Mgr. Hans Monteiro: Pelayan, Bukan Pemilik Gereja

Mgr. Yohanes Hans Monteiro Ditahbiskan Menjadi Uskup Larantuka: Pelayanan, Bukan Kehormatan Pribadi

Larantuka, – Sebuah momen bersejarah dan penuh kekhidmatan terselenggara di Gereja Katedral Larantuka pada Rabu, 11 Februari 2026. Perayaan tahbisan episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Pr, sebagai Uskup Keuskupan Larantuka, menandai babak baru dalam perjalanan spiritual gereja lokal ini. Dalam sambutan perdananya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro dengan tegas menyampaikan bahwa penahbisan yang diterimanya bukanlah buah dari ambisi pribadi, melainkan sebuah panggilan suci dan rahmat ilahi yang dipercayakan melalui Gereja.

“Tahbisan episkopal ini bukan, pertama-tama, sebuah kehormatan pribadi, melainkan sebuah pelayanan yang dipersembahkan bagi Gereja,” ungkap Mgr. Yohanes dengan suara yang mantap namun penuh kerendahan hati. Ia menggarisbawahi bahwa peran sebagai seorang uskup bukanlah posisi yang ia kejar sendiri, melainkan suatu tugas yang diberikan sebagai wujud panggilan dan anugerah dari Allah melalui Gereja-Nya yang kudus.

Makna Mendalam Tahbisan Episkopal: Kesinambungan Para Rasul dan Kehadiran Kristus

Menariknya, Mgr. Yohanes merujuk pada ajaran Konsili Vatikan II untuk menjelaskan esensi dari tahbisan episkopal. Menurutnya, episkopat merupakan kepenuhan dari Sakramen Tahbisan yang secara langsung menempatkan seorang uskup dalam garis kesinambungan para rasul. Lebih dari itu, peran uskup adalah sebagai penanda kehadiran Kristus sendiri di tengah-tengah umat beriman. Melalui ritual penumpangan tangan dan doa tahbisan yang sakral, Gereja memohon agar Roh Kudus menganugerahkan rahmat dan kekuatan yang memadai bagi sang uskup. Rahmat ini penting agar ia mampu menjalankan tiga tugas utama: sebagai pengajar iman yang setia, pengurus umat yang penuh kasih, dan gembala yang membimbing kawanan domba Kristus.

“Dengan penahbisan ini, saya hadir bukan sebagai seorang pemilik Gereja, melainkan sebagai pelayan yang bertugas menjaga persekutuan, memelihara kesatuan, dan menjadi saksi pengharapan bagi seluruh Gereja lokal Keuskupan Larantuka,” tegas Mgr. Yohanes. Pernyataan ini mencerminkan komitmennya untuk melayani dengan kerendahan hati dan fokus pada kesejahteraan umat.

Jejak Iman di Larantuka: Dari Misionaris Hingga Devosi Khas

Mgr. Yohanes juga mengingatkan bahwa tahbisan ini menjadi penegasan bahwa Kristus senantiasa menyertai umat-Nya. Kehadiran Kristus ini telah terasa sejak benih-benih iman pertama kali ditaburkan oleh para misionaris dari berbagai tarekat, seperti Dominikan, Yesuit, dan Serikat Sabda Allah. Perjalanan iman terus berlanjut hingga kini, di mana pertumbuhan iman umat dijaga dengan setia melalui devosi khas Larantuka yang mendalam, keberadaan komunitas basis gereja yang kuat, serta karya pelayanan tanpa lelah dari para imam, biarawan, dan biarawati.

Secara pribadi, Mgr. Yohanes mengungkapkan ikatan batin yang sangat kuat dengan Gereja Katedral Larantuka. Tempat ini memiliki makna spiritual yang tak ternilai baginya, karena di sanalah ia mengalami berbagai tahapan sakramental penting dalam hidupnya: mulai dari dibaptis, menerima komuni pertama, sakramen tobat, sakramen krisma, hingga ditahbiskan menjadi seorang imam. Dan kini, di tempat yang sama, ia menerima kepenuhan imamat sebagai seorang uskup.

“Sebagai anak dari kota ini, Gereja Katedral ini menyimpan seluruh sejarah perjalanan spiritual dan panggilan saya,” ujar Mgr. Yohanes dengan suara haru. Pengalaman pribadi ini tentu akan menjadi fondasi yang kokoh dalam menjalankan tugasnya.

