Perusahaan penyedia layanan citra satelit asal Amerika Serikat, Planet Labs, mengambil kebijakan untuk menahan distribusi gambar wilayah Iran dan kawasan konflik di Timur Tengah tanpa batas waktu. Keputusan ini diambil setelah adanya permintaan dari pemerintah AS agar para penyedia citra satelit membatasi akses terhadap gambar-gambar sensitif selama situasi konflik berlangsung.
Dalam pemberitahuan yang dikirimkan melalui email kepada pelanggannya, Planet Labs menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mematuhi arahan pemerintah AS. Kebijakan ini lebih luas dibandingkan pembatasan sebelumnya yang hanya berlaku selama 14 hari. Perusahaan menyatakan bahwa seluruh citra yang diambil sejak tanggal 9 Maret akan ditahan sementara, dan pembatasan ini dapat berlangsung hingga situasi perang mereda.
Alasan utama dari kebijakan ini adalah untuk menjaga keamanan dan mencegah pihak lawan menggunakan data citra satelit untuk kepentingan militer, seperti penentuan target atau panduan serangan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Teheran kemudian membalas dengan serangan terhadap berbagai target, termasuk pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Selain itu, beberapa isu penting juga muncul di tengah situasi ini, seperti pernyataan mantan Presiden Donald Trump yang memberi waktu Iran untuk membuka Selat Hormuz hingga hari Selasa dan ancaman serangan besar. Harga minyak pun melonjak setelah ancaman tersebut. Di sisi lain, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengatakan bahwa kapal Malaysia bisa melewati Selat Hormuz cukup dengan sekali telepon.
Planet Labs menegaskan bahwa mereka akan menerapkan sistem distribusi citra yang terkelola, sehingga tidak menimbulkan risiko terhadap keselamatan. Dengan demikian, akses terhadap gambar satelit hanya akan diberikan secara selektif untuk kebutuhan mendesak, misi penting, atau kepentingan publik tertentu.
Meski memiliki nilai strategis bagi militer, citra satelit juga menjadi sumber penting bagi jurnalis dan peneliti dalam memantau wilayah yang sulit dijangkau. Hal ini membuat kebijakan Planet Labs menimbulkan pro dan kontra di kalangan pengguna.
Di sisi lain, perusahaan lain seperti Vantor (sebelumnya bernama Maxar Technologies) mengatakan bahwa saat ini belum menerima permintaan langsung dari pemerintah AS. Namun, perusahaan tetap membuka kemungkinan untuk menerapkan pembatasan akses secara mandiri di wilayah konflik.
“Vantor selama bertahun-tahun mencadangkan hak untuk menerapkan kontrol akses yang lebih ketat selama masa konflik geopolitik dan saat ini telah menerapkannya untuk beberapa bagian di Timur Tengah,” ujar Juru Bicara Vantor dalam sebuah pernyataan.





