Sebuah insiden tragis menggemparkan warga di Jalan Raya Rendang – Kubu, tepatnya di Banjar Temakung, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali, pada Minggu, 22 Maret 2026. Sebuah mobil jenis Daihatsu Terios berwarna hitam dengan nomor polisi DK 1437 ACB, dilaporkan terjun bebas ke jurang yang memiliki kedalaman diperkirakan mencapai 60 hingga 100 meter. Peristiwa nahas ini merenggut nyawa pengemudinya, I Gede Eri Setiawan (31 tahun), yang berasal dari Desa Tianyar.
Kronologi Kejadian dan Detail Kecelakaan
Menurut keterangan pihak kepolisian, kecelakaan tunggal ini terjadi sekitar pukul 17.00 Wita. Kendaraan yang dikemudikan oleh I Gede Eri Setiawan melaju dari arah selatan menuju utara, dari Rendang menuju Kubu. Saat tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP), pengemudi diduga kehilangan kendali atas laju kendaraannya. Akibatnya fatal, mobil tersebut terperosok dan terjun ke dalam jurang yang cukup dalam.
Kasi Humas Polres Karangasem, IPDA Nengah Artono, mengonfirmasi bahwa mobil tersebut terjun hingga ke dasar jurang. Kondisi kendaraan mengalami kerusakan parah dan ringsek akibat benturan keras saat jatuh.
Dugaan Penyebab Kecelakaan
Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan ini. Namun, berdasarkan informasi awal yang dihimpun, terdapat dugaan kuat bahwa pengemudi I Gede Eri Setiawan diduga mengonsumsi minuman keras sebelum mengemudikan kendaraannya. Dugaan ini muncul karena korban diketahui baru saja menghadiri undangan sebuah acara syukuran tiga bulanan di Desa Ban.
“Korban meninggal dunia di lokasi kejadian,” ujar IPDA Nengah Artono. Ia menambahkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan awal, korban mengalami sejumlah luka serius, termasuk luka robek pada dahi, luka lebam di tangan kanan, patah tulang pada kaki kiri dan kanan, serta luka robek pada kedua kakinya. Luka-luka ini menunjukkan betapa parahnya dampak kecelakaan yang dialami korban.
Dampak dan Upaya Penyelamatan
Mengetahui adanya kejadian tersebut, tim gabungan dari kepolisian dan elemen masyarakat segera bergerak menuju lokasi untuk melakukan upaya evakuasi. Medan jurang yang terjal dan curam menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelamat. Proses evakuasi jenazah korban dari dasar jurang membutuhkan waktu dan kehati-hatian ekstra mengingat kondisi medan yang berbahaya.
Kecelakaan tunggal yang terjadi di jalur Rendang – Kubu ini kembali menyoroti pentingnya kesadaran akan keselamatan berkendara, terutama di daerah pegunungan dengan kondisi jalan yang berkelok dan jurang di sisinya. Pihak kepolisian mengimbau kepada seluruh pengendara untuk selalu berhati-hati, mematuhi batas kecepatan, dan memastikan kondisi fisik serta mental prima sebelum berkendara. Penggunaan alkohol atau zat terlarang lainnya saat mengemudi sangat dilarang keras karena dapat berakibat fatal.
Peringatan dan Imbauan Keselamatan
Jalan Raya Rendang – Kubu merupakan salah satu jalur yang cukup sering dilalui oleh kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Meskipun pemandangannya indah, jalur ini memiliki karakteristik yang menantang dengan banyak tikungan tajam dan jurang di beberapa titik. Oleh karena itu, pengendara perlu meningkatkan kewaspadaan ekstra saat melintas di area ini.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan oleh pengendara meliputi:
- Kecepatan Kendaraan: Menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan dan batas kecepatan yang berlaku.
- Kondisi Pengemudi: Memastikan diri dalam kondisi fisik dan mental yang sehat, serta tidak dalam pengaruh alkohol atau obat-obatan terlarang.
- Kondisi Kendaraan: Melakukan pemeriksaan rutin terhadap kondisi kendaraan, termasuk rem, ban, dan lampu.
- Fokus Berkendara: Menghindari gangguan saat mengemudi, seperti penggunaan ponsel.
- Cuaca: Memperhatikan kondisi cuaca, terutama saat hujan yang dapat membuat jalanan licin.
Kejadian ini menjadi pengingat yang menyakitkan akan kerapuhan hidup dan pentingnya mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari tragedi serupa di masa mendatang. Pihak berwenang terus berupaya meningkatkan kesadaran keselamatan berkendara melalui berbagai kampanye dan sosialisasi, namun peran serta kesadaran individu tetap menjadi kunci utama dalam menciptakan kondisi lalu lintas yang aman bagi semua.




