Sony, raksasa elektronik terkemuka dari Jepang, dilaporkan tengah mempertimbangkan penundaan peluncuran konsol game generasi mendatangnya, PlayStation 6 (PS6), dari jadwal semula. Keputusan ini muncul sebagai respons terhadap tantangan pasokan global dan kenaikan signifikan dalam harga komponen semikonduktor, terutama chip memori. Lonjakan permintaan untuk komponen-komponen ini sebagian besar didorong oleh pesatnya perkembangan dan investasi besar-besaran dalam teknologi kecerdasan buatan (AI).
Awalnya, PS6 diproyeksikan akan dirilis pada tahun 2027. Namun, laporan terbaru mengindikasikan bahwa para eksekutif Sony kini sedang mengevaluasi kemungkinan untuk menunda peluncuran hingga tahun 2028, atau bahkan 2029. Jika penundaan ini benar-benar terjadi, maka jeda antara peluncuran PS5 pada November 2020 dan PS6 akan mencapai hampir satu dekade.
Dampak Krisis Pasokan dan Permintaan AI
Situasi ini mendapat tanggapan dari berbagai pihak di industri. Seorang jurnalis terkemuka, Jason Schreier dari Bloomberg, berpendapat bahwa penundaan peluncuran PS6 selama beberapa tahun justru bisa menjadi kabar baik di tengah krisis pasokan memori (RAM) yang sedang berlangsung. Ia menekankan bahwa peluncuran pada tahun 2027 akan menjadi pukulan telak bagi semua pihak yang terlibat, mengingat tantangan produksi yang ada. Selain itu, ia juga menyoroti bahwa siklus pengembangan game yang kini memakan waktu 5-7 tahun membuat era PS5 terasa baru saja dimulai.
Laporan Bloomberg lebih lanjut merinci bagaimana perusahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti Alphabet (induk Google), Amazon, Microsoft, dan Meta sedang mengucurkan investasi bernilai ratusan miliar dolar untuk membangun pusat data AI. Investasi ini meliputi pembelian akselerator AI dalam jumlah besar, yang mana perangkat keras ini sangat membutuhkan memori berkapasitas tinggi. Setiap generasi baru perangkat keras AI diketahui mengonsumsi RAM jauh lebih banyak dibandingkan dengan komputer pribadi (PC) tradisional. Permintaan ini diperkirakan akan terus meningkat tajam hingga akhir dekade ini, menciptakan tekanan besar pada rantai pasokan global.
Strategi Penundaan dan Pertimbangan Konsumen
Meskipun ada dorongan dari sisi teknologi, penundaan peluncuran PS6 dinilai sebagai langkah strategis yang cerdas. Salah satu faktor yang mengejutkan adalah belum adanya dorongan kuat dari kalangan konsumen untuk segera melakukan migrasi dari PlayStation 5 ke PlayStation 6. Konsol generasi saat ini, terutama dengan hadirnya varian seperti PS5 Pro, masih dianggap sangat mumpuni dan belum terasa ketinggalan zaman. Mayoritas pemain game belum merasakan urgensi untuk mengganti perangkat mereka dalam waktu dekat.
Perubahan Lanskap Harga Konsol
Dalam beberapa tahun terakhir, Sony justru mengambil langkah yang tidak biasa dengan menaikkan harga perangkat kerasnya. Edisi standar PS5 yang awalnya diluncurkan dengan harga sekitar US$400, kini dijual dengan harga sekitar US$500. Kenaikan ini terjadi di saat siklus industri konsol biasanya melihat penurunan harga seiring berjalannya waktu. Lonjakan biaya produksi dan tekanan pasokan komponen menjadi pemicu utama kenaikan harga tersebut.
Untuk PS5 Pro, harga pasarnya saat ini berada di kisaran US$750. Mengamati tren ini, diperkirakan harga PS6 di masa mendatang bisa mencapai kisaran US$800 hingga US$850. David Gibson, seorang analis senior di MST International yang memiliki fokus pada industri game dan teknologi, berpendapat bahwa Sony kemungkinan besar akan membebankan kenaikan biaya produksi di masa depan kepada para konsumen.
Dampak yang Meluas ke Industri
Krisis pasokan chip global tidak hanya memengaruhi Sony. Nintendo, pesaing utama Sony, juga dilaporkan sedang mempertimbangkan penyesuaian harga untuk konsol terbarunya, Switch 2, yang baru saja diluncurkan. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap kenaikan biaya komponen yang signifikan. Nintendo telah menetapkan harga Switch 2 sebesar US$450, yang berarti US$150 lebih mahal dibandingkan dengan harga peluncuran Switch original yang sebesar US$300. Situasi ini menunjukkan betapa luasnya dampak dari kelangkaan semikonduktor dan kenaikan biaya komponen terhadap seluruh industri elektronik konsumen.





