Perjuangan Fara: Menjadi “Noni Belanda” Demi Menghidupi Keluarga
Di tengah keramaian Kota Tua, Jakarta Barat, sosok “Noni Belanda” memikat perhatian pengunjung, terutama anak-anak dan remaja. Mereka adalah para pekerja seni yang berprofesi sebagai manusia patung, salah satunya adalah Fara (42). Dengan kostum gaun panjang mengembang, sarung tangan, payung, rambut palsu, dan riasan khas bangsawan Eropa, Fara dan rekan-rekannya menjadi daya tarik tersendiri, terutama saat libur panjang seperti Lebaran. Namun, di balik senyum dan pose menawan itu, tersimpan kisah perjuangan gigih seorang ibu demi menafkahi keluarganya.
Kembali Berjuang Setelah Mudik Singkat
Baru saja enam hari lalu, Fara merasakan kebahagiaan mudik ke Semarang untuk bertemu orang tuanya. Namun, kehangatan keluarga tak bisa dinikmati terlalu lama. Demi memenuhi kebutuhan hidup, terutama untuk anak-anaknya, Fara harus segera kembali ke Ibu Kota dan melanjutkan profesinya.
“Berangkat naik travel jam 20.00 WIB malam tadi. Kemudian sampai Jakarta di kontrakan itu jam 08.30 WIB,” cerita Fara tentang kepulangannya yang terburu-buru. Sesampainya di Jakarta, ia tak punya banyak waktu untuk beristirahat. “Langsung masakan makanan buat anak saya. Lalu make up 15 menit ganti baju, lalu sudah standby di sini jam 09.30 WIB,” ungkapnya, menunjukkan betapa pentingnya pekerjaan ini baginya.
Menghadapi Keterbatasan Pendapatan
Profesi sebagai manusia patung “Noni Belanda” di Kota Tua memang ramai diminati pengunjung, terutama saat liburan. Namun, Fara mengungkapkan bahwa bulan Ramadan lalu menjadi masa yang sulit. Tingkat kunjungan yang sepi membuat pendapatannya sangat minim, bahkan ada hari di mana ia tidak mendapatkan ajakan berfoto sama sekali.
“Paling parah pas tidak ada yang ajak foto. Benar-benar nol. Sehingga hari ini meski mengantuk dan capek habis pulang mudik, saya tetap hajar,” tuturnya dengan nada prihatin namun penuh semangat. Kondisi ini memaksanya untuk terus bekerja keras, bahkan ketika rasa lelah mendera.
Fara, seorang ibu dari dua orang anak, menerapkan sistem tarif “seikhlasnya” untuk setiap sesi foto. Ia memahami bahwa kondisi ekonomi pengunjung sangat beragam. “Saya seorang ibu. Saya bayangkan kalau anak saya minta foto dan bayar, lalu saya enggak ada yang kan sedih. Makanya saya pun pasang tarif seikhlasnya,” jelasnya dengan hati yang tulus.
Untuk memfasilitasi pembayaran, Fara menyediakan topi yang dibalik sebagai tempat uang. Biasanya, pengunjung memberikan sekitar Rp 10.000 untuk satu sesi foto dengan berbagai gaya. Selain itu, ia juga menawarkan berbagai topi pantai berwarna-warni yang bisa digunakan pengunjung saat berfoto tanpa biaya tambahan.
Perjalanan Panjang Menjadi “Noni Belanda”
Mudik yang baru saja dilakukannya ke Semarang merupakan kali pertama bagi Fara setelah tiga tahun terakhir. Sejak tahun 2023, ia dan keluarganya tidak bisa pulang kampung. Penyebabnya adalah kondisi ekonomi keluarga yang sedang terpuruk akibat sang suami terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat dampak pandemi COVID-19.
“Karena dampak Covid-19, suami saya dirumahkan. Sejak saat itu saya keteteran cari nafkah. Meski begitu saya tetap berjuang,” ungkap Fara. Selama tiga tahun tersebut, ia merasa seolah tidak pernah libur, terus berjuang sebagai manusia patung setiap hari, kecuali saat Kota Tua tutup atau saat harus mengantar anak sekolah.
Awalnya, Fara menjadi manusia patung hanya untuk membantu meringankan beban finansial suami. Perjalanan kariernya dimulai pada tahun 2012 dengan berjualan es teh di Kota Tua. Kemudian, ia mencoba peruntungan menjadi manusia patung karakter hantu kuntilanak di malam hari. Namun, karena karakter hantu dilarang oleh pengelola Kota Tua, Fara beralih menjadi manusia patung RA Kartini.
Untuk menarik lebih banyak pengunjung, Fara kemudian mengganti karakternya menjadi “Noni Belanda” hingga saat ini. Ia mengakui bahwa karakter hantu kuntilanak merupakan yang paling banyak menghasilkan uang, sementara karakter “Noni Belanda” berada di urutan kedua.
Meskipun enggan merinci pendapatan hariannya, Fara memastikan bahwa hasil dari profesinya ini cukup untuk menopang kehidupan empat anggota keluarganya selama sang suami menganggur. Kini, kabar baik datang karena sang suami sudah kembali bekerja.
“Baru tiga bulan kerja kali. Doakan sukses ya Mbak. Anak saya juga berniat ingin kuliah jadi kami kerja keras,” tutur Fara dengan penuh harapan. Perjuangan Fara menjadi pengingat akan dedikasi dan ketangguhan seorang ibu yang rela berkorban demi masa depan anak-anaknya.





