Sebuah penelitian komprehensif yang dilakukan oleh para akademisi dari Princeton University di Amerika Serikat bersama Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) telah mengungkap korelasi yang signifikan antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental. Temuan utama dari riset ini menunjukkan bahwa jeda atau penghentian sementara penggunaan platform media sosial dapat memberikan dampak positif yang substansial terhadap kesejahteraan psikologis individu.
Peneliti utama dari Princeton University, Nicholas Kuipers, menyoroti bahwa efek pemulihan kesehatan mental terlihat lebih kuat ketika penghentian penggunaan media sosial dilakukan secara kolektif oleh seluruh anggota rumah tangga. Hal ini berarti, jika satu keluarga memutuskan untuk “puasa media sosial” bersama, manfaatnya akan jauh lebih terasa dibandingkan jika hanya satu individu yang melakukannya.
Metodologi Penelitian
Riset ini melibatkan partisipasi dari sekitar 1.502 responden yang mengisi kuesioner secara daring. Proses pengisian kuesioner dilakukan sebanyak dua kali, dengan jeda waktu satu bulan di antaranya, dalam kerangka survei panel. Desain ini memungkinkan para peneliti untuk membandingkan kondisi kesehatan mental responden sebelum dan sesudah periode penghentian penggunaan media sosial.
Survei awal dilaksanakan antara tanggal 17 November hingga 15 Desember 2025, diikuti oleh 1.502 responden. Selanjutnya, survei kedua diadakan dari 16 Desember 2025 hingga 14 Januari 2026, dengan partisipasi dari 1.408 responden yang sama.
Setelah survei pertama, para responden dikelompokkan ke dalam tiga kategori:
* Kelompok T1 (N=399): Kelompok ini diminta untuk menonaktifkan semua akun media sosial mereka selama satu bulan penuh hingga survei kedua dilaksanakan.
* Kelompok T2 (N=701): Anggota kelompok ini juga diminta untuk menonaktifkan media sosial selama satu bulan. Namun, penekanan khusus diberikan pada partisipasi kolektif, di mana seluruh anggota keluarga yang berusia 18 tahun ke atas diwajibkan untuk ikut serta dalam penghentian penggunaan media sosial.
* Kelompok Kontrol: Kelompok ini tidak diberikan instruksi khusus dan diminta untuk melanjutkan kebiasaan penggunaan media sosial mereka seperti biasa.
Kondisi Awal Responden
Sebelum intervensi penelitian dimulai, mayoritas responden dilaporkan berada dalam kondisi emosional yang relatif positif. Sekitar 83 persen dari seluruh responden menunjukkan afeksi atau perasaan positif dengan skor di atas 50 pada skala yang digunakan. Sebaliknya, hanya sekitar 17 persen yang memiliki skor di bawah 50, mengindikasikan perasaan negatif.
Skala penilaian emosi dalam survei ini berkisar dari 0 hingga 100, di mana 0 merepresentasikan kondisi emosional yang sangat negatif dan 100 untuk kondisi yang sangat positif. Rata-rata skor perasaan di kalangan responden tercatat sebesar 69,1, yang secara umum menggambarkan kondisi emosi yang cukup positif.
Selain emosi umum, survei ini juga mengukur indikator spesifik seperti tingkat depresi. Dari seluruh responden, sekitar 93 persen menunjukkan tingkat kecemasan yang rendah, dengan skor berada dalam rentang 0 hingga 50. Hanya sekitar 7 persen yang dilaporkan memiliki tingkat kecemasan yang tinggi.
Dampak Penghentian Media Sosial
Setelah periode satu bulan, analisis data menunjukkan adanya perbedaan tren yang mencolok antara kelompok kontrol dan kelompok yang melakukan penghentian penggunaan media sosial.
Indikator Depresi:
Pada kelompok kontrol, skor depresi menunjukkan sedikit peningkatan, dari 23,8 pada survei pertama menjadi 24,4 pada survei kedua.
Sebaliknya, pada kelompok T1, skor depresi mengalami penurunan dari 23,8 menjadi 22,4.
Kelompok T2, yang melakukan penghentian secara kolektif, menunjukkan penurunan skor depresi yang lebih signifikan, dari 22,4 menjadi 21,7.Perubahan ini diperkuat dengan analisis selisih skor. Selisih skor depresi antara kelompok T1 dan kelompok kontrol berubah dari +0,1 pada survei pertama menjadi -2,0 pada survei kedua, menunjukkan penurunan sebesar 2,1 poin. Sementara itu, selisih antara kelompok T2 dan kontrol berubah dari -1,3 menjadi -2,7, yang berarti penurunan sebesar 1,4 poin. Temuan ini secara jelas mengindikasikan bahwa penghentian sementara penggunaan media sosial berkorelasi dengan penurunan tingkat depresi.
Indikator Afeksi atau Perasaan Positif:
Pada kelompok kontrol, skor afeksi mengalami sedikit penurunan dari 69,2 menjadi 68,7.
Kelompok T1 menunjukkan skor afeksi yang relatif stabil, dari 69,7 menjadi 69,6.
Kelompok T2, yang berpartisipasi dalam penghentian kolektif, justru mengalami peningkatan skor afeksi yang lebih baik, dari 69,0 menjadi 70,0.Selisih skor afeksi antara kelompok T1 dan kelompok kontrol meningkat dari +0,5 menjadi +0,9. Peningkatan yang lebih besar terlihat pada selisih antara kelompok T2 dan kontrol, yang melonjak dari -0,2 menjadi +1,4. Laporan penelitian menyimpulkan bahwa deaktivasi media sosial, terutama yang dilakukan secara kolektif dalam satu rumah tangga, memiliki kecenderungan kuat untuk meningkatkan afeksi atau perasaan positif. Peningkatan ini diwujudkan dalam bentuk berkurangnya rasa kesepian, frustrasi, kekhawatiran, dan kebosanan, serta meningkatnya rasa puas, bahagia, dan ketenangan.
Kesimpulan Implisit
Secara keseluruhan, penelitian ini menyajikan bukti kuat yang mendukung manfaat penghentian penggunaan media sosial untuk kesehatan mental. Manfaat tersebut mencakup:
* Peningkatan Kualitas Tidur: Deaktivasi media sosial secara individual terbukti berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas tidur.
* Penurunan Tingkat Kecemasan: Penghentian penggunaan media sosial yang dilakukan secara kolektif oleh seluruh anggota rumah tangga secara efektif menurunkan tingkat kecemasan.
* Perbaikan Kesehatan Mental dan Emosional Menyeluruh: Kombinasi dari peningkatan kualitas tidur dan penurunan kecemasan berkontribusi pada perbaikan kesehatan mental dan emosional secara keseluruhan, terutama ketika dilakukan dalam konteks keluarga.
Temuan ini memberikan wawasan berharga bagi individu dan keluarga yang ingin mengelola dampak media sosial terhadap kesejahteraan mereka, mendorong pertimbangan untuk mengambil jeda yang disengaja dari dunia digital demi kesehatan mental yang lebih baik.




