Semangat Pantang Menyerah Para Perajin Tenggok Lansia di Boyolali
Di tengah hiruk pikuk modernisasi, masih ada denyut kehidupan tradisional yang bertahan di sudut-sudut desa. Salah satunya adalah kerajinan tangan tenggok, sebuah wadah anyaman bambu yang memiliki fungsi beragam, mulai dari tempat hasil panen hingga keperluan rumah tangga lainnya. Di Dukuh Sembung, Desa Canden, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, para lansia perajin tenggok menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Mereka terus berkarya meskipun dengan penghasilan yang terbilang sangat minim, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Salah satu sosok yang patut diapresiasi adalah Mbah Ayem, seorang perajin tenggok berusia lanjut. Dengan senyum tipis yang terpancar di wajahnya yang mulai termakan usia, Mbah Ayem dengan ramah menceritakan kondisi profesinya. “Nggih disyukuri mawon (ya disyukuri saja) buat makan sendiri,” ujarnya dengan nada pasrah namun penuh penerimaan. Penghasilan dari membuat tenggok memang jauh dari kata sejahtera. Namun, bagi Mbah Ayem dan rekan-rekannya yang sebaya, profesi ini menjadi satu-satunya sumber nafkah yang tersisa.
Realitas Penghasilan yang Minim
Proses pembuatan tenggok membutuhkan ketelatenan dan keahlian khusus. Bahan baku utamanya adalah bambu, yang harus dibeli dengan harga sekitar Rp15 ribu per batang. Dari satu batang bambu tersebut, maksimal dapat dihasilkan lima hingga enam buah tenggok, tergantung pada ukuran dan kualitas bambu yang digunakan. Namun, tantangan terbesar datang dari keterbatasan fisik para perajin lansia ini.
Dalam sehari, rata-rata mereka hanya mampu menyelesaikan satu hingga dua buah tenggok. Tenaga yang mulai terbatas, penglihatan yang kabur, serta tangan yang sering terasa pegal menjadi kendala utama. Tenggok yang telah jadi kemudian dijual kepada pengepul dengan harga Rp6 ribu per buah.
Mari kita coba hitung secara sederhana. Jika seorang perajin seperti Mbah Ayem berhasil membuat dua tenggok dalam sehari, penghasilan kotornya adalah sekitar Rp12 ribu. Namun, angka ini belum dikurangi biaya bahan baku. Dengan asumsi satu batang bambu seharga Rp15 ribu bisa menghasilkan enam tenggok, maka biaya bahan baku per tenggok adalah sekitar Rp2.500. Ini berarti, keuntungan bersih yang didapat per tenggok hanya berkisar Rp3.500.
Dengan demikian, dalam sehari, seorang perajin seperti Mbah Ayem paling banter hanya bisa membawa pulang keuntungan bersih sekitar Rp7 ribu hingga Rp10 ribu. “Buat beli beras satu kilo saja kurang,” tuturnya lirih, menggambarkan betapa tipisnya margin keuntungan yang mereka dapatkan.
Bertahan Bukan Karena Untung, Tapi Karena Keterampilan dan Kebutuhan
Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa para lansia ini tetap bertahan dalam profesi yang jelas-jelas tidak memberikan keuntungan finansial yang signifikan? Jawabannya ternyata lebih kompleks dari sekadar mencari nafkah.
Parinem (70), perajin tenggok lainnya di desa tersebut, mengungkapkan alasan mengapa ia dan teman-temannya terus menganyam bambu. “Kalau tidak bikin tenggok, ya tidak ada pemasukan sama sekali,” katanya dengan lugas. Usia yang sudah lanjut membuat mereka tidak lagi mampu melakukan pekerjaan kasar atau beralih ke profesi lain. Menganyam tenggok adalah satu-satunya keterampilan yang mereka kuasai sejak muda, sebuah warisan turun-temurun yang kini menjadi tumpuan hidup di masa senja.
Lebih dari sekadar sumber penghasilan, kegiatan menganyam tenggok juga berfungsi sebagai pengisi waktu dan penyeimbang mental. “Kalau tidak nganyam, saya malah sakit-sakitan. Pikiran kosong,” imbuh Parinem. Aktivitas fisik yang teratur, meskipun sederhana, ternyata memberikan dampak positif bagi kesehatan fisik dan mental mereka. Menganyam menjadi semacam terapi, menjaga pikiran tetap aktif dan terhindar dari rasa jenuh atau kesepian.
Tantangan dan Harapan
Para perajin tenggok lansia ini menghadapi berbagai tantangan, antara lain:
- Keterbatasan Fisik: Tenaga yang menurun, penglihatan yang memburuk, dan kondisi tubuh yang rentan membuat proses produksi menjadi lambat dan melelahkan.
- Modal Terbatas: Biaya pembelian bahan baku menjadi beban yang cukup berat mengingat penghasilan yang sangat minim.
- Harga Jual Rendah: Ketergantungan pada pengepul dengan harga yang ditetapkan membuat perajin sulit mendapatkan nilai jual yang layak atas karya mereka.
- Persaingan Pasar: Munculnya produk-produk pengganti yang lebih modern dan praktis dapat mengurangi permintaan terhadap tenggok tradisional.
Meskipun demikian, semangat mereka patut menjadi inspirasi. Keberadaan mereka menegaskan bahwa keterampilan tradisional masih memiliki nilai, bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun. Ada harapan agar kerajinan tenggok ini tidak punah dimakan zaman. Dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, dalam bentuk apresiasi, pelatihan, permodalan, hingga akses pasar yang lebih baik, kiranya dapat membantu para perajin lansia ini untuk terus berkarya dan menjaga kelestarian warisan budaya bangsa.
Kisah Mbah Ayem dan para perajin tenggok lainnya di Sambi, Boyolali, adalah pengingat bahwa di balik kesederhanaan hidup, tersimpan kekuatan semangat yang luar biasa. Mereka adalah penjaga tradisi yang gigih, membuktikan bahwa usia bukanlah halangan untuk terus berdaya dan berkontribusi.





