Kompetisi dan Egoisme Elit

Kehidupan di Tengah Kebiasaan yang Tidak Seimbang

Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin, sering menyampaikan bahwa orang jenius itu sedikit. Begitu pula dengan orang yang terlalu naif atau tidak sadar akan situasi sekitarnya. Yang banyak adalah mereka yang berada di tengah-tengah. Bukan jenius, bukan bloon, tapi seperti kita-kita ini. Ini adalah kenyataan yang ia sampaikan dalam berbagai kesempatan.

Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap pola pikir masyarakat yang cenderung ingin menang, unggul, dan menjadi yang terbaik. Seolah-olah jika tidak menjadi juara, maka kita tidak bernilai. Seolah anak yang tidak masuk peringkat atas tidak layak disayangi. Seolah ketua organisasi lebih terhormat daripada anggota biasa. Dan seolah-olah menjadi pejabat adalah satu-satunya cara untuk dihargai. Akibatnya, sikap kita terhadap hidup menjadi tidak seimbang. Kita menjadi egois, hanya ingin menang sendiri. Yang diupayakan hanyalah kepentingan diri sendiri, keluarga, dan orang-orang dekat. Lupa dengan orang lain!

Budaya Kompetisi dalam Dunia Pendidikan

Perhatikan dunia pendidikan kita. Kita terdidik dalam budaya kompetisi, bukan kolaborasi. Bersaing, bukan bekerja sama. Meskipun belakangan ini rapor siswa tidak lagi menyebutkan peringkat, para orang tua tetap ingin tahu anaknya berada di posisi mana. Bahkan guru kadang membagikan rapor dengan mengumumkan siapa yang mendapat peringkat satu hingga lima atau sepuluh. Anak yang masuk peringkat tentu senang, diberi tepuk tangan, dan menerima penghargaan. Namun, bagaimana dengan siswa yang tidak masuk peringkat? Bagaimana perasaan mereka?

Budaya kompetisi ini tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga antar lembaga pendidikan. Setiap sekolah, madrasah, perguruan tinggi, bahkan pesantren, berusaha menjadi yang terbaik dan saling bersaing untuk menjadi favorit. Alih-alih fokus pada pemerataan sarana, guru, dan tenaga kependidikan di seluruh negeri, pemerintah justru membangun sedikit sekolah dan madrasah unggulan. Akibatnya, kesenjangan antar lembaga pendidikan sangat nyata. Masyarakat akhirnya terperangkap dalam kompetisi masuk sekolah dan madrasah unggulan.

Perbandingan dengan Sistem Pendidikan di Luar Negeri

Sekadar perbandingan. Ketika kami tinggal di Belanda, anak kami masuk pendidikan dasar. Saat pembagian rapor, cara mereka berbeda dengan kita. Orangtua tidak dipanggil secara bersamaan, melainkan membuat janji bertemu satu per satu. Sekolah menetapkan waktunya saja, yakni tanggal, hari, dari jam sekian sampai jam sekian. Orangtua diminta menelepon untuk membuat janji bertemu guru. Tiap orangtua dapat jatah 5-10 menit.

“Anak ibu ini cerdas. Akademiknya bagus. Namun, dalam pergaulan, dia agak keras,” kata si guru. Tak ada orangtua dan anak lain yang mendengar. Sifatnya pribadi. Karena itu, dalam keseharian, anak-anak tidak merasa bersaing. Yang ditanamkan justru sebaliknya, yakni saling membantu dan menolong. Anak yang lebih cerdas bisa membantu anak yang kurang pandai dalam mengerjakan tugas. Anak yang baru masuk dibimbing oleh temannya yang sudah lama masuk. Yang lebih ditumbuhkan adalah kolaborasi, bukan kompetisi.

Kelebihan yang Harus Diwujudkan dalam Tanggung Jawab

Karena itu, saya kira demikianlah perlakuan yang adil dan ideal. Anak yang punya kelebihan, entah kecerdasan, keterampilan, atau kekuatan fisiknya, memang harus dihargai. Namun, pada saat yang sama, si anak juga harus disadarkan bahwa kelebihan yang secara alamiah dimilikinya bukanlah keistimewaan semata, tetapi tanggung jawab, bukan hak tetapi kewajiban. Artinya, orang yang lebih cerdas, lebih terampil atau lebih kuat dari yang lain, memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang lebih besar terhadap sesama manusia dibanding yang kurang cerdas, kurang terampil, dan lemah.

Cara berpikir seperti itu juga berlaku di ranah kehidupan yang lebih luas, bukan sekadar di dalam dunia pendidikan. Misalnya dalam bidang ekonomi. Pasar bebas memang perlu untuk memicu gairah persaingan yang sehat. Namun, kebebasan itu hanya layak dilakoni oleh mereka yang setara, yang memang mampu bersaing. Adapun mereka yang lemah, tetap harus dilindungi. Inilah fungsi negara. Berbagai bantuan sosial yang diberikan negara seperti subsidi kebutuhan pokok, beasiswa, perumahan murah, dan seterusnya, adalah upaya untuk melindungi mereka yang lemah itu.

Dalam Politik, Kelebihan Juga Menjadi Tanggung Jawab

Dalam politik juga demikian. Logika politik jelas menang-kalah dalam perebutan kekuasaan. Yang berlaga tentu yang kuat melawan yang kuat. Artinya, orang-orang yang memiliki kelebihan dalam hal kecerdasan, pengetahuan, keterampilan, kekuatan, dan kekayaan. Silahkan mereka bertanding. Kita yang lemah, yang kurang pintar, kurang terampil, kurang sehat, cukup mendukung dan memilih saja. Namun, setiap calon penguasa itu harus ingat bahwa kelebihan yang dimilikinya adalah tanggung jawab dan kewajiban yang lebih pula terhadap sesama, bukan hak istimewa!

Sayang, dalam kenyataan seringkali tidak demikian. Dalam politik, seringkali orang berpikir, yang penting menang, bagaimanapun caranya. Bahkan, orang yang sebenarnya tak layak jadi pemimpin, tetap ngotot ingin jadi pemimpin. Dia ingin memakai baju yang tidak pas di badannya. Dia ingin gaya-gayaan saja, menikmati berbagai fasilitas negara, dan mengeruk keuntungan pribadi dari anggaran negara. Mungkin karena menang-menangan dan kalah-mengalahkan sudah menjadi budaya sejak kecil di sekolah, dia menganggap apa yang dilakukannya itu biasa, lumrah, dan benar saja.

Kepemimpinan yang Mengutamakan Kepentingan Umum

Demikianlah kondisi sosial-budaya yang membentuk budaya politik kita. Padahal, seorang pemimpin bertugas membuat keputusan untuk orang banyak. Kalau dia egois, maka keputusan hanya akan menguntungkan dirinya sendiri dan orang-orang tertentu belaka. Untuk bisa mengutamakan kepentingan umum, seorang pemimpin harus selesai dengan dirinya sendiri, yakni sudah merasa cukup dengan apa yang diraihnya untuk pribadi dan keluarganya. Dia bukan manusia serakah. Dia menjadi pemimpin semata-mata ingin mengabdi kepada orang banyak.

Alhasil, kita merindukan elit yang altruis, bukan yang egois, yang mengutamakan orang banyak, bukan diri sendiri.

Pos terkait