Refleksi Mendalam: Mengemban Salib Pelayanan di Tengah Tantangan

Namun, Mgr. Yohanes juga menunjukkan kedalaman refleksi rohaninya dengan mengutip sabda Tuhan mengenai seorang nabi yang kerap tidak dihormati di tanah kelahirannya sendiri. Ia juga menyinggung sebuah tulisan yang pernah dibacanya berjudul “Mahkota Duri di Balik Sorak-Sorai.” Tulisan tersebut mengingatkannya bahwa seorang imam yang berkuasa tanpa salib berarti hanya memiliki kekuasaan semata, sedangkan seorang imam yang mau memikul salib berarti menunjukkan penyerahan diri dan kesediaan untuk berkorban. “Disalib dan melalui salib, panggilan akan dimurnikan,” tuturnya, menyiratkan bahwa tantangan dan penderitaan adalah bagian tak terpisahkan dari pelayanan.

Dalam refleksinya, Mgr. Yohanes tidak menutup mata terhadap situasi yang sedang dihadapi Keuskupan Larantuka. Ia menyadari bahwa tahbisan ini berlangsung di tengah kondisi keuskupan yang mungkin sedang “terluka”. Ia secara spesifik menyinggung para penyintas erupsi Gunung Lewotobi yang masih bertahan di hunian sementara dengan segala ketidakpastian masa depan, serta kondisi Gunung Ile Lewotolok di Lembata yang masih menunjukkan aktivitas fluktuatif.

“Dalam situasi seperti ini, kita dipanggil untuk hadir, mendengarkan, dan menemani umat dengan penuh kasih,” tegasnya. Mgr. Yohanes mengakui bahwa Gereja, meskipun kudus, tetap terdiri dari manusia-manusia yang rapuh dan mungkin memikul luka-luka sejarah. Namun, ia menekankan bahwa iman mengajarkan bahwa Kristus tidak pernah meninggalkan umat-Nya dalam keadaan sulit sekalipun.

“Sebagai uskup, saya dipanggil untuk mencintai Gereja bukan karena Gereja selalu sempurna, melainkan karena Gereja adalah Tubuh Kristus yang senantiasa dimurnikan oleh rahmat Allah. Saya ingin berjalan bersama umat, bukan di atas umat; saya ingin mendengarkan, bukan hanya berbicara; saya ingin menyembuhkan, bukan menghakimi; dan saya ingin membangun persekutuan yang erat,” papar Mgr. Yohanes, menegaskan kembali komitmennya untuk melayani dengan pendekatan yang inklusif dan penuh empati.

Ucapan Terima Kasih dan Moto Pelayanan Baru

Pada momen penting ini, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada Bapa Suci Paus Leo XIV yang telah mempercayakan tugas mulia ini kepadanya, sekaligus meneruskan estafet kepemimpinan dari Monsinyur Franciscus Kopong Kung. Ia juga menyatakan bakti dan ketaatan penuh kepada Takhta Petrus melalui Nunsius Apostolik untuk Indonesia.

Ucapan terima kasih khusus diberikan kepada Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka, Monsinyur Franciscus Kopong Kung, yang telah menggembalakan umat dengan kesetiaan dan pengorbanan selama 24 tahun. Apresiasi juga mengalir kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, termasuk para imam, biarawan-biarawati, jajaran pemerintah pusat dan daerah, anggota DPR, pimpinan perguruan tinggi, tokoh masyarakat, serta seluruh panitia dan umat yang telah mensukseskan perayaan tahbisan ini.

Sebagai simbol dari semangat pelayanannya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengusung moto pelayanan baru: “Unus Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” – yang berarti satu tubuh, satu roh, satu harapan.

“Saya berharap Keuskupan Larantuka sungguh menjadi satu dalam Kristus, digerakkan oleh Roh Kudus yang satu, dan senantiasa diarahkan pada satu harapan keselamatan. Saya ingin berjalan bersama umat sebagai Gereja peziarah yang setia pada warisan iman dan devosi khas Larantuka, namun sekaligus terbuka terhadap tantangan zaman dan pewartaan Injil yang penuh kasih serta membebaskan,” tutup Mgr. Yohanes dengan penuh harapan.

Pos terkait