Kredit Bank Naik 9% di Februari, Kredit Investasi Paling Tinggi



Pertumbuhan kredit perbankan pada Februari 2026 mencatatkan angka yang menunjukkan peningkatan signifikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa penyaluran kredit perbankan tumbuh sebesar 9,37% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 8.559 triliun. Hal ini menunjukkan optimisme sektor perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa kredit investasi mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu naik sebesar 20,74% YoY. Sementara itu, berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi juga tumbuh paling tinggi dengan kenaikan sebesar 14,74% YoY.

Dari sisi kepemilikan, kredit dari bank BUMN tercatat tumbuh paling cepat, yaitu sebesar 12,78% YoY. Dian menyampaikan hal ini dalam acara RDKB Maret OJK secara virtual, Senin (4/6).

Di sisi lain, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan yang positif. DPK tumbuh sebesar 13,18% YoY menjadi Rp 10.102 triliun. Meskipun sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang mencapai 13,48% YoY, peningkatan ini tetap menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan. Pertumbuhan DPK didorong oleh kenaikan giro, deposito, dan tabungan masing-masing sebesar 18,56%, 13%, dan 8,12% YoY.

Likuiditas industri perbankan tetap memadai. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit tercatat sebesar 121,29%, stabil dibandingkan Januari yang mencapai 121,23%. Sementara rasio alat likuid terhadap DPK berada di level 27,4%, sedikit menurun dari 27,54% pada Januari. Namun, rasio ini masih jauh di atas ambang batas masing-masing sebesar 50% dan 10%.

Selain itu, rasio kecukupan likuiditas jangka pendek atau liquidity coverage ratio (LCR) tercatat tinggi di level 195,64%. Kualitas kredit juga tetap terjaga, dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross sebesar 2,17% dan NPL net sebesar 0,83%, sedikit meningkat dibandingkan Januari yang masing-masing sebesar 2,14% dan 0,82%.

Risiko kredit yang lebih luas, tercermin dari loan at risk (LAR) berada di level 9,24%, naik dari 9,01% pada Januari. Sementara itu, profitabilitas perbankan yang diukur melalui return on assets (RoA) tercatat sebesar 2,37%, turun dari 2,49% pada bulan sebelumnya.

Dari sisi permodalan, ketahanan perbankan tetap kuat dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,83%, sedikit menurun dari 25,87% pada Januari. OJK menilai level permodalan tersebut masih menjadi bantalan yang solid dalam menghadapi berbagai risiko di tengah ketidakpastian global.

Berdasarkan Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) OJK pada triwulan pertama 2026, kinerja industri perbankan diproyeksikan tetap solid dengan risiko yang terjaga. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perbankan Indonesia tetap mampu bertahan dan berkembang meskipun menghadapi tantangan global.

Pos terkait