai strategi untuk mencapai target pertumbuhan penjualan sebesar 10% pada tahun ini. Strategi tersebut mencakup peluncuran produk baru, ekspansi pasar, serta penguatan kapabilitas manufaktur.

“Dengan penerapan strategi diversifikasi produk dan penguatan kapabilitas manufaktur ini, kami optimistis akan dapat menjaga pertumbuhan DRMA sekaligus memperkuat posisi kompetitif di industri otomotif,” kata Irianto.

Pos terkait