Penjualan Bendera Negara Peserta Piala Dunia 2026 Mulai Ramai di Gorontalo
Menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026, yang akan digelar di 16 kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026, penjualan bendera negara peserta mulai ramai diburu oleh warga Gorontalo. Di Jalan HB Jassin atau eks Jalan Agus Salim, Kota Gorontalo, berjejer bendera dari berbagai negara peserta Piala Dunia sejak pagi hingga malam hari.
Warna biru putih milik Argentina hingga kuning hijau khas Brasil menjadi yang paling mencuri perhatian pembeli. Pantauan wartawan menunjukkan bahwa penjual bendera mulai ramai didatangi warga pada sore hingga malam hari. Berbagai ukuran bendera tampak berkibar di pinggir jalan dan menarik perhatian pengguna jalan yang melintas.
Ega (36), penjual bendera asal Jawa, mengaku penjualan mulai meningkat meski belum terlalu ramai. Menurut Ega, momen sepak bola dunia selalu membawa berkah tersendiri bagi penjual bendera. “Kalau sudah dekat perhelatan sepak bola biasanya mulai ramai. Satu minggu sebelum pertandingan itu penjualan lumayan meningkat dibanding hari-hari biasa,” ujar Ega kepada wartawan.
Pria yang berdomisili di Telaga Biru Gorontalo mengatakan, bendera yang dijual bukan diproduksi sendiri di Kota Gorontalo. Sebagian besar dikirim dari kampung halamannya yang memang memiliki penjahit khusus bendera. “Untuk bendera kebetulan dikirim dari kampung, ada yang menjahit di sana,” katanya.
Di lapaknya, tersedia berbagai ukuran bendera, mulai ukuran kecil untuk sepeda motor hingga ukuran jumbo yang biasa dipasang di depan rumah atau lokasi nonton bareng. Harga yang ditawarkan juga bervariasi tergantung ukuran. “Kalau ukuran motor mulai Rp10 ribu. Ada ukuran tanggung Rp35 ribu, ukuran sedang sampai Rp100 ribu. Yang besar ada Rp350 ribu sampai paling jumbo Rp650 ribu,” jelasnya.
Bendera berukuran kecil tampak paling banyak dicari pembeli karena dinilai lebih murah dan praktis dipasang di kendaraan. Sementara ukuran besar biasanya dibeli komunitas pecinta sepak bola atau warga yang ingin menghias rumah menjelang pertandingan.
Ega mengatakan, antusias masyarakat Gorontalo terhadap sepak bola cukup tinggi sejak beberapa tahun terakhir. Ia bahkan sudah berjualan bendera sepak bola sejak dua tahun lalu dan selalu merasakan peningkatan pembeli setiap ada turnamen besar. “Kalau event sepak bola dunia kan empat tahunan sekali. Jadi memang ada musimnya,” ucapnya.
Meski begitu, menurutnya penjualan tahun ini belum mengalami lonjakan signifikan seperti beberapa tahun sebelumnya. Ia menduga kondisi ekonomi masyarakat ikut memengaruhi daya beli. “Untuk pembelian sekarang mungkin karena pengaruh ekonomi juga, jadi belum ada peningkatan signifikan beda dengan tahun-tahun sebelumnya,” bebernya.
Selain menjual bendera di Jalan HB Jassin, Ega juga melayani penjualan secara online melalui marketplace. Bendera negara peserta Piala Dunia, pembeli lebih banyak datang langsung memilih ukuran dan jenis negara yang diinginkan. “Saya lebih banyak menunggu pembeli di sini, di jalan-jalan,” ucapnya.
Ega mengaku, bendera dua negara yang paling banyak diminati warga Gorontalo masih didominasi Argentina dan Brasil. Kedua negara itu selalu menjadi favorit masyarakat setiap musim turnamen internasional berlangsung. “Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, yang paling banyak keluar itu Argentina sama Brasil,” katanya.
Tantangan yang dihadapi yaitu faktor cuaca saat hujan turun, bendera yang dipajang di pinggir jalan kerap basah dan sulit dibereskan satu per satu. Meski demikian, Ega memilih tetap memasang dagangannya selama musim sepak bola berlangsung. “Kalau hujan memang repot. Mau dibereskan satu-satu ribet, nanti pasang lagi. Jadi biasanya dibiarkan saja selama perhelatan sepak bola,” ucapnya.
Ega mengaku saat ini dirinya mulai membuka lapak sejak pukul 08.00 Wita hingga 21.00 Wita. Jika turnamen sudah semakin dekat, jam operasional biasanya diperpanjang hingga larut malam karena pembeli semakin ramai. “Sekarang masih jam delapan pagi sampai jam sembilan malam. Nanti kalau sudah dekat mungkin buka dari jam enam pagi sampai jam sebelas malam,” ucapnya.
Di tengah ramainya warga memilih bendera, sesekali pengendara motor terlihat berhenti di pinggir jalan untuk melihat-lihat pajangan yang tergantung di depan lapak. Ada yang hanya bertanya harga, ada pula yang langsung membeli.
Ical Usman, warga Batudaa Pantai Gorontalo, mengaku sengaja datang jauh-jauh ke Kota Gorontalo demi mencari bendera Argentina. Ia mengaku kesulitan menemukan penjual bendera sepak bola di daerahnya sehingga memilih datang langsung ke pusat kota. “Saya cari bendera Argentina. Memang sengaja datang ke sini karena di tempat saya susah cari yang lengkap,” kata Ical.
Menurut dia, suasana menjelang turnamen sepak bola dunia selalu terasa berbeda. Bendera negara favorit mulai bermunculan di jalan hingga dipasang di kendaraan warga. “Kalau sudah begini suasananya beda. Orang-orang mulai pasang bendera negara favorit,” ujarnya.






