Perjuangan Petani Sawit Bangka: Pengorbanan, Ketekunan, dan Harapan untuk Masa Depan
Di tengah geliat perekonomian yang seringkali menuntut pengorbanan besar, kisah para petani sawit di Bangka Belitung menjadi bukti nyata bahwa ketekunan dan visi jangka panjang dapat membuahkan hasil yang manis. Bahrul (30), seorang warga Desa Tiram, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, adalah salah satu contoh inspiratif. Keputusannya untuk merambah dunia perkebunan sawit pada tahun 2017, bertepatan dengan awal pernikahannya, bukanlah keputusan yang diambil dengan mudah. Lahan yang diperoleh dari orang tuanya menjadi titik awal, meski ia sendiri belum memiliki gambaran pasti mengenai prospek masa depannya.
Keputusan ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk menciptakan sumber penghasilan yang berkelanjutan, bukan karena kondisi ekonomi yang mapan. Pada saat itu, Bahrul tidak memiliki pekerjaan tetap dan hanya mengandalkan pekerjaan serabutan untuk menyambung hidup. Ia memulai perkebunannya dari skala kecil, hanya sekitar 100 batang sawit. Di awal masa tanam, harga Tandan Buah Segar (TBS) masih berkisar Rp300–Rp400 per kilogram. Kondisi harga yang rendah sempat membuatnya dilanda keraguan, namun ia memilih untuk bertahan, terinspirasi oleh keberhasilan petani lain di sekitarnya.
Periode tiga tahun pertama, yang dikenal sebagai masa tanaman belum menghasilkan, menjadi masa yang paling berat bagi keluarga Bahrul. Selama masa tunggu yang panjang ini, ia bekerja bersama ayahnya sebagai buruh harian di pasar untuk mengumpulkan modal. Demi kelangsungan kebunnya, ia bahkan sampai harus menjual satu-satunya kendaraan bermotor yang dimilikinya. “Kalau motor bisa dicari lagi. Tapi kalau kebun gagal, masa depan keluarga ikut tidak jelas,” ujarnya, menekankan prioritasnya pada keberlangsungan hidup keluarganya.
Pengorbanan tersebut akhirnya berbuah manis ketika kebun sawitnya mulai memasuki masa panen. Dari hasil panen awal, Bahrul termotivasi untuk kembali menambah jumlah tanamannya. Kini, ia mengelola hampir 200 batang sawit, dengan sekitar 150 batang di antaranya telah produktif. Produksi kebunnya berkisar antara 1,7 ton hingga 2,5 ton per bulan, tergantung pada kondisi cuaca dan perawatan yang diberikan. Dengan harga TBS di tingkat penampung sekitar Rp2.700 per kilogram, pendapatan kotor rata-rata yang ia peroleh mencapai sekitar Rp4 juta per bulan.
Meskipun demikian, Bahrul menyadari bahwa kebun seluas kurang lebih satu hektare tersebut belum sepenuhnya mampu menopang seluruh kebutuhan keluarganya. Oleh karena itu, ia masih tetap bekerja sebagai buruh harian untuk menambah pemasukan. Ia memperkirakan kebutuhan minimal rumah tangganya mencapai sekitar Rp100 ribu per hari.
Salah satu kelebihan komoditas sawit yang ia rasakan adalah fleksibilitas dalam bekerja. Panen yang dilakukan setiap 15 hari memberikan kesempatan baginya untuk mengambil pekerjaan lain di sela-sela waktu. Selain itu, Bahrul menilai perawatan tanaman sawit lebih mudah dibandingkan dengan komoditas lada, yang dulunya sangat populer di Bangka. Selama menunggu masa panen sawit, ia juga menerapkan sistem tumpang sari dengan menanam pisang dan sayuran untuk menambah pemasukan tambahan. Ia memperkirakan, biaya yang dikeluarkan selama tiga tahun awal penanaman 100 batang sawit mencapai sekitar Rp40 juta, belum termasuk biaya lahan yang merupakan milik orang tuanya.
Kini, Bahrul mulai merasakan manfaat dari kerja kerasnya. “Untuk makan cukup dan bisa sisihkan sedikit buat pupuk,” katanya dengan nada lega. Ia juga mengamati tren positif di desanya, di mana banyak warga mulai meninggalkan sektor pertambangan yang semakin sulit dan beralih ke perkebunan sawit. “Tambang makin sulit. Sawit lebih pasti kalau dirawat,” ujarnya, membandingkan prospek kedua sektor tersebut.
