Menginspirasi Strategi Bisnis Kuliner dalam Membangkitkan Dampak Sosial melalui Pemberdayaan Lansia

Lansia Tetap Produktif dengan Bekerja di Industri Kuliner

Lansia tidak hanya bisa menjadi penerima manfaat dari masyarakat, tetapi juga bisa menjadi pelaku aktif yang memberikan kontribusi nyata. Di industri kuliner, lansia bisa tetap produktif dengan menjalani pekerjaan layaknya mereka yang lebih muda. Dengan menghadirkan pengalangan yang tepat, para lansia bisa merasa dihargai dan terdorong untuk terus belajar serta mengembangkan keterampilan mereka.

Di Jakarta, sebuah rumah makan bernama Uma Oma Heritage menunjukkan bagaimana lansia bisa berkontribusi dalam lingkungan bisnis yang profesional. Restoran ini berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dan memiliki konsep unik yang menggabungkan kehangatan dengan kenyamanan. Visi yang diusung oleh Uma Oma Group adalah menciptakan dampak sosial yang luas melalui bisnis kuliner.

Firhan Salam, Co-Founder Uma Oma Group, menjelaskan bahwa sejak awal membangun bisnis ini, dia ingin menjalankan visi yang berdampak sosial. Restoran ini mempekerjakan banyak lansia, baik dalam urusan dapur maupun pelayanan kepada tamu. Firhan bukan orang asing di dunia kuliner; sebelumnya ia telah mendirikan Uma Oma Cafe di kawasan Blok M Jakarta Selatan. Kini, Uma Oma Heritage merupakan perluasan bisnis dari kafe tersebut.

Konsep yang dipilih oleh Uma Oma Heritage adalah restoran masakan Nusantara dengan citarasa yang otentik. Ambience yang dihadirkan membuat pengunjung merasa seperti makan di rumah nenek, dengan suasana ruangan yang nyaman dan hangat. Konsep ini diberi nama “Warisan Rasa, Hangat Serasa di Rumah Nenek.”

Sebelum memantapkan konsep ini, Firhan dan timnya melakukan riset dengan mengeksplorasi beragam kuliner lokal di Nusantara. Hasil riset ini kemudian dikurasi dan dihadirkan dalam bentuk menu makanan yang menyajikan rasa autentik namun disajikan secara elegan.

Pelibatan lansia di Uma Oma Heritage diharapkan menjadi gerakan sosial yang terus berkembang. Pendekatan ini menegaskan komitmen bisnis kulinernya untuk menciptakan dampak nyata di masyarakat. Dengan melibatkan lansia dalam ruang publik, mereka bisa merasa dihargai dan bersemangat untuk terus berkontribusi dalam lingkungan yang profesional dan suportif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk lansia diproyeksikan mencapai sekitar 65 juta jiwa pada tahun 2045. Dengan melihat besarnya usia masyarakat lansia saat ini, melibatkan mereka bekerja di ruang publik dinilai semakin relevan. Ini membuka peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan berdaya.

Salah satu contohnya adalah Oma Masliah, yang bertugas menyambut tamu, mengatur reservasi, dan mengarahkan tamu ke meja dengan ramah. Tugas ini membuatnya kembali semangat untuk tetap aktif di usia lanjut melalui interaksi dengan banyak orang setiap harinya. Begitu juga dengan Oma Juwita, yang sebelumnya aktif sebagai pekerja sosial dan kini harus tampil hangat dalam melayani tamu.

Oma Lauren, lansia yang di masa mudanya pernah menjadi atlet bulutangkis, juga merasakan energi dan semangat baru dalam menjalani hari-harinya yang selalu dituntut aktif dan ramah. “Kami merasa dihargai, dipercaya, dan bisa kembali berbagi apa yang selama ini kami miliki, baik melalui masakan maupun cerita,” ujarnya.

Dengan bergabung di industri kuliner, lansia seperti Oma Masliah, Oma Juwita, dan Oma Lauren didorong untuk terus belajar dan mengembangkan skill. Mereka merasa memiliki ruang yang tepat untuk berkontribusi dan memberikan pengalaman yang personal kepada pengunjung.

Pos terkait