Pesantren Pinggiran Tanjung Selor: Kisah Abah Jimmy dan Tanah Wakaf

Pondok Pesantren Fatimah Azzahra: Tumbuh dari Tanah Wakaf Menjadi Pusat Pembinaan Generasi Unggul di Kalimantan Utara

Di tengah ketenangan Desa Gunungsari Kilometer 12, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, berdiri sebuah lembaga pendidikan yang lahir dari semangat mulia dan sebidang tanah wakaf. Pondok Pesantren Fatimah Azzahra, yang kini menaungi hampir seratus santri dan santriwati, telah menjadi mercusuar pendidikan dan pengembangan karakter di wilayah tersebut sejak didirikan pada tahun 2016.

Kiprah pesantren ini tidak lepas dari visi dan dedikasi sosok yang akrab disapa Abah Jimmy Nasroen. Pria kelahiran Tanjung Selor ini memulai segalanya dari sebuah keresahan melihat minimnya fasilitas pendidikan berbasis agama di Bulungan, dan sebuah cita-cita luhur untuk membangun generasi muda Kalimantan Utara yang berdaya saing.

Abah Jimmy, yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Kaltara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, mengungkapkan bahwa panggilan untuk mendirikan pesantren telah dirasakannya sejak awal tahun 2000-an. Pengalamannya yang tumbuh di pedalaman, mulai dari Desa Long Beluah, Hulu Sungai Kayan, hingga menempuh pendidikan di Tanjung Selor dan merantau ke Samarinda, membentuk perspektifnya tentang pentingnya pendidikan yang merata.

“Kalau di pondok, saya biasa dipanggil Abah atau Abah Guru,” ujarnya dalam sebuah kesempatan. Dengan panggilan ini, ia memimpin sebuah institusi yang kini menjadi rumah bagi santri dari berbagai penjuru Kalimantan Utara. Lokasinya yang berada jauh dari hiruk pikuk kota justru menjadi keunggulan tersendiri, menciptakan suasana kondusif untuk belajar dan membangun karakter yang kokoh.

Awalnya, pondok ini bernama Pondok Pesantren Putri Fatimah Azzahra, dengan belasan santri pertama yang sebagian besar berasal dari keluarga transmigran asal Jawa Timur dan Jawa Tengah, serta beberapa dari Sekatak. Perjalanan spiritual Abah Jimmy, termasuk belajar kepada para kiai di Kalimantan Selatan dan Jawa Timur, semakin memantapkan langkahnya untuk membangun pesantren di tanah kelahirannya.

Fondasi Berdiri di Atas Tanah Wakaf dan Pengembangan Berkelanjutan

Cikal bakal Pondok Pesantren Fatimah Azzahra berawal dari sebuah hibah lahan yang diberikan oleh seorang sahabat atas nama orang tuanya. Setelah melalui proses pengajuan dan persetujuan, lahan tersebut kini berstatus resmi sebagai tanah wakaf, menjadi fondasi kokoh bagi perkembangan pesantren.

Lebih dari sekadar pendidikan agama (diniyah), pesantren ini juga menyediakan jenjang pendidikan formal yang lengkap, mulai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Hingga saat ini, lima angkatan SMA telah berhasil diluluskan, didukung oleh tim pengajar yang terdiri dari sekitar dua belas guru.

Abah Jimmy menekankan bahwa tantangan terbesar generasi muda saat ini bukanlah sekadar akses terhadap fasilitas, melainkan penguatan spirit dan etos juang. Ia melihat bahwa di era modern dengan kelengkapan fasilitas, jiwa ideologis dan semangat perjuangan perlu terus ditanamkan.

“Anak-anak sekarang fasilitas lengkap, tapi spirit ideologis dan jiwa petarungnya perlu dikuatkan,” tegasnya. Ia kerap mencontohkan bangsa-bangsa seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea yang mampu bangkit menjadi negara maju berkat etos kerja dan semangat perjuangan yang luar biasa. “Kalau tentang etos kerja kita harus banyak belajar dari bangsa Tiongkok, Jepang dan Korea. Mereka mampu menjadi bangsa besar karena etos dan semangat kerjanya luar biasa,” tambahnya.

Untuk mewujudkan visi ini, Pondok Pesantren Fatimah Azzahra tidak hanya berfokus pada kurikulum agama dan formal. Berbagai program pemberdayaan ekonomi dan lingkungan juga diintegrasikan.

  • Pasar Rakyat: Setiap bulan, halaman pondok disulap menjadi pasar rakyat. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat sekitar, memberikan kesempatan untuk berjualan dan meningkatkan taraf hidup.
  • Arboretum Lembah Bambu: Kawasan pesantren kini juga dikembangkan menjadi arboretum lembah bambu. Berbagai jenis kayu dan buah hutan khas Kalimantan ditanam di area ini, berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan yang berharga bagi para santri dan masyarakat umum.

Mendorong Kemajuan Melalui Bahasa Asing dan Kualitas Sumber Daya Manusia

Menyikapi pesatnya perkembangan kawasan industri di Bulungan, terutama di Desa Mangkupadi, Tanjung Palas Timur, yang merupakan bagian dari proyek strategis nasional, Abah Jimmy Nasroen melihat urgensi penguatan kemampuan berbahasa asing. Ia secara aktif mendorong program kampung bahasa Mandarin.

“Bahasa menjadi salah satu kunci agar anak-anak kita bisa berkarier lebih baik, apalagi dengan investasi dari luar negeri,” jelasnya. Penguasaan bahasa asing, khususnya Mandarin, diharapkan dapat membuka peluang karier yang lebih luas bagi lulusan pesantren di tengah geliat investasi dan pembangunan di Bulungan.

Meskipun berlokasi di pinggiran kota, Abah Jimmy memiliki harapan besar agar pesantren yang dipimpinnya mendapatkan dukungan yang lebih luas dari berbagai pihak. Ia menegaskan bahwa meskipun lokasinya terbilang jauh dari pusat kota, Pondok Pesantren Fatimah Azzahra tetap merupakan bagian integral dari wilayah Tanjung Selor.

“Walaupun terlihat jauh, ini masih wilayah Tanjung Selor. Kami ingin pondok ini menjadi pusat pembinaan karakter dan peningkatan kualitas SDM di Bulungan,” tuturnya dengan penuh keyakinan.

Dari sebidang tanah wakaf yang sederhana, Pondok Pesantren Fatimah Azzahra telah tumbuh menjadi sebuah ruang harapan yang dinamis. Di sini, nilai-nilai agama, pendidikan formal, pengembangan karakter, serta pemberdayaan ekonomi dan lingkungan berjalan beriringan, mencetak generasi muda yang tidak hanya beriman, tetapi juga berdaya saing dan siap menghadapi tantangan masa depan di Kalimantan Utara.

Pos terkait