Masjid Agung Darussalam Cilacap: Jantung Peradaban Islam di Pesisir Selatan Jawa Tengah
Masjid Agung Darussalam Cilacap berdiri megah sebagai salah satu ikon kebanggaan umat Islam di Kabupaten Cilacap. Berlokasi strategis di jantung kota, tepatnya di kawasan Alun-alun Cilacap, masjid ini bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang perkembangan dakwah Islam di wilayah pesisir selatan Jawa Tengah. Keberadaannya erat kaitannya dengan perjalanan penyebaran agama Islam di tanah Jawa, yang diyakini berakar dari aktivitas dakwah para wali dan murid-murid Walisongo.
Jejak Sejarah yang Tergerus Waktu
Menentukan usia pasti Masjid Agung Darussalam Cilacap menjadi tantangan tersendiri. Menurut Takmir sekaligus Imam Masjid Agung Darussalam, KH Muslihun Ashari, berbagai renovasi yang telah berlangsung selama puluhan tahun menyebabkan banyak literasi dan arsip lama hilang. “Secara pasti tanggal dan tahun berdirinya Masjid Agung Darussalam memang tidak bisa kami jelaskan karena sudah mengalami beberapa kali renovasi dan banyak data sejarah yang hilang,” ujar KH Muslihun Ashari.
Renovasi besar terakhir yang signifikan terjadi pada tahun 1998 dan rampung pada tahun 2000. Peristiwa ini turut menyebabkan sebagian besar catatan sejarah awal masjid tidak lagi tersimpan dengan baik. “Setelah renovasi terakhir itu banyak literasi lama yang mulai kabur karena para pendahulu sudah tidak ada dan arsipnya juga sebagian besar hilang,” jelasnya.
Satu-satunya petunjuk konkret yang tersisa mengenai usia masjid ini adalah ukiran pada beduk tua yang masih tersimpan rapi di dalam kompleks masjid. “Prasasti yang ada di beduk itu menjadi salah satu petunjuk yang bisa kami jadikan acuan untuk mengetahui sudah berapa lama masjid ini berdiri,” katanya.
Hilangnya sejumlah arsip sejarah juga diperparah dengan perpindahan kantor Kementerian Agama yang dulunya berada satu kawasan dengan Masjid Agung Darussalam. “Dulu area masjid ini satu kawasan dengan kantor Departemen Agama, sehingga saat kantor itu pindah banyak arsip yang ikut berpindah bahkan ada yang hilang,” ungkapnya.
Warisan Dakwah Para Wali
Meskipun data tertulisnya banyak yang hilang, KH Muslihun Ashari menyimpulkan dari cerita para sesepuh Cilacap bahwa berdirinya Masjid Agung Darussalam tidak terlepas dari proses penyebaran Islam yang dilakukan oleh murid-murid Walisongo, khususnya yang memiliki jalur dakwah dari Sunan Kalijaga. “Banyak cerita dari para orang tua dulu bahwa masjid ini berkaitan dengan penyebaran Islam oleh murid para wali, terutama yang memiliki garis dakwah dari Sunan Kalijaga,” tuturnya.
Filosofi Tata Letak dan Arsitektur Unik
Tata letak Masjid Agung Darussalam yang berada di dekat alun-alun dan pusat pemerintahan juga memiliki makna filosofis yang selaras dengan tradisi kota-kota Islam di Jawa. KH Muslihun Ashari menjelaskan, “Biasanya di kota-kota Jawa itu ada alun-alun di depan, masjid di satu sisi dan penjara di sisi lain, yang menggambarkan bahwa manusia selalu diberi pilihan antara jalan kebaikan atau keburukan.”
