Perkuatan Lereng Majannang–Manimbahoi: Inovasi PNUP

Mengatasi Ancaman Longsor di Desa Majannang–Manimbahoi: Inisiatif Solutif Politeknik Negeri Ujung Pandang

Desa Majannang–Manimbahoi, yang terletak di Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, menghadapi tantangan serius akibat kerawanan lereng jalan yang rentan longsor, terutama saat musim penghujan tiba. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kelancaran mobilitas warga, tetapi juga menghambat distribusi hasil pertanian serta akses vital menuju fasilitas pendidikan dan kesehatan. Menyadari urgensi permasalahan ini, tim dosen dan mahasiswa dari Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) telah meluncurkan sebuah program kemitraan masyarakat (PKM) yang komprehensif.

Program yang didanai melalui DIPA PNUP ini bertujuan untuk memberikan solusi teknis yang berkelanjutan dan dapat direplikasi oleh masyarakat setempat. Fokus utamanya adalah pada sosialisasi dan implementasi desain struktur perkuatan lereng sisi jalan, sebuah inisiatif yang diharapkan dapat meminimalisir risiko longsor dan meningkatkan keamanan serta kenyamanan aksesibilitas di desa tersebut.

Identifikasi Masalah dan Pendekatan Inovatif

Prof. Ir. Muhammad Suradi, M.Eng.St., Ph.D., selaku ketua tim PKM, menjelaskan bahwa pendekatan yang diambil tidak sekadar memberikan solusi instan, melainkan pemberdayaan masyarakat melalui pengetahuan dan teknologi yang terjangkau. “Selama ini masyarakat hanya mengandalkan cara penanganan sementara, seperti penimbunan manual atau karung pasir, yang tidak bertahan lama,” ungkap Prof. Suradi. “Melalui program ini, kami ingin memperkenalkan metode teknis sederhana dengan memanfaatkan material lokal yang bisa diterapkan secara mandiri oleh warga.”

Pendekatan ini didasari oleh pemahaman mendalam terhadap kondisi geologis dan sosial masyarakat. Lereng yang terjal dan sifat tanah yang mudah tererosi menjadi akar permasalahan utama. Ketergantungan pada metode tradisional yang tidak efektif semakin memperparah kerentanan desa terhadap bencana alam ini. Oleh karena itu, tim PNUP berupaya keras untuk memperkenalkan solusi yang tidak hanya efektif dari sisi teknis, tetapi juga ekonomis dan mudah diimplementasikan oleh masyarakat.

Tahapan Pelaksanaan Program Kemitraan Masyarakat

Pelaksanaan program PKM ini dirancang secara sistematis melalui beberapa tahapan krusial:

  1. Identifikasi dan Pemetaan Lokasi Rawan Longsor:
    Tahap awal program melibatkan survei mendalam untuk mengidentifikasi dan memetakan secara akurat titik-titik lereng jalan yang paling rawan mengalami longsor. Pemetaan ini menjadi dasar untuk menentukan area prioritas penanganan dan merancang solusi yang tepat sasaran.

  2. Sosialisasi dan Pelatihan:
    Selanjutnya, tim PKM menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang bertempat di kantor Desa Majannang–Manimbahoi. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 20 peserta yang terdiri dari perwakilan masyarakat, tokoh adat, dan pemangku kepentingan desa.
    Materi yang disampaikan dalam sesi ini sangat komprehensif, meliputi:

    • Penyebab Terjadinya Longsor: Penjelasan mendalam mengenai faktor-faktor geologis, hidrologis, dan antropogenik yang berkontribusi terhadap ketidakstabilan lereng.
    • Metode Penanganan Longsor: Pengenalan berbagai teknik dan metode penanganan longsor, mulai dari yang konvensional hingga inovatif.
    • Upaya Pencegahan Longsor: Strategi dan tindakan preventif yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya longsor di masa mendatang.

  3. Implementasi Prototipe Struktur Perkuatan Lereng:
    Inti dari kegiatan ini adalah pembangunan sebuah prototipe dinding penahan tanah yang berbiaya rendah. Struktur ini dirancang secara khusus agar mudah diaplikasikan oleh masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang melimpah. Ir. Muhammad Dwiyanto Agung Prakasa, S.T., M.T., M.Sc., salah satu anggota tim PKM, menekankan pentingnya prototipe ini. “Dengan adanya prototipe ini, kami berharap masyarakat bisa mengadopsi dan mereplikasi desain serupa di titik-titik rawan longsor lainnya,” ujarnya.

Dampak dan Keberlanjutan Program

Keberhasilan program PKM ini tidak berhenti pada tahap implementasi fisik. Tim PNUP berkomitmen untuk terus menjalin komunikasi dan kolaborasi dengan Desa Majannang–Manimbahoi. Kegiatan monitoring dan evaluasi pasca-konstruksi akan terus dilakukan untuk memastikan efektivitas dinding penahan tanah yang telah dibangun.

Informasi yang diperoleh dari proses monitoring dan evaluasi ini akan menjadi masukan berharga dalam penyempurnaan desain dan strategi pelaksanaan program PKM di tahun anggaran berikutnya. Diharapkan, inisiatif ini dapat menjadi model solusi yang berkelanjutan, memberdayakan masyarakat lokal, dan menciptakan lingkungan yang lebih aman dari ancaman longsor di wilayah Kabupaten Gowa.

Melalui kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, PNUP membuktikan perannya dalam mentransformasikan pengetahuan teknis menjadi solusi nyata yang berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. Program kemitraan ini tidak hanya mengatasi masalah mendesak, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat dalam mengelola dan menjaga lingkungan mereka secara mandiri.

Pos terkait