JAKARTA – Proses evakuasi korban dari kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi masih berlangsung. Sampai pukul 05.11 WIB, tim SAR melaporkan bahwa masih terdapat tiga dari tujuh orang penumpang yang terjepit di dalam rangkaian gerbong KRL nomor 8, yang merupakan gerbong khusus wanita.
Sementara itu, jumlah korban meninggal dunia saat ini mencapai lima orang. Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Mohammad Syafii memberikan instruksi kepada tim SAR untuk tidak menggeser gerbong kereta selama proses evakuasi, guna mencegah risiko cedera yang lebih parah.
Dalam video pernyataannya yang diterima di Jakarta, Selasa, Mohammad Syafii menjelaskan bahwa tim penyelamat fokus menggunakan teknik cutting atau pemotongan serta lifting atau pengangkatan material untuk memisahkan badan korban dari jepitan logam.
“Kami tidak ingin ada pergerakan yang malah memperburuk kondisi mereka. Ekstrikasi dilakukan secara perlahan hingga badan korban terpisah dari material yang menghimpit,” ujar dia saat memantau langsung evakuasi di Stasiun Bekasi Timur.
Menurut Syafii, kejadian tersebut merupakan duka yang mendalam. Tim SAR gabungan akan bekerja maksimal dan seefektif mungkin untuk keselamatan penumpang KRL.
“Kejadian ini merupakan duka mendalam bagi kita semua. Kami mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia agar proses evakuasi ini bisa segera tuntas dan seluruh korban dapat segera dikeluarkan dalam kondisi selamat,” tambahnya.
Insiden maut ini terjadi pada Senin (27/4/2026) malam pukul 20.55 WIB, melibatkan KA Argo Bromo Anggrek nomor perjalanan 4 rute Gambir-Surabaya Pasar Turi yang bertabrakan dengan rangkaian KRL di Stasiun Bekasi Timur (BKST).
Selain proses evakuasi korban, tim SAR juga melakukan pencarian ke seluruh sudut gerbong KRL untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal. Seluruh barang milik penumpang yang ditemukan akan dikumpulkan dan diserahkan kepada pihak kepolisian.
Perkembangan proses evakuasi penumpang tersebut akan diperbaharui setiap dua jam sekali. Hal ini sebagaimana disampaikan Direktur PT KAI (Persero) Bobby Rasydin yang mendampingi Menteri Perhubungan Dudhy Purwaghandy dan Kepala Basarnas Mohammad Syafii kepada para pewarta dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi Timur sebelumnya.
Proses Evakuasi yang Memakan Waktu
Proses evakuasi yang sedang berlangsung menunjukkan tingkat kompleksitas yang tinggi. Dengan banyaknya korban yang terjepit, tim SAR harus melakukan langkah-langkah yang sangat hati-hati. Teknik cutting dan lifting menjadi metode utama yang digunakan karena dapat meminimalkan risiko cedera tambahan.
- Penggunaan alat khusus seperti alat potong dan pengangkat sangat penting dalam proses ini.
- Setiap gerakan dilakukan secara perlahan dan hati-hati untuk memastikan keselamatan korban.
- Tim SAR bekerja sama dengan pihak lain seperti polisi dan petugas medis untuk memastikan semua prosedur dijalankan dengan baik.
Keselamatan Korban Prioritas Utama
Kepala Basarnas menyatakan bahwa keselamatan korban adalah prioritas utama. Dengan situasi yang sangat genting, setiap tindakan yang diambil harus dipertimbangkan dengan matang.
- Semua keputusan diambil berdasarkan analisis risiko dan kebutuhan darurat.
- Komunikasi antar tim sangat penting untuk memastikan koordinasi yang efektif.
- Tim SAR terus memantau perkembangan situasi dan siap menyesuaikan strategi jika diperlukan.
Pemantauan dan Update Informasi
Untuk memastikan transparansi dan keterlibatan publik, informasi tentang proses evakuasi akan diperbarui secara berkala. Setiap dua jam, tim SAR akan memberikan update terkini mengenai kondisi korban dan kemajuan evakuasi.
- Update ini akan disampaikan melalui konferensi pers atau pernyataan resmi.
- Masyarakat diharapkan tetap waspada dan mengikuti informasi yang diberikan.
- Kejelasan dan kecepatan dalam penyampaian informasi sangat penting dalam situasi darurat.
Langkah-Langkah Penanganan Korban
Selain proses evakuasi, tim SAR juga melakukan beberapa langkah penanganan korban:
- Pemeriksaan intensif terhadap semua penumpang yang terlibat.
- Identifikasi korban yang masih terjebak di dalam gerbong.
- Persiapan layanan medis untuk korban yang telah dievakuasi.
Kerja Sama Antar Lembaga
Keberhasilan proses evakuasi tidak hanya bergantung pada satu pihak. Kerja sama antar lembaga dan instansi sangat penting dalam menangani situasi darurat seperti ini.
- Kolaborasi antara SAR, polisi, dan tenaga medis menjadi kunci keberhasilan.
- Koordinasi yang baik memastikan semua sumber daya digunakan secara optimal.
- Dukungan dari masyarakat dan media juga sangat berarti dalam memastikan keamanan dan kenyamanan korban.






