Kuota Pertalite Diperkirakan Akan Tertekan, Harga Diprediksi Naik
Perpindahan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) non subsidi ke BBM bersubsidi diperkirakan akan meningkat. Hal ini terjadi karena kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipengaruhi oleh konflik di kawasan Timur Tengah.
Dr. Riyanto, peneliti LPEM FEB UI, menjelaskan bahwa dari pengalaman sebelumnya, kenaikan harga BBM non subsidi akan menyebabkan konsumen beralih ke BBM bersubsidi. “Kita tidak tahu berapa besar kenaikannya. Tapi rasanya signifikan nanti,” ujarnya.
Saat ini, harga BBM non subsidi per liter seperti Pertamax dijual dengan harga Rp 12.300, sementara Pertamax Green dijual Rp 12.900 dan Pertamax Turbo seharga Rp 13.100. Kenaikan harga BBM non subsidi diperkirakan berkisar antara Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per liter.
Bandingkan dengan harga Pertalite yang dijual Rp 10.000 per liter. Perbedaannya bisa mencapai antara Rp 4.400 hingga Rp 4.900 per liter. Jarak harga tersebut cukup besar, yaitu lebih dari 40 persen.
“Sehingga, pasti banyak orang akan beralih ke Pertalite bulan depan,” prediksi Riyanto.
Efeknya, permintaan terhadap Pertalite akan semakin tinggi. Namun, Pertalite adalah BBM bersubsidi yang berasal dari APBN. Semakin tinggi permintaan, maka semakin besar pula subsidi yang diberikan.
“Jika perang terus berlangsung dan harga minyak mentah tetap bertahan di atas 100 US Dollar per barrel, APBN akan terkuras habis untuk subsidi,” jelas Riyanto.
Pilihan yang tersedia adalah mengalokasikan anggaran dari sektor lain atau memangkas belanja untuk digunakan membiayai subsidi BBM. Atau, pemerintah mungkin terpaksa menaikkan harga BBM bersubsidi agar APBN tidak terlalu terbebani.
Riyanto memprediksi bahwa jika pemerintah memilih opsi menaikkan harga BBM bersubsidi, maka harga akan berada di kisaran Rp 11.500 hingga Rp 12.000 per liter. “Sehingga jarak harga antara BBM bersubsidi dan non subsidi tidak terlalu jauh. Konsumen tetap akan mempertimbangkan untuk membeli BBM non subsidi karena kualitasnya lebih baik,” tutupnya.
Prediksi Kenaikan Harga BBM Bersubsidi
- Pemerintah memiliki dua pilihan dalam menghadapi tekanan subsidi BBM:
- Mengalokasikan anggaran dari sektor lain.
Menaikkan harga BBM bersubsidi.
Kenaikan harga BBM non subsidi diperkirakan antara Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per liter.
- Perbedaan harga antara BBM non subsidi dan bersubsidi mencapai lebih dari 40 persen.
- Jika harga BBM bersubsidi naik, kemungkinan berada di kisaran Rp 11.500 hingga Rp 12.000 per liter.
Dampak terhadap Konsumen
- Banyak konsumen akan beralih ke BBM bersubsidi akibat harga yang lebih murah.
- Permintaan terhadap Pertalite akan meningkat, sehingga subsidi APBN juga akan meningkat.
- Jika krisis berlanjut, APBN bisa terkuras dan pemerintah harus mempertimbangkan kenaikan harga BBM bersubsidi.
Solusi yang Mungkin Diambil
- Membatasi penggunaan BBM non subsidi.
- Meningkatkan efisiensi penggunaan BBM.
- Mempercepat pengembangan energi alternatif.
Dengan situasi ini, pemerintah dan masyarakat harus siap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk kenaikan harga BBM dan pembatasan kuota.





