PLTP Putri Cempo Gagal Target, TPA Solo Terancam

Kinerja Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik Putri Cempo Belum Optimal, TPA Overload

Solo – Fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Putri Cempo di Kota Solo menghadapi tantangan serius dalam operasionalnya. Hingga kini, kinerja fasilitas tersebut dilaporkan belum mampu mencapai target pengolahan sampah harian yang ditetapkan, menyebabkan penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan kondisi lahan yang kian memburuk.

Tim Ahli PSEL Putri Cempo, Prof. Prabang Setyono, menyampaikan keprihatinannya atas situasi ini. “Menurut saya itu kan memang sudah overload lahannya ya memang yang segitu gitu kan ya. Sementara sampah enggak bisa distop. Tiap hari kan enggak bisa stop 370-380 ton itu yang pasti itu saja. Tapi kalau untuk ekstensifikasi perluasan sudah enggak bisa,” ungkapnya.

Kapasitas Pengolahan Jauh di Bawah Target

Fasilitas PSEL Putri Cempo memiliki target kapasitas pengolahan sampah hingga 545 ton per hari. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa fasilitas ini baru mampu mengolah sekitar 130 ton sampah setiap harinya. Angka ini sangat jauh dari target yang ditetapkan dan bahkan lebih rendah dari total produksi sampah harian Kota Solo yang mencapai sekitar 370 hingga 380 ton.

Akibatnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan warga tidak dapat diolah oleh PSEL dan terpaksa harus dibuang ke TPA Putri Cempo. Keterbatasan kapasitas pengolahan ini memperparah kondisi TPA yang lahan parkirnya sudah tidak memungkinkan untuk diperluas lagi.

Produksi Listrik Juga Belum Membaik

Selain masalah pengolahan sampah, produksi listrik dari PSEL Putri Cempo juga belum mencapai potensi maksimalnya. Prof. Prabang mengidentifikasi bahwa instalasi gasifier, yang merupakan komponen kunci dalam pembangkit listrik tenaga sampah ini, masih mengalami ketidakstabilan operasional.

“Kalau saya mengatakan ya kinerjanya belum membaik lah bahasannya kan gitu karena memang gasifier-nya belum optimal ya. Optimalnya kan bisa sampai 5 megawatt ya itu tapi kenyataan sering apa namanya jeda gitu, jeda itu artinya nanti berhenti,” jelasnya.

Idealnya, mesin gasifier mampu menghasilkan listrik hingga 5 megawatt. Namun, dalam praktiknya, operasional mesin ini kerap mengalami jeda atau bahkan berhenti mendadak. Ketidakstabilan ini menyebabkan produksi listrik menjadi tidak konsisten dan jauh dari harapan.

Kendala Teknis: Pengeringan dan Pasokan Bahan Baku RDF

Salah satu kendala utama yang menghambat optimalisasi kinerja PSEL adalah proses penyiapan bahan baku sebelum sampah dapat diolah dalam mesin gasifier. Sampah harus terlebih dahulu diubah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF). Proses ini, terutama tahap pengeringan, sangat bergantung pada kondisi cuaca.

“Logikanya kan bisa dibagi dalam 2 sektoral ya, sektoral istilahnya preparasi penyiapan bahan bakunya yang untuk dipasokkan dalam gasifier itu ya bentuknya RDF gitu kan ya itu ya memang apa namanya masih banyak kendala. Apalagi ditambah hujan ya kalau hujan itu kan pengeringannya kan mungkin butuh waktu ya kan ya. Sehingga ya mesinnya gasifier itu kalau seandainya inputnya memang ya bermasalah ya mereka enggak akan berjalan karena sekali berjalan itu logika mesinnya itu memang ya harus kontinyu,” papar Prof. Prabang.

Mesin gasifier dirancang untuk beroperasi secara kontinu. Jika pasokan RDF tidak tersedia atau kualitasnya buruk karena masalah pengeringan, terutama saat musim hujan, maka mesin tidak dapat berjalan optimal. Hal ini berujung pada penumpukan sampah di area persiapan bahan baku.

Belum Ada Perubahan Signifikan Setelah Setahun Beroperasi

Proyek PSEL Putri Cempo telah berjalan lebih dari satu tahun. Namun, menurut Prof. Prabang, belum terlihat adanya peningkatan kinerja yang signifikan dalam hal pengolahan sampah.

“Yang jelas belum ada peningkatan secara signifikan. Karena ditambah jeda itu ya jadi ditambah jeda itu sehingga membuat sampah jadi menumpuk kan begitu kan ya ada sampahnya itu hitungannya per harinya itu kan 370 sampai 380 ton,” tuturnya.

Dengan volume sampah harian yang terus bertambah dan kapasitas pengolahan yang terbatas, timbunan sampah di TPA semakin menggunung.

Tumpukan Sampah di TPA dan Antrean Truk yang Panjang

Kegagalan PSEL dalam memenuhi target pengolahan sampah berdampak langsung pada kondisi TPA Putri Cempo. Sampah yang tidak tertangani oleh sistem pengolahan akhirnya dibuang secara konvensional melalui sistem open dumping.

“Tiap hari hanya ya taruhlah sepertiganya lah kurang gitu kan ya ya memang yang bisa terolah kan berarti kan tiga perempatnya ini ketumpuk ya di open dumping itu ini kan jadi masalah kemarin itu kan juga. Banyak berjejer jujur itu ya kendaraan ya ya memang tempat untuk bisa yang terjangkau untuk bisa meloadingnya sama jadi terhambat,” ungkapnya.

Kondisi ini tidak hanya menyebabkan penumpukan sampah secara visual, tetapi juga menimbulkan masalah logistik. Antrean panjang truk sampah sering terlihat di lokasi TPA karena keterbatasan ruang untuk bongkar muat dan hambatan dalam proses pembuangan sampah.

Dengan lahan TPA yang sudah penuh dan kinerja PSEL yang belum mencapai titik optimal, pengelolaan sampah di Kota Solo masih menjadi pekerjaan rumah besar yang memerlukan solusi komprehensif dan segera.

Pos terkait