Kekalahan Raja Kertajaya atas Ken Arok dari Tumapel menandai runtuhnya Kerajaan Kediri dan lahirnya Kerajaan Singasari.
Sejarah Kerajaan Kediri
Kerajaan Kediri adalah salah satu kerajaan besar di Jawa yang mencapai puncak kejayaannya pada masa Raja Jayabaya. Meskipun begitu, keangkuhan dan kesombongan raja-raja yang memimpin membuat kerajaan ini akhirnya hancur. Kerajaan Kediri berdiri sejak tahun 1045 dan runtuh pada tahun 1222. Pusat pemerintahan kerajaan ini berada di Kediri saat ini.
Kerajaan Kediri sering disebut sebagai Panjalu atau Daha. Kerajaan ini muncul dari pembagian Kerajaan Kahuripan oleh Raja Airlangga, seperti yang tercatat dalam Prasasti Wurare. Pembagian tersebut dilakukan untuk menghindari perselisihan antara dua putra Airlangga, yaitu Mahapanji Garasakan dan Sri Samarawijaya. Dengan demikian, Kerajaan Jenggala diberikan kepada Mahapanji Garasakan, sedangkan Kerajaan Panjalu (Kediri) diberikan kepada Sri Samarawijaya.
Pembagian kekuasaan ini terjadi pada tahun 1045, yang menjadi awal dari berdirinya Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Kediri. Sri Samarawijaya menjadi raja pertama Kerajaan Kediri. Setelah itu, Kediri diperintah secara berturut-turut oleh beberapa raja, termasuk Sri Jayawarsa, Sri Bameswara, Sri Jayabaya, dan seterusnya hingga Sri Kertajaya.
Masa Kejayaan Kerajaan Kediri
Masa kejayaan Kerajaan Kediri terjadi pada masa Raja Jayabaya yang berkuasa dari 1135 hingga 1159. Pada masa ini, tidak hanya pemerintahan yang stabil, tetapi juga perkembangan sastra yang pesat, khususnya dalam bentuk kakawin. Beberapa kalangan menyebut masa ini sebagai masa keemasan Jawa Kuna.
Penemuan Prasasti Ngantang pada 1135 membuktikan bahwa konflik antara Kerajaan Jenggala dan Kediri berhasil diakhiri. Dalam prasasti tersebut, terdapat pernyataan “Pangjalu jayati” yang berarti Panjalu menang. Wilayah kekuasaan Kediri sangat luas dan didukung dengan armada laut yang kuat. Bahkan nama Kediri sudah terkenal hingga ke Tiongkok, seperti yang dicatat oleh saudagar bernama Khou Ku Fei.
Sri Jayabaya juga diabadikan dalam Kitab Bharatayudha karena ramalannya yang terkenal. Pemerintahan Jayabaya dianggap teratur dengan hukum yang diterapkan secara tegas dan adil. Namun, beberapa dekade setelah kejayaannya, Kerajaan Kediri runtuh akibat perang dengan Ken Arok.
Kesombongan Raja Kertajaya
Raja Kertajaya naik takhta sekitar tahun 1194. Selama pemerintahannya, dia dikenal sebagai raja yang kejam dan sombong. Dia bahkan menyatakan dirinya sebagai dewa yang bebas berkehendak sesuka hati. Raja ini memaksakan rakyat, termasuk para Brahmana, untuk menyembahnya. Dia juga mengklaim hanya Dewa Siwa yang bisa mengalahkannya.
Dalam Pararaton, Kertajaya dikenal dengan julukan Prabu Dandang Gendis. Para pendeta Hindu dan Buddha menolak untuk menyembahnya, sehingga Kertajaya menyiksa mereka hingga meninggal dunia. Akibatnya, banyak pendeta melarikan diri ke Tumapel guna mencari perlindungan dari Ken Arok.
Ken Arok, yang saat itu menjadi penguasa Tumapel, memanfaatkan situasi ini untuk melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Kediri. Para Brahmana merestui Ken Arok sebagai raja di Tumapel. Ken Arok kemudian menggunakan gelar Batara Guru dan memimpin pasukannya untuk menyerang Kediri.
Perang Ganter dan Jatuhnya Kerajaan Kediri
Pertempuran antara pasukan Tumapel yang dipimpin oleh Ken Arok dan tentara Kediri di bawah pimpinan Mahisa Walungan, adik Raja Kertajaya, berlangsung di sebelah utara Ganter, sekitar Malang sekarang. Pertempuran ini dikenal sebagai Perang Ganter.
Dalam pertempuran tersebut, para panglima Kediri, yaitu Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, gugur di tangan Ken Arok. Menyadari kekalahan, Raja Kertajaya memilih melarikan diri. Menurut Negarakertagama, dia bersembunyi dalam dewalaya (tempat dewa), sementara Pararaton menyebut bahwa Raja Kertajaya lenyap ke alam kedewaan dan tidak meninggalkan bekas.
Peristiwa ini mengakhiri masa kekuasaan Kerajaan Kediri, yang wilayahnya kemudian menjadi bawahan Kerajaan Tumapel atau dikenal sebagai Kerajaan Singasari. Adapun putra Raja Kertajaya, Jayasabha, diangkat Ken Arok sebagai bupati Kediri pada tahun 1222.





