
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan delisting 18 emiten menjadi salah satu berita yang menarik perhatian publik. Selain itu, inflasi di Amerika Serikat (AS) juga mengalami peningkatan yang signifikan akibat konflik dengan Iran. Berikut adalah rangkuman berita terkini:
BEI Melakukan Delisting 18 Emiten Mulai Tahun 2026
BEI secara resmi mengumumkan penghapusan pencatatan saham dari 18 perusahaan tercatat yang akan berlaku mulai 10 November 2026. Keputusan ini didasarkan pada kriteria delisting sesuai Peraturan Bursa Nomor I-N, yang mencakup kondisi pailit atau suspensi perdagangan yang berkepanjangan.
Salah satu emiten yang menjadi perhatian adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex. Perusahaan ini masuk dalam daftar perusahaan yang akan didepak dari bursa. Delapan belas emiten tersebut dibagi menjadi dua kategori utama. Tujuh perusahaan mengalami pailit, seperti PT Cowell Development Tbk (COWL) dan SRIL. Sementara itu, 11 emiten lainnya akan didepak karena telah mengalami suspensi perdagangan selama lebih dari 50 bulan, jauh melampaui batas minimal 24 bulan yang ditetapkan oleh Bursa.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut mengalami dampak negatif yang signifikan terhadap kelangsungan usaha mereka. Tidak ada indikasi pemulihan yang memadai, sehingga keputusan delisting dianggap sebagai langkah yang wajar.
Inflasi AS Meningkat Akibat Konflik dengan Iran

Inflasi di Amerika Serikat (AS) mengalami lonjakan tajam pada Maret 2026, mencapai 3,3 persen secara tahunan, meningkat dari 2,4 persen pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh kenaikan harga energi yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat bahwa harga bensin melonjak sebesar 21,2 persen antara Februari dan Maret, merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak pemerintah mulai menerbitkan indeks terkait pada 1967. Konflik antara AS/Israel dengan Iran yang dimulai pada 28 Februari, termasuk pemblokiran lalu lintas di Selat Hormuz oleh Iran, telah mengganggu pasokan minyak dan gas global.
Meskipun AS adalah produsen minyak mentah terbesar di dunia, negara ini tetap merasakan dampaknya. Harga bensin rata-rata mencapai USD 4,15 per galon, naik dari USD 3 sebelum perang. Situasi ini memberikan tekanan pada pemerintahan Presiden Donald Trump, yang sebelumnya berjanji untuk menekan inflasi.
Ahli ekonomi memperkirakan bahwa kesulitan ekonomi akan terus berlanjut, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan menengah dan rendah yang sudah tertekan oleh kenaikan harga energi dan biaya perjalanan. Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, menyatakan bahwa inflasi Maret mencapai tingkat tertinggi dalam hampir dua tahun dan memprediksi kenaikan harga makanan, biaya perjalanan, dan pengiriman akan memperburuk penderitaan di bulan April.
Ekonom Christopher Low dari FHN Financial menambahkan bahwa meskipun Indeks Harga Konsumen sesuai perkiraan, lonjakan harga bahan bakar menjadi pendorong utama inflasi. Diperkirakan kerugian sekitar USD 350 per rumah tangga di AS akibat lonjakan harga minyak.





