Konflik Memanas, Franc Swiss Kembali Jadi Pelindung Nilai

Emas, Dolar AS, Yen Jepang, dan Franc Swiss: Pelarian Investor di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Ketegangan geopolitik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah telah memicu gelombang kekhawatiran di pasar keuangan global. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ekonomi dan politik ini, para investor secara naluriah mencari tempat berlindung yang aman untuk aset mereka. Instrumen investasi yang dianggap memiliki stabilitas tinggi, seperti emas, dolar Amerika Serikat (AS), yen Jepang, dan franc Swiss, kini menjadi tujuan utama aliran dana.

Fenomena ini tercermin jelas dalam pergerakan harga aset-aset tersebut. Berdasarkan data pergerakan pasar pada Jumat, 6 Maret 2026, harga emas di pasar spot mengalami kenaikan signifikan sebesar 1,47%, ditutup pada angka US$ 5.158,89 per ons troi. Ini menunjukkan adanya peningkatan permintaan yang kuat terhadap logam mulia ini sebagai aset pelindung nilai.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) juga menunjukkan performa yang mengesankan. Dalam kurun waktu sebulan terakhir, indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama ini telah menguat 2,24%, berada di level 98,98. Penguatan ini mengindikasikan bahwa dolar AS masih menjadi pilihan favorit investor global saat menghadapi ketidakpastian.

Pergerakan Mata Uang Utama di Tengah Gejolak

Tidak hanya dolar AS secara umum, pasangan mata uang yang melibatkan dolar AS juga menunjukkan tren penguatan. Pasangan valas USD/JPY, yang mempertemukan dolar AS dengan yen Jepang, terpantau menguat 1,26% dalam sebulan terakhir, mencapai level 157,8. Begitu pula dengan pasangan valas USD/CHF, yang menunjukkan penguatan sebesar 1,28% dalam periode yang sama, diperdagangkan pada level 0,77. Data ini menggarisbawahi peran dolar AS sebagai aset safe haven yang dominan di tengah gejolak.

Analisis Mendalam Mengenai Aset Safe Haven

Menurut Lukman Leong, seorang analis komoditas dari Doo Financial Futures, emas, dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss secara tradisional memang diakui sebagai aset safe haven yang ideal. Namun, Lukman menyoroti bahwa saat ini, kombinasi dari faktor geopolitik yang memanas, kekhawatiran inflasi yang kembali muncul, dan prospek suku bunga yang cenderung stagnan membuat dolar AS seolah menjadi safe haven satu-satunya yang paling menonjol.

Lukman menjelaskan bahwa penguatan dolar AS saat ini lebih didorong oleh kekhawatiran akan kenaikan harga bahan bakar. Kenaikan harga energi ini berpotensi memicu kembali inflasi di AS, yang pada gilirannya dapat menunda atau bahkan menggagalkan rencana pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Meskipun demikian, Lukman menambahkan bahwa isu serupa juga berlaku bagi negara-negara lain di dunia.

“Emas masih merupakan safe haven utama, namun saat ini terimbas aksi ambil untung (profit taking) oleh kenaikan yang cukup besar tahun ini. Sebagian dari kenaikan tersebut memang merupakan antisipasi terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah. Dalam istilah pasar, ini sering disebut sebagai ‘jual saat ada berita’ (sell on news),” ujar Lukman.

Lukman menambahkan bahwa dolar AS, meskipun sempat ditinggalkan secara perlahan oleh investor dalam jangka waktu yang cukup lama, kini kembali menunjukkan performa positifnya di momen-momen ketegangan geopolitik atau konflik bersenjata seperti yang terjadi saat ini.

Franc Swiss: Stabilitas yang Tak Tergoyahkan

Di tengah dominasi dolar AS, Lukman juga menggarisbawahi bahwa tidak ada aset safe haven lain yang secara signifikan menonjol, kecuali franc Swiss (CHF). Mata uang ini masih terus mendapatkan sentimen positif dari para investor sebagai aset pelindung nilai.

Alasan utama mengapa franc Swiss kerap dipandang sebagai aset safe haven yang andal adalah stabilitas ekonomi dan politik Swiss yang sangat kuat. Negara ini memiliki tingkat inflasi yang relatif rendah dan reputasi sistem keuangannya yang sangat konservatif.

Lebih lanjut, Swiss secara konsisten mencatatkan surplus dalam neraca berjalannya, yang berkontribusi pada penguatan mata uangnya. Kondisi ini menjadikan franc Swiss cenderung tetap kuat bahkan di saat terjadi ketidakpastian global, menjadikannya pilihan menarik bagi investor yang mencari keamanan di tengah badai pasar.

Pos terkait