Mahasiswa DKV Harkat Negeri: Ngabuburit Film Dokumenter Tegal

Perhelatan Ngabuburit Film Dokumenter: Geliat Mahasiswa DKV dalam Mengangkat Isu Sosial

Tegal – Suasana sore yang hangat di Trus Sport Center, Kota Tegal, pada Selasa (10/3/2026) menjadi saksi bisu dari sebuah perhelatan yang tak biasa. Mahasiswa Program Studi D3 Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Harkat Negeri menggelar sebuah kegiatan ngabuburit yang berbeda dari biasanya: pemutaran film dokumenter. Acara ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang apresiasi terhadap karya para mahasiswa, tetapi juga menjadi panggung diskusi publik yang membuka cakrawala tentang berbagai isu sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat Kota Tegal dan sekitarnya.

Kegiatan ini secara khusus menampilkan enam film dokumenter yang merupakan hasil karya mahasiswa semester 3. Film-film tersebut merupakan tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Sinematografi I, sebuah bukti nyata dari proses belajar dan kreativitas yang telah mereka curahkan.

Ragam Kisah dalam Lensa Dokumenter

Keenam film yang diputar menyajikan narasi yang beragam, menggali kedalaman kehidupan masyarakat Tegal dan sekitarnya. Judul-judul film yang diangkat mencerminkan kepedulian dan kepekaan mahasiswa terhadap realitas di sekitar mereka.

Berikut adalah daftar film yang diputar:

  • Pak Ogah: Pahlawan Lalu Lintas yang Jarang Dilihat
    Film ini menyoroti sosok “Pak Ogah” yang kerap ditemui di pinggir jalan, membantu mengatur lalu lintas tanpa pamrih.
  • Kopi di Tanah Slamet
    Mengupas tuntas kehidupan para petani kopi yang berjuang di lereng Gunung Slamet, menampilkan proses produksi kopi dari hulu ke hilir.
  • Malam Menjadi Rumah
    Sebuah dokumenter yang mengangkat kisah menyentuh tentang kehidupan para pengamen waria, membuka pandangan baru terhadap profesi yang seringkali terpinggirkan.
  • Jejak di Bahu Jalan
    Fokus pada kehidupan para tukang parkir, merekam keseharian mereka yang penuh tantangan di bahu jalan.
  • Fatherless
    Menggambarkan realitas anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah, mengeksplorasi dampak psikologis dan sosial dari ketidakhadiran tersebut.
  • Masih Relevankah? Tegal Jepangnya Indonesia
    Sebuah eksplorasi kritis terhadap hubungan antara Tegal dengan Jepang, mempertanyakan relevansi dan makna warisan budaya.

Apresiasi dan Harapan untuk Geliat Perfilman Lokal

Robby Hardian, Ketua Program Studi D3 DKV Universitas Harkat Negeri, memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh mahasiswa yang terlibat. Ia menilai karya-karya dokumenter yang dihasilkan memiliki kualitas kritis dan sangat dekat dengan realitas sosial yang ada di masyarakat.

“Dengan adanya kegiatan seperti ini, kami berharap dapat menumbuhkan budaya perfilman yang lebih kuat di Kota Tegal,” ujar Robby. “Ini juga menjadi langkah positif untuk mendorong mahasiswa agar terus berkarya, lebih peka terhadap isu-isu sosial di sekitar mereka, dan mampu menyajikan perspektif baru melalui karya-karya mereka.”

Senada dengan Robby, dosen pengampu mata kuliah Sinematografi I, Dewi Rahmawati, menjelaskan bahwa pemutaran film dokumenter ini merupakan salah satu upaya strategis untuk mengembalikan karya mahasiswa ke ruang publik. Ia menekankan bahwa film-film yang dihasilkan bukan sekadar tugas akademik semata, melainkan memiliki nilai pengetahuan yang berharga dan dapat dibagikan kepada masyarakat luas.

