Mars Pelangi: Saga Sutradara, Sekuel & IP Baru

Pelangi di Mars: Ambisi Upie Guava Membangun Semesta Sci-Fi Indonesia

Film fiksi ilmiah terbaru dari sutradara Upie Guava, Pelangi di Mars, bukan sekadar tontonan. Film ini membawa misi inspiratif yang mendalam, sebuah upaya ambisius untuk membangkitkan kembali semangat sci-fi era 90-an yang diyakini mampu membentuk generasi pemimpi. Dalam konferensi pers yang meriah di XXI Epicentrum pada Sabtu, 14 Maret 2026, Upie Guava menegaskan komitmennya: jika film ini sukses, ia akan mendedikasikan kariernya untuk mengembangkan semesta Pelangi di Mars.

1. Sebuah Proyek Ambisius dengan Sentuhan Teknologi Mutakhir

Pelangi di Mars merupakan proyek yang sangat ambisius bagi Upie Guava. Proses produksinya memakan waktu hingga lima tahun, sebuah rentang waktu yang cukup lama untuk sebuah film. Lebih dari itu, seluruh tim produksi harus mempelajari teknologi baru dari nol. Film ini mengusung konsep hybrid yang menggabungkan elemen live action dengan animasi dan teknologi Extended Reality (XR), sebuah pendekatan yang menantang namun menjanjikan pengalaman visual yang memukau.

Lebih dari sekadar medium hiburan, Upie Guava melihat Pelangi di Mars sebagai kendaraan untuk menyampaikan pesan penting. Ia ingin mengembalikan semangat genre sci-fi yang pernah berjaya di era 90-an. Generasi yang tumbuh pada masa itu, termasuk Upie sendiri, dibentuk oleh komik dan film ikonik seperti Star Wars, Jurassic Park, dan Tintin. Karya-karya tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar dan dorongan untuk menjelajahi dunia.

Menurut Upie, tingkat literasi sci-fi di sebuah negara dapat menjadi cerminan seberapa jauh masyarakatnya mampu bermimpi tentang masa depan. Dengan dominasi genre ini yang kini dipegang oleh Amerika Serikat, Jepang, dan belakangan China serta Korea Selatan, Upie melihat Pelangi di Mars sebagai peluang emas bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam genre ini sekaligus memupuk imajinasi generasi muda bangsa.

Kesungguhan Upie Guava dalam visinya terlihat dari pernyataannya. Ia berjanji, jika film ini berhasil meraih kesuksesan, ia akan mendedikasikan sisa kariernya untuk mengembangkan semesta Pelangi di Mars. “Saya bilang sama Dendi (produser Pelangi di Mars) kalau ini insya Allah sukses, saya mungkin akan mendedikasikan next career saya buat universe Pelangi di Mars. Mendampingi anak-anak supaya bangga jadi astronot, mendampingi anak-anak supaya pas besar, ‘Saya tumbuh bersama Robot Batik.’ Seperti orang Jepang bisa bangga tumbuh bersama Gundam,” ujar Upie di hadapan awak media, menggambarkan visi jangka panjangnya untuk menciptakan ikon budaya yang dapat dibanggakan generasi mendatang.

2. Pendekatan Jangka Panjang: Membangun Kekayaan Intelektual (IP)

Upie Guava menjelaskan bahwa Pelangi di Mars dirancang dengan pendekatan Intellectual Property (IP) jangka panjang sejak awal. Tim produksi tidak hanya fokus pada pembuatan film semata, melainkan membangun sebuah fondasi yang kokoh untuk pengembangan di masa depan.

“Kami percaya dari awal bahwa ini project harus panjang. Artinya, ini kita lakukan dengan kehati-hatian, dan terukur. Tiga tahun yang kami pakai untuk ngebangun infrastruktur pabrik teknologinya, bersamaan dengan kami ngebangun story dan universe-nya,” terang Upie.

Untuk mendukung ambisi ini, tim produksi telah menyiapkan berbagai elemen krusial. Mereka membangun bible cerita yang mendalam, mengembangkan universe yang kaya, serta menyusun buku sebagai landasan naratif. Dari sisi merchandise, mereka juga telah menciptakan berbagai versi LOD (Level of Detail) karakter, termasuk desain robot untuk adaptasi film maupun potensi adaptasi ke dalam bentuk game. Pendekatan desain yang menyeluruh ini mencerminkan strategi IP yang matang, di mana film hanyalah salah satu bagian dari ekosistem yang lebih besar. “Artinya, proses desain pun kita lakukan dengan pola pendekatan IP sebenarnya, bukan hanya film,” pungkas sutradara bernama asli Lutfie Abdullah ini.

3. Sekuel Menanti Sambutan Positif Penonton

Dendi Reynando, produser Pelangi di Mars, mengungkapkan bahwa diskusi mengenai sekuel film ini telah dimulai bersama Upie Guava. Rencana untuk melanjutkan kisah Pelangi di Mars melalui proyek sekuel sangat terbuka, asalkan film pertama mendapatkan sambutan yang positif dari masyarakat.

“Rencananya kita di 2028 yang kedua buatnya. Kalau mudah-mudahan ini diterima dengan baik ya. Mohon doanya,” ujar Dendi Reynando, penuh harap.

Pelangi di Mars dijadwalkan tayang sebagai film perayaan Lebaran 2026. Film ini akan membawa penonton mengikuti petualangan seru seorang anak bernama Pelangi, yang memiliki keistimewaan sebagai manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Planet Mars. Kisah ini diharapkan dapat membangkitkan imajinasi, memicu rasa ingin tahu, dan memberikan inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk bermimpi lebih besar tentang masa depan, baik di bumi maupun di luar angkasa.

Film ini tidak hanya memukau dari segi cerita dan teknologi, tetapi juga mencerminkan dedikasi dan kerja keras tim di baliknya. Upie Guava sendiri bahkan mengungkap bahwa tim Pelangi di Mars belajar secara mandiri dari platform seperti YouTube untuk menguasai berbagai aspek produksi yang kompleks. Kehadiran para artis ternama di gala premiere, seperti Raffi Ahmad sekeluarga, semakin menambah semarak dan perhatian publik terhadap film ini. Alasan Dendi Reynando memproduseri Pelangi di Mars pun sangat jelas, yakni keprihatinannya terhadap minimnya film berkualitas untuk anak-anak Indonesia. Melalui Pelangi di Mars, ia berharap dapat mengisi kekosongan tersebut dan memberikan tontonan yang mendidik sekaligus menghibur.

Pos terkait