Bahrul memiliki harapan besar kepada pemerintah. Ia berharap agar pemerintah dapat menjaga stabilitas harga komoditas sawit dan menekan biaya produksi, terutama harga pupuk. Selain itu, penyediaan pelatihan dan bibit unggul bagi petani kecil juga menjadi prioritas harapannya. “Sedikit-sedikit membantu ekonomi keluarga. Saya ingin tambah tanaman supaya hasilnya lebih besar,” tuturnya, memaparkan impiannya untuk terus mengembangkan usahanya. Baginya, kebun sawit bukan hanya sekadar mata pencaharian, melainkan simbol perjuangan. “Hasilnya memang tidak instan, tapi kalau tekun pasti ada,” tutupnya dengan keyakinan.
Beralih Arah: Dari Sawit ke Durian di Lahan yang Dulu Terlupakan
Tidak jauh dari Desa Tiram, di Kecamatan Toboali, terdapat kisah lain yang tak kalah inspiratif. Anton (44), warga Desa Terap, berhasil mengubah lahan yang dulunya terbengkalai menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan. Ia kini mengelola kebun sawit seluas kurang lebih 200 batang, di mana 150 batang di antaranya telah berproduksi. Usia tanaman sawitnya saat ini berkisar tiga tahun delapan bulan.
Anton bukanlah sosok yang baru dalam dunia pertanian. Sejak kecil, pada era 1980-an, ia telah terbiasa membantu ibunya berkebun karet dan lada. Namun, setelah sang ibu meninggal dunia dan harga lada mengalami penurunan drastis, kebun tersebut sempat terbengkalai. Melihat peluang yang ditawarkan oleh komoditas sawit, Anton memutuskan untuk menanamnya.
Namun, perjalanannya tidak serta merta mulus. Belakangan, ia mengetahui bahwa sebagian lahan yang ia kelola ternyata masuk dalam kawasan hutan produksi. “Saya baru tahu statusnya. Dari dulu masyarakat sudah berkebun di sana,” ungkapnya, menyiratkan kebingungan atas status lahan tersebut. Setelah adanya pendataan oleh Satgas Penertiban Kawasan Hutan, Anton mengambil keputusan bijak untuk tidak menambah luasan tanaman sawit di area tersebut dan mulai mengalihkan fokusnya pada tanaman lain.
Kini, Anton tengah mengembangkan potensi durian lokal Bangka Belitung, termasuk merawat pohon durian peninggalan ibunya. Ia meyakini bahwa durian memiliki nilai ekonomi yang besar di masa depan dan, yang terpenting, tanaman ini diperbolehkan untuk ditanam di kawasan yang ia kelola. Meskipun demikian, sawit masih menjadi sumber pendapatan utamanya. Produksi panen sawitnya berkisar antara 700 kilogram hingga 1,2 ton per panen, atau sekitar 2,5 ton per bulan. Dengan harga Rp2.700 per kilogram, pendapatan kotor yang ia terima mencapai sekitar Rp4 juta per bulan.
Anton pun memiliki harapan yang sama dengan petani lainnya. Ia berharap pemerintah dapat memberikan solusi yang adil bagi para petani kecil yang lahannya masuk dalam kawasan hutan produksi. “Kami hanya ingin tetap berkebun dan mencari nafkah tanpa melanggar aturan,” ujarnya, menegaskan niat baiknya untuk berkontribusi pada perekonomian tanpa melanggar hukum.
Sawit: Komoditas Strategis dan “Tanaman Ajaib”
Pentingnya kelapa sawit bagi perekonomian dan energi Indonesia tidak hanya dirasakan oleh para petani di tingkat akar rumput. Presiden RI Prabowo Subianto sendiri telah menegaskan posisi strategis komoditas ini. Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul International Convention Center, Bogor, pada Senin (2/2), ia menyebut sawit sebagai miracle crop atau “tanaman ajaib”.
Menurutnya, kelapa sawit bukan hanya menghasilkan minyak goreng, tetapi juga menjadi bahan baku untuk berbagai produk turunan yang sangat beragam. Mulai dari sabun, margarin, cat, hingga bahan bakar nabati seperti biodiesel dan avtur. “Kelapa sawit memiliki ratusan turunan dan dibutuhkan banyak negara,” tegasnya, menyoroti potensi ekspor dan industri hilirnya yang luas.
Presiden juga menyampaikan tingginya permintaan global terhadap Crude Palm Oil (CPO) Indonesia, berdasarkan pengalamannya saat melakukan kunjungan ke sejumlah negara. Rakornas yang dihadiri oleh sekitar 4.487 peserta ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjalankan program prioritas nasional menuju Indonesia Emas 2045. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian turut menekankan bahwa kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah merupakan kunci efektivitas program pembangunan.
Bagi para petani kecil seperti Bahrul dan Anton, kebijakan serta stabilitas dalam sektor perkebunan sawit memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kelangsungan mata pencaharian mereka. Perjuangan mereka di lahan perkebunan mencerminkan dedikasi dan harapan untuk masa depan yang lebih baik, yang sangat bergantung pada dukungan kebijakan yang tepat dari pemerintah.





