Majalengka Percepat 3.000 Rumah Subsidi dengan Bantuan Industri Genteng Lokal



MAJALENGKA – Pemerintah Kabupaten Majalengka menetapkan target pembangunan 3.000 unit rumah subsidi sepanjang tahun 2026 sebagai upaya memenuhi kebutuhan hunian masyarakat sekaligus meningkatkan perekonomian lokal. Program ini dirancang untuk menyerap produk dari industri kecil menengah (IKM), khususnya genteng tanah liat yang berasal dari kawasan Jatiwangi.

Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (DKPP) Kabupaten Majalengka, Sidarta mengungkapkan bahwa target ambisius ini didasarkan pada capaian tahun lalu yang melebihi ekspektasi. “Pada 2025, realisasi pembangunan rumah subsidi mencapai 1.003 unit, melebihi target awal 1.000 unit. Ini menjadi dasar optimisme kami untuk meningkatkan target pada tahun ini,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Ia menjelaskan, hingga awal April 2026, terdapat 1.406 unit rumah yang sedang dalam proses pengembangan. Proyek tersebut dikerjakan oleh 44 pengembang yang aktif beroperasi di wilayah Majalengka. Pemerintah daerah terus mendorong percepatan pembangunan agar target tahunan dapat tercapai.

Namun, program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan hunian terjangkau. Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya efek berganda bagi perekonomian lokal melalui penggunaan material bangunan dari pelaku usaha setempat.

Salah satu langkah konkret yang didorong adalah program “gentengisasi”, yakni pemanfaatan genteng produksi lokal sebagai bahan utama atap rumah subsidi. Industri genteng dari Jatiwangi diprioritaskan untuk memasok kebutuhan ribuan unit rumah yang akan dibangun.

“Kami ingin memastikan pembangunan ini menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif. Selain menyerap tenaga kerja konstruksi, proyek ini juga menghidupkan UMKM dan pemasok material di sekitar lokasi pembangunan,” kata Sidarta.

Menurut dia, kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada efisiensi distribusi material, tetapi juga memperkuat identitas lokal Majalengka yang selama ini dikenal sebagai sentra industri genteng tanah liat.

Dukungan terhadap kebijakan ini juga datang dari kalangan pengembang. Salah satu pengembang yang terlibat dalam proyek perumahan subsidi menyebut penggunaan material lokal justru memberikan keuntungan dari sisi operasional.

“Penggunaan genteng lokal memudahkan kami dalam logistik. Jarak pengiriman lebih dekat, sehingga biaya distribusi bisa ditekan dan proses pembangunan menjadi lebih efisien,” ujarnya.

Di sisi lain, masyarakat merasakan langsung manfaat dari program tersebut. Wildan (34), salah seorang warga, mengaku terbantu dengan kehadiran rumah subsidi yang dinilai lebih terjangkau dibandingkan hunian komersial.

“Program ini sangat membantu kami untuk memiliki rumah layak. Selain itu, pembangunan di sekitar lingkungan juga membawa dampak ekonomi,” kata Wildan.

Ia menuturkan, aktivitas pembangunan perumahan telah mendorong tumbuhnya usaha kecil di sekitar lokasi proyek. Sejumlah warga mulai membuka warung makan dan jasa lainnya untuk memenuhi kebutuhan para pekerja konstruksi.

“Kondisi lingkungan jadi lebih hidup. Banyak peluang usaha baru bermunculan, sehingga ekonomi warga ikut bergerak,” ujarnya.

Pos terkait