Perenungan Harian Obor Pemuda GMIM
Pembacaan Alkitab dalam perenungan hari ini mengacu pada Markus 15:1. Tema yang dibahas adalah Perundingan. Dalam konteks kekristenan, perundingan sering kali menjadi sarana untuk mencapai kesepakatan dan memperkuat hubungan antar sesama.
Khotbah hari ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana para pemimpin agama di masa Yesus melakukan perundingan. Mereka adalah Imam-imam kepala, tua-tua, dan ahli Taurat serta seluruh mahkamah Agama. Dalam terjemahan LAI paling baru, kata “perundingan” digunakan, sedangkan dalam terjemahan lama, istilahnya adalah “sudah bulat mupakatnya”.
Hasil dari perundingan itu adalah mereka membelenggu Yesus dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus. Mengapa Pilatus? Karena ia adalah penguasa wilayah Yerusalem saat itu. Wilayah Yudea berada di bawah kekuasaan Romawi, dan Pontius Pilatus adalah gubernur Romawi di Yudea.
Mahkamah Agama sepakat bahwa Yesus harus dihukum mati, tetapi mereka tidak memiliki otoritas untuk mengeksekusi hukuman tersebut. Tuduhan yang diajukan kepada Yesus di depan mahkamah Agama adalah bahwa Dia menghujat Allah (Markus 14:53-65). Namun, tuduhan ini tidak akan berhasil di hadapan Pilatus.
Dalam perundingan itu, mungkin saja mereka mencari tuduhan yang tepat agar Yesus bisa dihukum mati oleh Pilatus. Salah satu tuduhan yang digunakan adalah bahwa Yesus adalah seorang pemberontak. Di waktu itu, Yudea rawan pemberontakan, sehingga hukuman bagi pemberontak pasti mati.
Hukuman mati pada masa itu dilakukan dengan cara disalib. Prosesnya sangat menyiksa dan ditujukan untuk menciptakan rasa takut. Orang-orang yang ingin memberontak akan berpikir dua kali setelah melihat hukuman seperti ini.
Yesus dipukuli sampai babak belur, memikul salib sendiri menuju tempat penyaliban, dilihat banyak orang, tanpa baju, kehausan, disalibkan, dan dibiarkan mati. Matinya bisa cepat, tetapi kemungkinan besar sangat perlahan dan penuh penderitaan.
Tuduhan sebagai pemberontak membuat Yesus dihukum mati. Perundingan ini dilakukan dengan niat jahat, bersama-sama merancang dan melakukan tindakan jahat. Mengapa mereka melakukan hal itu? Markus 15:1 menuliskan bahwa hal itu dilakukan karena dengki.
Sobat Obor, bacaan ini mengingatkan kita bahwa perundingan sangat baik, terutama dalam konteks organisasi. Jika nantinya sobat obor diijinkan Tuhan untuk membangun kehidupan keluarga, perundingan akan memperkuat kehidupan keluarga. Perundingan membawa kesepakatan; yang awalnya berbeda bisa menjadi sepakat.
Hendaklah kita bermupakat untuk kebaikan, bukan bersepakat dalam kejahatan. Mupakat yang didasarkan pada hati yang tulus, bukan karena dengki. Tuhan memampukan kita untuk berorganisasi dengan hati tulus dan tujuan untuk memuliakan Tuhan. Amin.





