Sejarah Berdirinya Sate Klathak Pak Pong
Di Jalan Sultan Agung Nomor 18, Jejeran II, Kalurahan Wonokromo, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, aroma rempah masakan dari bahan utama domba/kambing tercium jelas. Di sana berdiri salah satu kuliner legendaris bernama Sate Klathak Pak Pong yang telah memanjakan lidah pelanggan selama lebih dari 29 tahun.
Dzakiron, pendiri Sate Klathak Pak Pong, menceritakan bagaimana usaha ini dimulai sejak 1997 dengan warung kecil dan sederhana. Bahkan, ia sempat mengontrak kios-kios untuk menjalankan usaha tersebut. Menurutnya, penamaan Sate Klathak Pak Pong tidak dilakukan secara asal-asalan.
Menurut Dzakiron, kuliner sate klathak sendiri sudah ada sejak kakek nenek moyang. Namun, nama “Pak Pong” diambil dari kisah pribadinya. Ia sering bangun tidur sampai siang hari, sehingga dikatakan ‘Jempong’. Dari kisah itu, akhirnya menjadi nama panggilan yang kemudian menjadi merek usaha kuliner yang hingga saat ini menjadi rezeki.
Perkembangan Usaha dan Menu yang Disajikan
Dulu, Dzakiron membuat dan menjual kuliner tersebut sendiri, hanya dibantu oleh satu atau dua orang. Namun, kini usaha tersebut telah berkembang dan memiliki tiga cabang, sehingga kini ia ditemani oleh lebih dari 100 karyawan untuk melayani penjualan Sate Klathak kepada konsumen.
Tidak ada resep khusus dalam membuat Sate Klathak. Masakan ini dibuat sesuai turun temurun, karena sejak dulu sudah ada banyak pedagang sate. Semua resep berasal dari orang tua, bukan dari dirinya sendiri.
Adapun macam-macam menu kuliner yang disajikan mulai dari Sate Klathak, sate kecap, tongseng, tengkleng, dan lain sebagainya. Harga yang ditawarkan pun mulai dari Rp20 ribuan hingga sekitar Rp37 ribu per porsi.
Penurunan Daya Beli Saat Lebaran 2026
Dalam kesempatan itu, Dzakiron juga menjelaskan bahwa daya beli konsumen terhadap kuliner sate klathak menurun pada momen Lebaran 2026. Bahkan, sejak Jumat (27/3/2026) kemarin, daya beli masyarakat dinilai mengalami penurunan drastis dan hampir menyentuh penjualan seperti hari-hari sebelumnya.
Ia mengaku belum bisa memastikan penyebab penurunan daya pembeli terhadap sate klathak. Akan tetapi, diperkirakan karena sudah mulai ramainya penjual kuliner serupa, sehingga berpotensi berdampak terhadap hasil jual di tempat usahanya.
“Mungkin juga karena Lebaran tahun ini masih sangat berdekatan dengan liburan akhir tahun 2025. Jadi, ya mungkin jumlah pemudik juga berkurang, wisata juga berkurang,” ucap dia.
Stok Domba dari Jawa Tengah
Pihaknya menyampaikan bahwa sampai saat ini, pasokan maupun stok kebutuhan domba masih aman. Namun, selama ini untuk kebutuhan konsumsi penjualan sate klathak di tempatnya masih disuplai dari Jawa Tengah.
“Kalau dari daerah Jogja saja, mungkin tidak bisa mencukupi. Jadi, kami masih disuplai dari Temanggung dan Wonosobo, Jawa Tengah,” kata Dzakiron.
Tidak Ada Rencana Ekspansi Ke Luar DIY
Untuk menjaga keaslian produk, sampai saat ini pihaknya belum berencana melakukan ekspansi ke luar DIY. Sebab, ia ingin agar wisatawan yang di luar Jogja yang ingin mencoba kuliner Sate Klathak Pak Pong langsung berkunjung ke Bantul.
“Memang sering saya dapat tawaran agar buka cabang usaha di luar daerah. Tapi, saya berpedoman Sate Klathak Pak Pong tetap ada di Jogja. Cuma kalau ke depan, anak-anak saya punya rencana ya saya tidak tahu,” tutup dia.





