KRAS Cetak Laba Rp 5,4 Triliun di Tahun Pertama Setelah 10 Tahun Merugi

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), sebuah perusahaan baja milik BUMN, berhasil mencatatkan laba bersih sebesar 325,45 juta dolar AS atau setara dengan Rp 5,44 triliun pada Tahun Buku 2025. Angka ini menjadi penanda baliknya kinerja keuangan perusahaan yang sebelumnya mengalami kerugian sebesar 154,71 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,58 triliun pada tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan usaha KRAS pada 2025 tercatat sebesar 959,83 juta dolar AS atau sekitar Rp 16,05 triliun. Dengan beban pokok pendapatan sebesar 909,09 juta dolar AS atau Rp 15,20 triliun, maka laba bruto KRAS tercatat sebesar 50,74 juta dolar AS atau setara dengan Rp 848,37 miliar sepanjang 2025.

Selain itu, KRAS juga mencatatkan pendapatan keuangan hampir sebesar 520 juta dolar AS. Di samping itu, perusahaan juga memperoleh keuntungan sebesar 156,7 juta dolar AS atas penyelesaian utang yang dipercepat sebagai bagian dari program restrukturisasi keuangannya. Namun, perseroan juga harus merogoh biaya keuangan sebesar 157,15 juta dolar AS.

Meskipun demikian, beban operasional masih memberikan tekanan terhadap kinerja KRAS pada tahun lalu. Beban penjualan tercatat sebesar 24,10 juta dolar AS atau Rp 402,15 miliar dan beban umum serta administrasi sebesar 112,35 juta dolar AS atau Rp 1,88 triliun. Perseroan juga mencatatkan pendapatan operasi lainnya bersih sebesar 3 juta dolar AS atau Rp 50,16 miliar. Akibatnya, rugi operasional tercatat sebesar 82,70 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,38 triliun.

Berikut adalah kinerja laba dan rugi Krakatau Steel dalam 15 tahun terakhir:

TahunLaba/Rugi (US$)
2011151,2 Juta
2012-20,43 Juta
2013-13,99 Juta
2014-147,11 Juta
2015-320,03 Juta
2016-171,69 Juta
2017-878,65 Juta
2018-167,53 Juta
2019-505,39 Juta
202023,68 Juta
202162,13 Juta
202219,47 Juta
2023-131,65 Juta
2024-148 Juta
2025325,45 Juta

Sepanjang tahun 2025, volume penjualan baja KRAS mencapai 944.562 ton atau meningkat sebesar 29,0% dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menjelaskan bahwa torehan laba sepanjang 2025 tersebut didorong oleh keberhasilan restrukturisasi utang, penguatan operasional, serta dukungan dari para pemangku kepentingan. Ia menambahkan bahwa 2025 menjadi momentum kebangkitan operasional, seiring kembali beroperasinya fasilitas strategis pabrik Hot Strip Mill (HSM) sebagai tulang punggung produksi baja nasional.

Selain itu, ia mengaku hasil positif ini juga didukung oleh peran pemerintah melalui Danantara dan kepercayaan dari para kreditur dan mitra bisnis. “Laba ini adalah titik awal yang kami sikapi dengan rendah hati untuk terus memastikan keberlanjutan industri baja nasional,” ujar Akbar Djohan dalam keterangan resmi.

Tidak hanya itu, Akbar juga menyebutkan bahwa KRAS mencatat total aset sebesar 2,77 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 46,24 triliun. Selain itu, total liabilitas turun sebesar 17,04% menjadi 2,04 miliar dolar AS atau Rp 34,11 triliun. Perbaikan kinerja tersebut turut mendorong ekuitas perusahaan, yang melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 725,51 juta dolar AS atau sekitar Rp 12,13 triliun.

“Sebuah indikator bahwa Krakatau Steel kini memiliki landasan finansial yang jauh lebih kuat untuk ekspansi di masa depan,” kata Akbar.

Prospek Bisnis KRAS

Akbar juga menyampaikan bahwa ke depan Krakatau Steel optimistis tren pertumbuhan akan berlanjut melalui kenaikan utilisasi fasilitas produksi hingga penguatan pangsa pasar domestik. Fokus utama perseroan terutama pada pemenuhan kebutuhan sektor infrastruktur dan otomotif yang terus berkembang. Hal itu sejalan dengan agenda pembangunan nasional dan percepatan hilirisasi industri menuju visi Indonesia emas.

Demi memperkuat fundamental, kata Akbar, perseroan juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap portofolio bisnis, termasuk meninjau kembali sejumlah kerja sama joint venture (JV) agar tetap selaras dengan target pertumbuhan. Ia mengatakan apabila kinerja seluruh entitas JV menunjukkan tren positif, terutama PT Krakatau POSCO sebagai mitra strategis utama, kontribusinya terhadap kinerja keuangan konsolidasi akan semakin besar dan berkelanjutan.

Sejalan dengan komitmen terhadap tata kelola yang lebih baik dan disiplin investasi, perseroan terus mengoptimalkan setiap kerja sama agar sesuai dengan arah bisnis jangka panjang. Langkah ini demi memperkuat struktur keuangan sekaligus memastikan seluruh inisiatif bisnis mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi ekosistem Krakatau Steel dan para pemangku kepentingan.

Gadaikan Aset Rp 13,94 Triliun ke Danantara

Sebelumnya, KRAS memberikan jaminan kekayaan atau asetnya kepada Danantara melalui PT Danantara Asset Management (Persero) senilai Rp 13,94 triliun. KRAS menggunakan lebih dari 50% kekayaan bersihnya sebagai jaminan dalam rangka restrukturisasi dan penyehatan keuangan. Penjaminan ini terkait pelaksanaan Perjanjian Pinjaman Pemegang Saham dengan PT Danantara Asset Management, yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham pada 23 Desember 2025. Nilai pinjaman yang diberikan Danantara kepada KRAS sebesar Rp 4,93 triliun.

Corporate Secretary Krakatau Steel, Fedaus menyampaikan, penjaminan dilakukan melalui empat akta, yaitu jaminan fidusia atas barang persediaan dan tagihan, gadai rekening, serta hak tanggungan atas aset tetap, yang seluruhnya dibuat pada 8 Januari 2026. “Langkah ini merupakan bagian dari komitmen perseroan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung kelangsungan usaha ke depan,” ujar Fedaus dalam keterbukaan informasi BEI.

Pos terkait