Antisipasi Arus Balik Lebaran 2026: Skema One Way Lokal dan Contraflow Disiapkan
Menyambut puncak arus balik Lebaran Idul Fitri 2026, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri telah merancang berbagai strategi rekayasa lalu lintas untuk memastikan kelancaran dan keamanan perjalanan para pemudik. Berdasarkan evaluasi arus mudik yang menunjukkan peningkatan signifikan, Korlantas memprediksi puncak arus balik akan terbagi dalam dua gelombang utama, yaitu pada tanggal 24–25 Maret dan 28–29 Maret 2026. Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan yang diperkirakan akan kembali memadati jalur, skema one way lokal dan contraflow telah disiapkan secara matang.
Kakorlantas Polri, Irjen Pol. Agus Suryonugroho, menjelaskan bahwa rekayasa lalu lintas ini didasarkan pada perhitungan distribusi kendaraan yang akurat. Pengalaman dari arus mudik menunjukkan adanya peningkatan volume kendaraan pada periode puncaknya, dari angka 258 ribu menjadi 270 ribu kendaraan. Oleh karena itu, antisipasi yang sama kuatnya juga diperlukan untuk arus balik.
“Pengalaman arus mudik menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan pada puncaknya, dari 258 ribu menjadi 270 ribu kendaraan. Tentunya arus balik juga harus kita antisipasi,” ujar Irjen Pol. Agus Suryonugroho saat memberikan keterangan di Command Center Korlantas Polri, Cikampek, pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Pengelolaan Arus Kendaraan Berdasarkan Wilayah
Korlantas mencatat bahwa distribusi kendaraan yang menuju wilayah Jawa Barat diperkirakan berada di kisaran 30 hingga 35 persen. Untuk mengelola arus ini secara efektif dan mengurangi beban pada jalur utama, akan dilakukan pemanfaatan ruas Jalan Tol Japek II Selatan serta jalur Bocimi.
Perhatian utama dalam pengaturan arus balik tertuju pada porsi kendaraan yang berasal dari Jalan Tol Trans Jawa. Jalur ini menjadi kontributor dominan dalam arus balik, dengan perkiraan mencapai sekitar 66 persen dari total volume kendaraan.
“Untuk yang dari Trans Jawa kurang lebih mencapai 66 persen. Ini yang harus kita kelola,” tegas Irjen Pol. Agus Suryonugroho.
Penerapan Skema One Way Lokal Bertahap
Untuk mengurai kepadatan yang diprediksi akan terjadi, Korlantas menyiapkan penerapan skema one way lokal secara bertahap. Tahap awal akan dimulai dari Kilometer (Km) 414 menuju Km 70. Skema ini bersifat fleksibel dan berpotensi untuk diperluas hingga Pejagan Km 263 apabila volume kendaraan terus menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Fleksibilitas rekayasa lalu lintas ini menjadi kunci utama, di mana setiap penyesuaian akan dilakukan berdasarkan dinamika yang terjadi di lapangan. Jika terjadi peningkatan bangkitan kendaraan yang melampaui prediksi, skema one way akan diperpanjang hingga titik-titik penyempitan arus sebelum kembali melebar menuju area Jakarta.
“Bila diperlukan, pada 23 Maret ini kami mulai menerapkan one way lokal tahap pertama dari Km 414 menuju Km 70. Kemungkinan akan dibagi dalam dua tahap,” ungkap Irjen Pol. Agus Suryonugroho, menggarisbawahi kesiapan Korlantas dalam menghadapi berbagai skenario.
Penerapan one way lokal ini diharapkan dapat memberikan ruang gerak yang lebih lega bagi kendaraan yang bergerak menuju destinasi mereka, meminimalkan kemacetan panjang, dan mempercepat waktu tempuh.
Langkah Lanjutan: Contraflow Menuju Jakarta
Selain skema one way lokal, Korlantas juga telah menyiapkan skema contraflow sebagai langkah antisipasi lanjutan. Skema ini akan diterapkan untuk mengarahkan arus kendaraan menuju Jakarta. Rencananya, contraflow akan diberlakukan mulai dari Km 70 hingga Km 55, atau bahkan hingga Km 36, tergantung pada kondisi arus lalu lintas yang terpantau secara langsung.
Penerapan contraflow ini bertujuan untuk menambah kapasitas lajur yang tersedia bagi kendaraan yang bergerak dari arah yang berlawanan dengan arus utama, sehingga dapat membantu memperlancar aliran kendaraan menuju ibu kota.
Pemantauan Real-time dan Evaluasi Berkelanjutan
Seluruh rekayasa lalu lintas yang diterapkan akan didukung oleh sistem pemantauan traffic counting secara real-time. Dengan demikian, setiap perubahan volume dan kecepatan arus kendaraan dapat terpantau secara akurat dan cepat. Evaluasi berkelanjutan terhadap data yang masuk menjadi dasar utama dalam melakukan penyesuaian skema rekayasa lalu lintas di lapangan.
Pendekatan yang adaptif dan responsif ini diharapkan mampu menjawab tantangan arus balik Lebaran 2026, memastikan bahwa para pemudik dapat kembali ke kediaman mereka dengan selamat dan nyaman. Korlantas Polri mengimbau seluruh masyarakat pengguna jalan untuk senantiasa mematuhi rambu-rambu lalu lintas, mengikuti arahan petugas di lapangan, dan selalu mengutamakan keselamatan berkendara.