“Karya-karya ini adalah hasil riset mendalam dan proses belajar yang panjang. Melalui sesi pemutaran dan diskusi seperti ini, kami ingin pengetahuan yang terkandung di dalamnya dapat terserap dan menjadi inspirasi bagi banyak orang,” tutur Dewi.

Lebih lanjut, Dewi menambahkan bahwa kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran yang komprehensif bagi para mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar tentang proses produksi film, tetapi juga dilatih untuk mengelola sebuah acara pemutaran, membangun dialog yang konstruktif dengan penonton, serta turut serta dalam menghidupkan ekosistem diskusi film dokumenter, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.

Mengupas Lebih Dalam Beberapa Karya Unggulan

Di antara keenam film yang diputar, beberapa di antaranya berhasil mencuri perhatian penonton dan memicu diskusi yang hangat.

Salah satu film yang paling banyak dibicarakan adalah “Pak Ogah: Pahlawan Lalu Lintas Tak Terlihat”. Sutradara film ini, Arya Hidana, menceritakan bahwa film dokumenternya merekam fenomena keberadaan sosok “Pak Ogah” yang dengan sukarela membantu mengatur arus lalu lintas di Jalan Pahlawan, Kota Tegal.

Arya berharap film ini dapat memberikan sudut pandang yang lebih luas dan objektif terhadap sosok Pak Ogah, yang selama ini kerap dipandang negatif oleh sebagian masyarakat. “Kami ingin menunjukkan bahwa di balik penampilan mereka, ada niat tulus untuk membantu mengurai kemacetan dan menciptakan kelancaran lalu lintas. Film ini mengajak penonton untuk menilai ulang, apakah label ‘pengganggu’ atau ‘pahlawan’ yang lebih pantas disematkan kepada mereka,” ungkap Arya.

Film lain yang tak kalah menarik adalah “Kopi di Tanah Slamet”. Film ini membawa penonton menyelami kehidupan para petani kopi di lereng Gunung Slamet. Melalui pendekatan dokumenter ekspositori, film ini secara detail merekam seluruh proses panjang produksi kopi, mulai dari perawatan tanaman yang telaten, pemetikan biji kopi, hingga tahap pengolahan sebelum akhirnya menjadi minuman yang dinikmati oleh masyarakat luas.

Azmi, selaku ketua Himpunan Mahasiswa DKV, menjelaskan bahwa film ini ingin menampilkan keseharian para petani, hubungan erat mereka dengan alam, serta bagaimana perubahan musim memengaruhi hasil panen mereka. “Dengan sudut pandang yang sederhana dan dekat dengan aktivitas nyata di lapangan, film ini ingin menunjukkan bahwa secangkir kopi yang kita nikmati setiap hari adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan waktu, kerja keras, dan keterikatan mendalam antara manusia dengan lingkungannya,” papar Azmi.

Sementara itu, film “Fatherless” yang digarap oleh Nizar Maulana, mengangkat realitas kehidupan anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah. Melalui cerita dan pengalaman para narasumber yang menjadi subjek film, dokumenter ini berupaya menggambarkan secara mendalam bagaimana ketidakhadiran seorang ayah dapat membentuk karakter dan perjalanan hidup anak-anak tersebut. Film ini membuka ruang refleksi tentang pentingnya peran ayah dalam tumbuh kembang anak dan dampak jangka panjang dari ketiadaan figur tersebut.

Secara keseluruhan, perhelatan ngabuburit film dokumenter ini bukan hanya sekadar ajang unjuk karya, melainkan sebuah perayaan kreativitas mahasiswa yang berani mengangkat isu-isu penting dan menyajikannya dalam format yang menarik dan menggugah. Kegiatan semacam ini diharapkan dapat terus berlanjut dan semakin memperkaya khazanah perfilman dokumenter di Kota Tegal dan sekitarnya.

Pos terkait