Erupsi gunung api bawah laut yang terjadi di Laut Bismarck, Papua Nugini, pada Mei lalu menjadi perhatian dunia. Video yang direkam oleh nelayan menunjukkan kepulan asap yang menggelegar, gelombang air laut yang kencang, dan permukaan laut yang berubah menjadi hitam akibat material vulkanik yang keluar.
Meskipun letusan ini tidak sebesar erupsi Krakatau 1883 atau Hunga Tonga-Hunga Ha’apai pada 2022, kejadian ini kembali mengingatkan masyarakat akan risiko yang ditimbulkan oleh gunung api bawah laut. Terutama bagi Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik dan memiliki wilayah perairan yang luas.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa jumlah gunung api di dasar laut jauh lebih banyak dibandingkan yang ada di daratan. Sekitar 75 persen aktivitas vulkanik bumi terjadi di bawah laut, meski sering kali tidak terlihat dari permukaan. Hal ini membuat pengawasan dan pemantauan terhadap gunung api bawah laut menjadi sangat penting.
Di Indonesia, Badan Informasi Geospasial mencatat sedikitnya 11 gunung api bawah laut. Empat di antaranya dikategorikan sebagai aktif, yaitu:
- Gunung Baruna Komba di Laut Flores
- Gunung Maselihe dan Banua Wuhu di Laut Sulawesi
- Gunung Hobal di Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur
Dampak dari erupsi gunung api bawah laut sangat bergantung pada besar letusan, kedalaman sumber erupsi, serta lokasinya. Secara umum, letusan dapat menyebabkan kematian biota laut akibat perubahan suhu air secara mendadak, paparan gas vulkanik, atau endapan material yang menutupi dasar laut. Terumbu karang dan habitat laut lainnya juga bisa rusak karena tertutup oleh endapan vulkanik.
Material vulkanik dan cairan panas yang dilepaskan ke laut juga dapat memengaruhi kualitas air. “Selain membuat air mengeruh, material letusan dapat meningkatkan keasaman air laut,” kata pelaksana tugas kepala badan geologi Kementerian ESDM, Lana Saria.
Dalam kondisi tertentu, seperti jika letusan bersifat eksplosif dan memicu longsoran bawah laut yang besar, erupsi bahkan dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, dampaknya tidak selalu negatif. “Material vulkanik dapat membawa unsur hara yang pada periode tertentu dapat meningkatkan produksi perairan,” ujarnya.
Kedalaman letusan juga memengaruhi dampaknya. Semakin dangkal lokasi letusan, semakin besar kemungkinan terjadinya ledakan kuat yang terlihat hingga ke permukaan laut. Menurut Volcanoes Database, kedalaman sekitar 200-300 meter menjadi batas penting yang membedakan karakter letusan bawah laut.
Pada kedalaman yang lebih dangkal dari itu, tekanan air laut tidak cukup kuat untuk menahan gas dalam magma. Akibatnya, magma dapat meledak hebat saat bertemu dengan air laut dan menghasilkan semburan abu vulkanik yang besar. Sebaliknya, pada kedalaman yang lebih dalam, tekanan air laut yang tinggi menekan gas dalam magma sehingga letusan cenderung lebih tenang.
Salah satu contoh paling terkenal adalah letusan gunung api bawah laut Hunga Tonga-Hunga Ha’apai di Tonga pada Januari 2022. Letusan ini terjadi sangat dekat dengan permukaan laut, menghasilkan ledakan luar biasa besar. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Communications Earth & Environment menemukan bahwa letusan tersebut menyemburkan abu vulkanik dan uap air hingga ketinggian sekitar 57 kilometer ke atmosfer.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar gunung api. Abu vulkanik yang terlontar ke laut mengendap hingga puluhan bahkan ratusan kilometer dari lokasi letusan. Penelitian menemukan lapisan abu setebal sekitar 80 sentimeter hingga 1,5 meter menutupi sejumlah kawasan dasar laut di Cekungan Lau, yang berjarak sekitar 83-222 kilometer dari pusat erupsi.
Kawasan yang tertutup abu tersebut merupakan habitat berbagai hewan laut dalam, termasuk kerang dan siput yang hidup di sekitar sumber air panas alami di dasar laut. Banyak organisme ini ditemukan mati setelah habitatnya tertimbun material vulkanik.
Selain menimbun dasar laut, abu vulkanik juga membawa berbagai unsur kimia. Sebagian unsur dapat bersifat racun bila konsentrasinya terlalu tinggi, terutama bagi plankton dan organisme kecil lainnya. Namun, ada pula unsur seperti besi dan fosfor yang dapat berfungsi sebagai pupuk alami bagi fitoplankton, yaitu organisme mikroskopis yang menjadi dasar rantai makanan laut.
Karena itu, dampak abu vulkanik terhadap ekosistem laut tidak selalu sama. Dalam jangka pendek, letusan dapat merusak habitat dan mematikan organisme. Namun dalam kondisi tertentu, unsur hara yang dibawa abu juga dapat meningkatkan produktivitas perairan.
Sementara itu, letusan yang terjadi jauh lebih dalam umumnya tidak menghasilkan ledakan besar. Meski demikian, dampaknya tetap signifikan. Aliran lava yang keluar di dasar laut dapat menutupi area yang luas dan memusnahkan berbagai organisme yang hidup di atasnya. Seiring waktu, area tersebut biasanya akan dihuni kembali oleh kehidupan laut dan membentuk ekosistem baru.





