Cadangan BBM Nasional Aman, Pemerintah Pastikan Kebutuhan Lebaran Terpenuhi
Keresahan publik mengenai cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional yang dilaporkan hanya berkisar antara 20 hingga 23 hari mulai terjawab. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, memberikan pernyataan tegas untuk meredakan kekhawatiran tersebut, memastikan bahwa stok BBM saat ini masih sangat aman dan memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama selama periode arus mudik dan balik Lebaran 2026.
Pernyataan Dudy ini merespons isu yang berkembang di masyarakat mengenai ketahanan pasokan BBM. Ia menjelaskan bahwa angka 20 hingga 23 hari cadangan bukanlah indikasi bahwa stok akan habis dalam periode tersebut. Sebaliknya, angka tersebut merepresentasikan batas minimum cadangan yang harus senantiasa dijaga oleh badan usaha penyalur energi.
“Memang 21 hari itu sebenarnya mengukur storage-nya. Kalau lebih kita tidak bisa menampung,” ungkap Dudy, menjelaskan bahwa angka tersebut adalah batas teknis penyimpanan yang telah ditetapkan. Ia menegaskan bahwa cadangan ini bukanlah stok yang dibiarkan berkurang hingga nol.
Pertamina dan ESDM Siap Menambah Stok BBM
Lebih lanjut, Dudy, yang juga merupakan anggota Dewan Energi Nasional (DEN), menguraikan bahwa angka 21 hari cadangan memiliki makna strategis. Ini bukanlah batas akhir ketersediaan, melainkan sebuah buffer atau pengaman yang harus selalu dipelihara. Jika stok mulai mendekati batas minimum tersebut, Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah siap sedia untuk melakukan penambahan.
“Jadi 21 hari ini dimaknai bukan 21 hari habis, tapi kita harus me-maintain bahwa 21 itu adalah batas minimum yang harus kita sediakan. Jadi kalau misalnya nanti kemudian berkurang maka Pertamina dan ESDM itu akan menambah,” jelas Dudy. Mekanisme ini memastikan bahwa pasokan BBM selalu tersedia untuk masyarakat, bahkan ketika terjadi fluktuasi permintaan atau kendala pasokan.
Penambahan Stok BBM di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Isu mengenai penambahan stok BBM ini menjadi krusial mengingat situasi geopolitik global yang sedang memanas, khususnya di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran penting bagi pasokan minyak mentah dunia, akibat meningkatnya tensi antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Dudy mengakui bahwa pasokan minyak mentah yang melewati Selat Hormuz memang mencakup sekitar 20 persen dari kebutuhan global, dan Indonesia turut merasakan dampaknya. Namun, ia meyakinkan bahwa pemerintah dan badan usaha energi telah mengantisipasi hal ini. Terdapat jalur dan sumber pasokan alternatif yang tetap dapat diakses oleh Indonesia.
“Kalau saya lihat kemarin itu ada beberapa negara yang sepertinya tidak terlalu terdampak dari lokasi konflik. Ada beberapa negara yang sebagai pengekspor minyak masih bisa memenuhi kebutuhan kita,” ujar Dudy. Fleksibilitas dalam mencari sumber pasokan ini menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ketersediaan BBM di dalam negeri, terlepas dari gejolak di wilayah lain.
Pemerintah Imbau Masyarakat untuk Tidak Panik Buying

Menyikapi maraknya informasi yang beredar di media sosial mengenai potensi penutupan Selat Hormuz dan dampaknya terhadap pasokan BBM, pemerintah telah berulang kali meminta masyarakat untuk tidak melakukan panic buying. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, turut memberikan penegasan bahwa stok BBM nasional saat ini dalam kondisi aman dan jauh di atas standar minimal ketahanan energi yang ditetapkan.
Bahlil menjelaskan bahwa kapasitas penyimpanan (storage) BBM Indonesia yang berkisar antara 25 hari memang sudah menjadi karakteristik sistem cadangan energi nasional sejak lama. Kondisi ini bukanlah hal baru dan telah menjadi bagian dari strategi pengelolaan energi negara.
“Dari dulu kemampuan storage tempat penampung minyak kita memang sekitar 25 hari,” ungkap Bahlil saat ditemui di Jakarta pada Jumat, 6 Maret 2026. Ia menekankan bahwa angka ini adalah kapasitas penyimpanan, bukan berarti stok yang tersedia hanya untuk 25 hari.
Standar minimal ketahanan stok BBM nasional sendiri telah ditetapkan di atas 20 hari. Saat ini, dengan stok yang berada di kisaran 23 hari, Indonesia masih berada dalam batas aman yang sangat memadai.
“Sekarang minyak kita 23 hari. Artinya standar kepemilikan minyak kita itu aman. Jadi nggak perlu ada panik karena suplai lancar,” tegas Bahlil. Pernyataan ini diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi masyarakat dan mencegah tindakan pembelian berlebihan yang justru dapat mengganggu kelancaran pasokan. Pemerintah terus berupaya memastikan ketersediaan energi untuk seluruh masyarakat, terutama dalam momen-momen penting seperti perayaan hari besar keagamaan.




