Lubang Raksasa Aceh Tengah: 3 Hektare, Pemkab Usul Jalan Baru ke PU

Lubang Raksasa di Aceh Tengah Meluas, Pemerintah Pusat Turun Tangan

Fenomena alam yang mengkhawatirkan tengah terjadi di Aceh Tengah, di mana sebuah lubang raksasa dilaporkan terus meluas dan kini telah mencapai luas tiga hektare. Peristiwa ini tidak hanya menjadi perhatian pemerintah daerah, tetapi juga telah menarik perhatian serius dari pemerintah pusat. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah dikirimkan ke Aceh Tengah untuk meninjau langsung kondisi terkini dan merumuskan langkah penanganan yang efektif.

Dampak langsung dari fenomena alam ini sudah terasa. Salah satu infrastruktur vital, yaitu jalan yang menghubungkan Kampung Buter dengan Kampung Pondok Balik di Kecamatan Ketol, kini telah rusak parah dan tidak dapat dilalui akibat dimakan oleh lubang raksasa tersebut. Kondisi ini tentu saja mengganggu aktivitas masyarakat dan kelancaran transportasi di wilayah tersebut.

Menghadapi situasi darurat ini, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Aceh Tengah telah proaktif mengusulkan sejumlah opsi penanganan, terutama terkait pembangunan jalan alternatif. Tiga opsi strategis telah diajukan untuk mengantisipasi perluasan lubang dan memastikan konektivitas wilayah tetap terjaga. Rencananya, penanganan skala besar dan penentuan solusi permanen akan dilakukan oleh Kementerian PUPR setelah kajian teknis mendalam.

Opsi Jalan Alternatif: Mitigasi Jangka Pendek yang Mendesak

Kepala Dinas PU Aceh Tengah, Pijas Visara, menjelaskan bahwa upaya mitigasi awal telah dimulai dengan pembangunan jalan alternatif. Salah satu opsi yang paling mendesak telah mulai dikerjakan, yaitu pembangunan jalan alternatif sepanjang 1.200 meter yang lokasinya tidak jauh dari jalan utama yang telah rusak.

“Awalnya kita sudah tawarkan tiga opsi untuk mitigasi yang dilakukan khusus relokasi jalan. Salah satu opsi itu sudah dikerjakan, yaitu dibuatnya jalan alternatif sepanjang 1.200 meter, tidak jauh dari jalan utama yang rusak,” ujar Pijas.

Saat ini, pembangunan jalan alternatif tersebut sudah memasuki tahap pengerasan. Pekerjaan ini dilakukan secara paralel, bahkan sebelum lubang raksasa tersebut sepenuhnya melahap badan jalan utama di Kampung Pondok Balik. Langkah ini diambil untuk meminimalkan gangguan terhadap mobilitas masyarakat.

Rencana Penanganan oleh Kementerian PUPR

Pijas Visara menegaskan bahwa penanganan lubang raksasa ini pada akhirnya akan menjadi tanggung jawab Kementerian PUPR. Saat ini, proses kajian teknis dan perencanaan solusi permanen tengah berjalan di tingkat kementerian.

“Intinya, lubang itu akan ditangani kementerian PU, sekarang sedang berproses. Secara teknis sedang dalam kajian kementerian. Tetapi, persiapan sudah dilakukan BPJN Aceh sebelum menteri datang kemarin,” ungkap Pijas. Kesiapan dari Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Aceh menunjukkan bahwa koordinasi dan persiapan awal telah dilakukan sebelum kunjungan menteri, menandakan keseriusan penanganan masalah ini.

Opsi Jalan Alternatif Tambahan dan Antisipasi Perluasan

Selain jalan alternatif yang sedang dibangun, Dinas PU Aceh Tengah juga telah menyiapkan dua opsi tambahan. Opsi-opsi ini akan dipertimbangkan jika jalan alternatif yang sedang dikerjakan tersebut kembali terancam atau rusak akibat perluasan lubang raksasa yang tidak terduga. Opsi-opsi ini meliputi:

  • Jalan Gelumpang Payung – Pondok Balik, Kecamatan Ketol: Opsi ini diajukan sebagai alternatif kedua. Pilihan ini mempertimbangkan potensi perluasan lubang yang mencapai 40-50 meter ke arah jalan alternatif yang pertama. Jalan Gelumpang Payung – Pondok Balik merupakan jalur lama yang sebelumnya telah berfungsi sebagai penghubung antara Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Lokasinya yang berada di bawah bukit, dekat dengan area longsoran dan aliran Sungai Peusangan, memerlukan kajian lebih lanjut terkait stabilitasnya.

  • Jalur Jembatan Segene Balik: Opsi ketiga yang ditawarkan adalah melalui jembatan Segene Balik. Jalur ini dianggap sebagai pilihan yang paling aman jika lubang terus meluas secara signifikan. Namun, implementasi opsi ini memerlukan beberapa pekerjaan tambahan, yaitu perbaikan jalan sepanjang lima kilometer dan pembangunan kembali jembatan yang rusak. Jembatan Segene Balik, yang juga melintasi aliran Sungai Peusangan, mengalami kerusakan parah akibat banjir dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025 lalu. Perbaikan jembatan ini menjadi krusial untuk membuka kembali jalur alternatif tersebut.

Dengan adanya tiga opsi jalan alternatif ini, pemerintah daerah menunjukkan kesiapan mereka dalam menghadapi berbagai skenario yang mungkin timbul dari fenomena alam yang sulit diprediksi ini. Koordinasi yang erat antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat diharapkan dapat menghasilkan solusi yang komprehensif dan memastikan keselamatan serta kelancaran aktivitas masyarakat di Aceh Tengah.

Pos terkait