Kegiatan Nobar Film Dokumenter di Teminabuan Berikan Ruang Refleksi Bersama
Di malam Minggu yang biasanya penuh dengan kegembiraan dan kesibukan, suasana di ibu kota Kabupaten Sorong Selatan terasa berbeda. Masyarakat setempat, khususnya para pemuda dan anak-anak, berkumpul di teras Gedung Putih, Teminabuan, untuk mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul “Pesta Babi”, pada Sabtu (4/4/2026). Kegiatan ini diinisiasi oleh organisasi Cipayung Plus dan berlangsung dengan suasana yang santai dan terbuka.
Para penonton duduk lesehan di pelataran Gedung Putih, menyimak pemutaran film yang berdurasi lebih dari satu jam. Di baris depan, anak-anak tampak duduk rapi, sedangkan para pemuda dan orang dewasa duduk santai menyebar di berbagai sudut. Kegiatan ini bertujuan untuk memberi ruang refleksi bersama, terutama dalam hal isu-isu yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat adat.
“Nobar ini untuk membuka wawasan teman-teman, tentang isu-isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat adat,” ujar salah satu koordinator kegiatan saat membuka acara. Dengan begitu, peserta dapat memahami lebih dalam tentang tantangan dan peran masyarakat adat dalam menjaga lingkungan serta budaya mereka.
Setelah pemutaran film selesai, anak-anak yang hadir mulai beranjak pulang. Sementara itu, para pemuda dan orang dewasa tetap tinggal untuk mengikuti sesi diskusi ringan sambil menikmati camilan. Diskusi ini menjadi ajang untuk berbagi pandangan dan pengalaman terkait isi film yang ditonton.
Perwakilan pemuda adat, Nabot Sreklefat, menyampaikan bahwa film yang ditonton memberikan dorongan positif bagi generasi muda. Ia berharap, apa yang ada dalam film ini bisa menjadi motivasi bagi teman-temannya agar lebih aktif dalam menjaga wilayah masing-masing.
“Apa yang ada dalam film ini jadikan sebagai motivasi untuk membawa teman-teman agar kita bisa lebih aktif menjaga wilayah masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan orang tua yang hadir, Yusuf Momot, memberikan dorongan semangat kepada generasi muda agar terus membangun kebiasaan berdiskusi dan belajar. Ia menekankan pentingnya menggunakan media sosial sebagai alat untuk belajar dan menonjolkan potensi daerah.
“Anak-anak muda jangan sampai tergerus dengan kencangnya arus media sosial. Justru manfaatkan media untuk belajar, menonjolkan potensi daerah kita,” ujarnya.
Diskusi berlangsung secara terbuka, seperti ruang belajar bersama. Satu per satu perwakilan kelompok saling berbagi pendapat, hingga tidak terasa nyaris berganti hari. Kegiatan nobar dan diskusi ditutup dengan foto bersama dan pernyataan mendesak pemerintah segera menolak segala bentuk investasi yang merusak hutan adat di Sorong Selatan.