Keunikan Masjid Agung Darussalam Cilacap juga sangat kentara pada struktur bangunannya yang masih mempertahankan bentuk arsitektur tradisional Jawa dengan model atap joglo. Gaya arsitektur ini seringkali membuat masjid ini disandingkan dengan Masjid Agung Demak, yang juga dikenal sebagai salah satu pusat sejarah penyebaran Islam di Jawa. “Masjid Agung Darussalam ini masih menggunakan model joglo seperti Masjid Demak, berbeda dengan banyak masjid modern yang sudah menggunakan kubah besar,” jelasnya.
Ciri khas lain yang menjadikan masjid ini begitu istimewa adalah jumlah saka guru atau tiang utama yang jauh melebihi jumlah pada masjid pada umumnya. KH Muslihun Ashari menyebutkan, Masjid Agung Darussalam memiliki 20 saka guru yang melambangkan filosofi penting dalam ajaran Islam. “Biasanya masjid hanya memiliki empat saka guru, tetapi di Masjid Agung Darussalam ada 20 tiang utama yang melambangkan sifat wajib Allah dan sifat mustahil bagi Allah,” ungkapnya.
Meskipun struktur asli di dalamnya kini telah diperkuat dengan beton pasca-renovasi, tiang-tiang utama tersebut tetap dilapisi dengan kayu jati tua untuk menjaga nilai sejarah dan filosofi yang telah ada sejak dahulu. “Tiang beton itu kemudian ditutup dengan kayu jati lama agar tetap menjaga nilai sejarah dan filosofi yang ada sejak dahulu,” katanya.
Secara keseluruhan, jumlah tiang penyangga di dalam Masjid Agung Darussalam mencapai sekitar 36 tiang, namun 20 saka guru tersebut tetap menjadi simbol utama yang sarat makna. Keunikan arsitektur ini kerap menarik perhatian para tamu dari luar daerah yang berkunjung. “Banyak tamu yang datang ke sini mengatakan masjidnya bagus tetapi tiangnya banyak sekali, padahal itu justru simbol yang harus dijaga,” tutur KH Muslihun.
Pusat Kehidupan Keagamaan dan Identitas Lokal
Di tengah pesatnya perkembangan zaman, Masjid Agung Darussalam Cilacap terus kokoh menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekaligus ruang syiar Islam di wilayah perkotaan. KH Muslihun Ashari menilai, masyarakat Islam di Cilacap memiliki karakter yang unik karena hidup berdampingan harmonis dengan budaya pesisir dan tradisi lokal. “Karena Cilacap berada di wilayah pantai, maka masyarakatnya memiliki perpaduan antara tradisi Jawa dan Islam, misalnya adanya tradisi sedekah laut,” jelasnya.
Kehidupan keagamaan masyarakat Cilacap dinilainya terus berkembang dengan baik, terutama berkat banyaknya pondok pesantren yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten. “Cilacap termasuk daerah dengan jumlah pesantren yang cukup banyak di Jawa Tengah sehingga kehidupan keagamaannya juga cukup kuat,” katanya.
KH Muslihun menambahkan, dakwah Islam di Cilacap relatif mudah diterima masyarakat apabila dilakukan dengan pendekatan yang baik dan bijak. “Kalau pendekatan dakwahnya tepat, masyarakat Cilacap sangat terbuka dan mudah menerima pesan-pesan keagamaan,” ujarnya. Ia sendiri mengaku, hampir setiap hari memiliki jadwal untuk mengisi tausiyah di berbagai kegiatan keagamaan di wilayah Kota Cilacap, menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi. “Hampir setiap hari saya keluar untuk mengisi tausiyah atau pengajian di wilayah kota karena masyarakatnya sangat antusias,” katanya.
Bagi masyarakat Cilacap, Masjid Agung Darussalam bukan sekadar bangunan ibadah. Ia adalah simbol sejarah, pusat dakwah, dan identitas Islam yang tak ternilai di kota pesisir selatan Jawa Tengah. “Masjid Agung Darussalam ini bukan hanya tempat shalat, tetapi juga bagian dari sejarah perjalanan Islam di Cilacap yang harus terus dijaga,” pungkas KH Muslihun.




