Pasar Beringharjo Tetap Jadi Destinasi Favorit Wisatawan Saat Libur Lebaran
YOGYAKARTA – Pasar Beringharjo, sebuah ikon belanja legendaris di jantung Kota Yogyakarta, kembali membuktikan pamornya sebagai destinasi utama para wisatawan yang ingin merasakan denyut nadi kearifan lokal dan berburu oleh-oleh khas saat momen libur Lebaran. Antusiasme pengunjung terpantau meningkat tajam menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah, menjadikan pasar tradisional ini semakin ramai dan hidup.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, mengonfirmasi tren positif ini. Menurut catatannya, pada tanggal 21 Maret 2026, Pasar Beringharjo telah dikunjungi oleh sekitar 6.000 hingga 7.000 wisatawan. Angka ini merupakan indikasi awal dari lonjakan minat yang akan terjadi.
Puncak keramaian pengunjung tercatat pada tanggal 23 Maret 2026. Pada hari itu, Pasar Beringharjo diserbu oleh total 17.248 orang. Angka yang mengesankan ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik pasar tradisional ini, bahkan di tengah gempuran pusat perbelanjaan modern.
“Kami sangat berharap antusiasme wisatawan ini dapat terus terjaga hingga akhir pekan mendatang. Yogyakarta memang selalu memiliki pesona tersendiri, dikenal sebagai kota yang setiap harinya terasa seperti liburan. Aktivitas wisata selalu hidup di sini, apa pun momennya,” ujar Ambar, optimis.
Saat ini, jumlah pengunjung Pasar Beringharjo dilaporkan masih stabil di kisaran 15.000 hingga 17.000 orang per hari. Meskipun angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan puncak libur Tahun Baru yang pernah mencapai lebih dari 21.000 pengunjung, namun tetap tergolong sangat tinggi dan menunjukkan geliat ekonomi yang luar biasa di sektor pariwisata dan perdagangan lokal.
Daya tarik Pasar Beringharjo tidak hanya terletak pada ragam barang yang ditawarkan, tetapi juga pada pengalaman otentik yang didapatkan pengunjung. Mulai dari batik tulis dan cap dengan motif yang beragam, pakaian jadi, kerajinan tangan, hingga kuliner khas Yogyakarta yang menggoda selera, semuanya dapat ditemukan di sini dengan harga yang bersaing. Suasana pasar yang riuh rendah, interaksi dengan para pedagang, dan aroma rempah-rempah yang khas menciptakan pengalaman belanja yang tak terlupakan.
Selain Pasar Beringharjo, lonjakan kunjungan wisatawan juga turut mendongkrak popularitas pasar-pasar tradisional lainnya di Yogyakarta.
Pasar-Pasar Tradisional Lain yang Juga Dibanjiri Pengunjung:
Pasar Kranggan: Pasar ini mencatatkan jumlah pengunjung yang signifikan, mencapai 9.478 orang selama periode libur Lebaran. Pasar Kranggan dikenal sebagai surga bagi para pencari hasil bumi segar, rempah-rempah, dan berbagai kebutuhan pokok sehari-hari dengan kualitas yang baik dan harga terjangkau. Suasananya yang lebih tenang dibandingkan Beringharjo seringkali menjadi pilihan bagi pengunjung yang mencari ketenangan saat berbelanja.
Pasar Ngasem: Pasar yang satu ini juga tidak kalah ramai, dengan total 8.222 pengunjung tercatat. Pasar Ngasem memiliki ciri khas tersendiri, terutama bagi mereka yang mencari berbagai jenis burung, ikan hias, serta perlengkapan akuarium. Pasar ini menjadi destinasi menarik bagi para pecinta hewan dan hobi, menawarkan keragaman jenis dan warna yang memanjakan mata.
Fenomena tingginya kunjungan ke pasar-pasar tradisional ini menunjukkan bahwa warisan budaya dan tradisi lokal masih memegang peranan penting dalam menarik minat wisatawan. Pasar-pasar ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai ruang sosial dan budaya yang merefleksikan kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Perdagangan terus berupaya untuk menjaga dan meningkatkan kualitas serta kenyamanan pasar-pasar tradisional ini. Upaya revitalisasi, penataan pedagang, serta promosi terus dilakukan agar pasar-pasar ini tetap relevan dan mampu bersaing di era modern, sekaligus menjadi kebanggaan bagi masyarakat Yogyakarta dan daya tarik utama bagi para pelancong dari berbagai penjuru negeri. Libur Lebaran kali ini kembali membuktikan bahwa pesona pasar tradisional Yogyakarta tak lekang oleh waktu.




