Ledakan Maut di Biak: Peringatan Keras untuk Pembangunan Pesisir Papua
JAYAPURA – Sebuah insiden tragis mengguncang Kampung Yenures, Distrik Biak Kota, Biak, pada Minggu sore, 31 Mei 2026. Ledakan dahsyat yang diduga berasal dari bom aktif peninggalan Perang Dunia II merobek ketenangan kawasan perikanan, menghancurkan sejumlah rumah warga, dan menyisakan duka mendalam. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kerugian materiil dan korban jiwa, tetapi juga menjadi alarm keras bagi seluruh pihak yang terlibat dalam program pembangunan kawasan pesisir di wilayah Papua, khususnya program Kampung Nelayan yang merupakan inisiatif unggulan pemerintah.
Kampung Yenures, yang selama ini dikenal sebagai pusat aktivitas nelayan lokal dengan lokasi strategis di dekat kawasan perikanan, sejatinya merupakan target potensial untuk pengembangan ekonomi pesisir. Namun, ledakan bom Perang Dunia II yang berdaya ledak tinggi pada pukul 14.45 WIT ini menegaskan bahwa kemajuan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari jaminan keselamatan lingkungan dan masyarakat.
Secara historis, Biak Numfor memiliki peran penting sebagai salah satu pangkalan militer terbesar bagi pasukan sekutu dan Jepang selama Perang Pasifik. Imbasnya, wilayah pesisirnya, termasuk area pantai, kerap menjadi ‘tempat penyimpanan’ bom waktu berupa artileri atau bom udara dengan berbagai ukuran yang masih tertimbun di dalam tanah maupun pasir. Keberadaan sisa-sisa perang ini menjadi ancaman laten yang tidak boleh diabaikan.
SOP Pembangunan Pesisir: Prioritaskan Pembersihan Bahan Peledak
Program penataan permukiman, seperti Kampung Nelayan Modern (Kanamod) atau program bantuan infrastruktur perikanan di wilayah dengan sejarah konflik seperti Biak Numfor, tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik semata. Pembangunan dermaga, cold storage, atau rumah layak huni memang penting, namun keberadaannya menjadi sia-sia jika keselamatan warga terancam oleh bahaya yang tersembunyi di bawah permukaan.
Oleh karena itu, pembersihan lahan dari material bahan peledak peninggalan perang harus menjadi Standar Operasional Prosedur (SOP) utama sebelum sebuah kawasan nelayan mulai ditata atau dikembangkan. Ini bukan sekadar rekomendasi, melainkan sebuah keharusan demi mencegah terulangnya tragedi serupa.
Ancaman Laten di Pesisir Biak dan Supiori
Kesaksian warga di lapangan mengindikasikan bahwa ancaman bom aktif tidak hanya terbatas di Kampung Yenures. Sepanjang wilayah pesisir dari lokasi kejadian hingga Kabupaten Supiori, warga mengaku masih sering menemukan bom maupun proyektil aktif yang tertimbun di dalam air pinggiran pantai.
Ironisnya, beberapa oknum warga bahkan secara sengaja mencari bom atau proyektil aktif sisa Perang Dunia II. Mereka menggunakan metode yang sangat berisiko, yaitu dengan menggunakan kawat berdiameter sekitar 6 mm dan panjang 50 cm hingga satu meter. Kawat ini ditusuk-tusukkan ke dalam pasir. Ketika kawat mengenai benda logam atau besi, gesekan yang terasa menjadi indikasi adanya benda terkubur. Selanjutnya, mereka akan menggali untuk mengambil bom atau proyektil yang ditemukan.
“Biasa itu dong pake besi tusuk-tusuk di dalam pasir sambil rasa. Kalo kena besi, itu langsung gale untuk cek karena bisa jadi itu bom,” ungkap seorang warga yang enggan namanya disebutkan, menggambarkan praktik berbahaya yang kerap terjadi.
Praktik ini sangat mengkhawatirkan dan menunjukkan minimnya kesadaran akan bahaya yang mengintai, serta perlunya edukasi dan pengawasan yang lebih ketat dari pihak berwenang.
Program Pembangunan Nelayan: Evaluasi dan Perbaikan
Menelisik lebih jauh, pada tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor telah mengusulkan 25 lokasi baru untuk program nelayan merah putih. Program ini merupakan kelanjutan dari keberhasilan program sebelumnya, termasuk peresmian dua KALAMO (Kampung Nelayan Modern) di Kampung Samber dan Kampung Binyeri, Distrik Yendidori, pada 23 November 2023. Di lokasi-lokasi tersebut, telah dibangun berbagai fasilitas penting, seperti:
- Dermaga tambatan kapal
- Pabrik es dan cold storage
- Tempat pelelangan ikan
- Bengkel kapal
- Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBBN)
- Balai pelatihan untuk peningkatan kapasitas sumber daya nelayan
Fasilitas-fasilitas ini dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan para nelayan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah pesisir. Namun, tragedi di Kampung Yenures menjadi pengingat bahwa keberhasilan program-program ini sangat bergantung pada jaminan keselamatan dan keamanan lingkungan tempat program tersebut dijalankan.
Insiden ledakan bom aktif ini harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap seluruh proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di wilayah pesisir Papua. Pengabaian terhadap potensi bahaya sisa-sisa perang dapat berakibat fatal dan merusak citra program-program pembangunan yang telah dicanangkan. Sudah saatnya pendekatan pembangunan yang komprehensif, yang mengintegrasikan aspek keselamatan, lingkungan, dan sosial, menjadi prioritas utama.






