Rupiah Terus Tertekan: Analisis Mendalam Pelemahan Terhadap Dolar AS
Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026. Data dari pasar spot mencatat pelemahan sebesar 0,20% secara harian, dengan rupiah diperdagangkan pada angka Rp 16.876 per dolar AS. Kondisi serupa juga tercermin dalam data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia (BI), di mana rupiah melemah 0,36% menjadi Rp 16.887 per dolar AS.
Pelemahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor domestik dan eksternal yang kompleks. Para analis memandang bahwa kombinasi sentimen negatif dari lembaga pemeringkat kredit, data ekonomi yang kurang menggembirakan, serta pergerakan pasar global turut berkontribusi pada tekanan terhadap mata uang Garuda.
Faktor-Faktor Domestik yang Membebani Rupiah
Salah satu penyebab utama pelemahan rupiah yang diidentifikasi oleh para ahli adalah penurunan peringkat kredit (downgrade credit rating) Indonesia oleh Moody’s. Keputusan ini secara langsung memengaruhi persepsi investor terhadap risiko berinvestasi di Indonesia, yang pada gilirannya mendorong arus keluar modal dan melemahkan nilai tukar rupiah.
Selain itu, data cadangan devisa yang dilaporkan mengalami penurunan juga menambah beban pada rupiah. Cadangan devisa yang kuat biasanya menjadi indikator ketahanan ekonomi suatu negara dalam menghadapi gejolak eksternal. Penurunan cadangan devisa dapat menimbulkan kekhawatiran mengenai kemampuan bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Lukman Leong, Chief Analyst di Doo Financial Futures, menyoroti bahwa minimnya data ekonomi penting yang akan dirilis pada awal pekan berikutnya tidak serta-merta memberikan angin segar. Sebaliknya, ia memperkirakan rupiah akan terus tertekan.
“Tidak ada data ekonomi penting hari ini maupun Senin, rupiah diperkirakan masih akan tertekan mengingat banyaknya masalah domestik selain yang di atas,” ujar Lukman.
Lebih lanjut, Lukman juga mengamati beberapa sentimen negatif lain yang beredar di pasar keuangan. Penurunan peringkat indeks saham gabungan (IHSG) ke posisi underweight oleh lembaga riset ternama seperti Goldman Sachs dan UBS menjadi sorotan. Potensi penurunan peringkat Indonesia dari kategori emerging market (EM) ke Frontier oleh MSCI juga menjadi ancaman yang dapat memicu aksi jual oleh investor institusional.
Tidak hanya itu, sentimen negatif juga datang dari isu-isu makroekonomi domestik, seperti:
- Defisit Fiskal: Kekhawatiran mengenai keberlanjutan defisit anggaran negara dapat meningkatkan risiko fiskal dan memengaruhi kepercayaan investor.
- Target Pertumbuhan Ekonomi Gagal Tercapai: Kegagalan dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi yang telah ditetapkan dapat mengurangi optimisme terhadap prospek ekonomi jangka panjang Indonesia.
- Prospek Pemangkasan Suku Bunga oleh Bank Indonesia: Wacana pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral, meskipun bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dapat mengurangi daya tarik investasi dalam aset rupiah dibandingkan dengan mata uang negara lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Berdasarkan analisis tersebut, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada Senin, 9 Februari 2026, akan berada dalam kisaran Rp 16.800 hingga Rp 16.950 per dolar AS.
Sentimen Eksternal dan Pergerakan Pasar Global
Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menambahkan perspektif mengenai faktor-faktor eksternal yang turut memengaruhi pergerakan rupiah. Ia sepakat bahwa isu domestik, termasuk sentimen terkait MSCI dan perubahan pandangan negatif dari lembaga pemeringkat kredit, masih menjadi perhatian utama.
Namun, David juga menyoroti pergeseran sentimen pasar global yang cenderung risk off. Kondisi ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan peningkatan klaim pengangguran mingguan, serta penurunan jumlah pembukaan lapangan kerja berdasarkan riset dari Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS).
Penurunan pembukaan lapangan kerja ini merupakan yang terendah sejak tahun 2020, memberikan sinyal negatif terhadap kondisi pasar tenaga kerja di AS. Dampaknya, pasar mulai meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS (Federal Reserve) di tahun ini.
“Ekspektasinya dollar indeks menguat,” ujar David.
Penguatan indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, biasanya berbanding terbalik dengan pergerakan mata uang negara berkembang seperti rupiah. Ketika dolar menguat, aset dalam dolar menjadi lebih menarik, mendorong investor untuk beralih dari aset berdenominasi mata uang lain, termasuk rupiah.
David Sumual memproyeksikan bahwa dengan mempertimbangkan faktor-faktor domestik dan eksternal tersebut, rupiah pada Senin, 9 Februari 2026, akan bergerak dalam rentang yang sedikit lebih lebar, yaitu antara Rp 16.700 hingga Rp 17.000 per dolar AS. Kisaran ini mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi dalam pergerakan pasar mata uang.
Para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan data ekonomi selanjutnya, langkah-langkah kebijakan dari pemerintah dan bank sentral, serta dinamika pasar global untuk memprediksi arah pergerakan rupiah di masa mendatang.





