Pemprov Sulsel Abaikan Jalan Rusak Kajuara Bone

Jalan Provinsi di Bone Rusak Parah, Pemerintah Dianggap Lalai

Kondisi infrastruktur jalan di Desa Gona, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menuai sorotan tajam. Ruas jalan provinsi yang sejatinya merupakan urat nadi penghubung antarwilayah, kini dibiarkan dalam kondisi rusak parah. Keberadaan lubang menganga, kubangan air yang dalam, dan permukaan jalan yang bergelombang di berbagai titik, memaksa para pengguna jalan untuk ekstra hati-hati. Fenomena ini tidak hanya memperlambat laju kendaraan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan yang mengancam keselamatan pengendara.

Kondisi memprihatinkan ini telah berlangsung cukup lama, namun respons perbaikan dari pemerintah provinsi dianggap minim atau bahkan tidak ada sama sekali. Warga setempat merasakan langsung dampak negatif dari kerusakan jalan ini, yang secara signifikan menghambat aktivitas ekonomi dan mobilitas sehari-hari.

Ancaman Nyata di Setiap Tikungan

Kerusakan jalan di Desa Gona bukan sekadar masalah estetika, melainkan telah menjelma menjadi ancaman nyata bagi keselamatan. Lubang-lubang besar yang tersebar di sepanjang badan jalan menjadi momok bagi para pengendara, baik roda dua maupun roda empat. Saat musim hujan tiba, situasi semakin diperparah. Lubang-lubang tersebut berubah menjadi kubangan air yang dalam, menyamarkan kedalamannya dan sangat sulit dideteksi oleh pengendara, terutama pada malam hari atau saat jarak pandang terbatas.

Hal ini memaksa para pengendara untuk terus-menerus melakukan manuver menghindar, bahkan harus meliuk-liuk di antara lubang dan gelombang jalan. Upaya menghindar ini, alih-alih menciptakan rasa aman, justru meningkatkan potensi terjadinya kecelakaan tunggal maupun tabrakan antar kendaraan.

Jalur Strategis yang Terabaikan

Yang membuat kondisi ini semakin ironis adalah status strategis ruas jalan di Kajuara, Bone. Jalan ini merupakan jalur vital yang menghubungkan Kabupaten Sinjai dengan ibu kota provinsi, Kota Makassar, melalui lintasan Kabupaten Bone dan Maros. Setiap harinya, ribuan kendaraan melintasi jalur ini, mulai dari roda dua yang digunakan oleh masyarakat lokal, hingga truk-truk logistik yang mengangkut berbagai kebutuhan pokok dan barang dagangan.

Fungsi krusial jalan provinsi ini sebagai arteries logistik dan mobilitas masyarakat, seharusnya menjadi prioritas utama bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Pengabaian terhadap perbaikan jalan ini seolah mengabaikan peran pentingnya dalam menunjang aktivitas perekonomian dan kelancaran distribusi barang di wilayah tersebut.

Kesaksian Warga: Keluhan yang Tak Berujung

Kekecewaan dan keprihatinan terpancar dari pernyataan warga setempat. Asrul (30), salah seorang warga Desa Gona, mengungkapkan bahwa kondisi jalan yang rusak parah ini sudah berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Lubangnya banyak sekali. Kalau hujan seperti kubangan, pengendara harus sangat hati-hati,” keluhnya. Ia menambahkan bahwa meskipun kerusakan telah terjadi bertahun-tahun, belum ada tindak lanjut perbaikan yang serius dari pihak pemerintah.

Kesaksian senada datang dari Dandi (28), warga lainnya. Ia mengaku pernah mengalami kecelakaan tunggal akibat motornya terperosok ke dalam lubang yang cukup dalam di tengah jalan. Pengalaman pahit ini semakin menggarisbawahi tingginya risiko yang dihadapi oleh para pengendara yang melintas.

“Kondisi ini sangat berisiko bagi pengendara motor yang melintas di jalur tersebut,” ujar Dandi. Ia pun menyuarakan harapan besar agar pemerintah segera mengambil tindakan nyata dengan melakukan perbaikan jalan. “Kami berharap pemerintah segera melakukan perbaikan agar tidak ada lagi korban kecelakaan di lokasi itu,” tambahnya.

Tanggung Jawab Pemerintah Provinsi

Perlu ditegaskan bahwa ruas jalan yang rusak parah di Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, ini berstatus sebagai jalan provinsi. Dengan demikian, kewenangan penuh untuk melakukan pemeliharaan dan perbaikan berada di bawah tanggung jawab Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Kondisi yang terjadi saat ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai sejauh mana perhatian dan komitmen pemerintah provinsi terhadap pemerataan pembangunan infrastruktur di seluruh wilayahnya. Pengabaian terhadap jalan provinsi yang vital ini tidak hanya mencerminkan kelalaian, tetapi juga dapat berdampak pada terhambatnya pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas.

Dampak Negatif yang Meluas

Dampak dari kerusakan jalan ini tidak hanya dirasakan oleh para pengendara secara langsung, tetapi juga memiliki efek domino yang lebih luas:

  • Kerugian Ekonomi: Kerusakan jalan memperlambat distribusi barang, meningkatkan biaya operasional kendaraan karena kerusakan, dan berpotensi menurunkan minat investor untuk berinvestasi di daerah yang infrastrukturnya buruk.
  • Penurunan Kualitas Hidup: Akses yang sulit dan kondisi jalan yang membahayakan dapat menghambat mobilitas masyarakat untuk mengakses layanan publik seperti kesehatan dan pendidikan.
  • Peningkatan Biaya Perbaikan Kendaraan: Pengendara harus mengeluarkan biaya ekstra untuk perbaikan kendaraan yang rusak akibat seringnya melewati jalan berlubang dan tidak rata.
  • Citra Daerah yang Buruk: Jalan yang rusak parah dapat memberikan citra negatif terhadap daerah tersebut, baik di mata masyarakat lokal maupun pendatang.

Oleh karena itu, diharapkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dapat segera meninjau kembali prioritas pembangunan infrastruktur dan memberikan perhatian yang layak kepada ruas jalan provinsi di Kajuara, Bone, demi keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran aktivitas seluruh masyarakat.

Pos terkait