Ratusan Siswa Diduga Keracunan, BGN Tunda Pembayaran SPPG Pondok Kelapa Dua

Penangguhan Operasional SPPG Pondok Kelapa Dua

Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil kebijakan untuk menangguhkan atau menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa Dua. Keputusan ini diambil terkait dua insiden dugaan keracunan makanan yang terjadi dalam program makan bergizi gratis (MBG).

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan bahwa SPPG Pondok Kelapa Dua belum memenuhi standar operasional prosedur. Selain itu, penghentian operasional dilakukan karena kondisi dapur yang tidak sesuai dengan standar, termasuk tata letak dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang masih belum memadai.

“Kami menangguhkan operasional SPPG Pondok Kelapa Dua untuk waktu yang tidak terbatas. Hal ini dilakukan karena beberapa faktor yang tidak memenuhi standar,” ujar Nanik dalam keterangan pers pada Sabtu (4/4).

Nanik juga menegaskan bahwa BGN akan bertanggung jawab atas seluruh biaya pengobatan bagi siswa yang terkena dampak dari kejadian tersebut. Saat ini, para siswa telah diarahkan ke Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Jakarta Timur.

“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. BGN akan menanggung biaya pengobatan di rumah sakit,” tambahnya.

Insiden Keracunan di Sekolah-sekolah

Pada Kamis (2/4), sebanyak 135 siswa dan guru diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Data menunjukkan bahwa:

  • Di SDN Pondok Kelapa 09: 33 siswa terdampak, tujuh di antaranya dirawat di RSUD Duren Sawit.
  • Di SDN Pondok Kelapa 01: 37 siswa terdampak.
  • Di SDN Pondok Kelapa 07: 31 siswa terdampak, delapan di antaranya dirawat.
  • Di SMAN 91: 34 orang terdiri dari 28 siswa dan 6 guru serta tenaga kependidikan.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, yaitu saat pembagian makanan kepada siswa. Anak-anak biasanya tidak langsung memakan menu MBG yang umumnya berupa nasi. Namun, pada hari kejadian, menu spageti membuat banyak siswa tertarik untuk langsung mengonsumsinya di sekolah.

Perluasan Kasus Keracunan

Pada Jumat (3/4), kasus keracunan kembali terjadi dengan 72 siswa dari empat sekolah di Jakarta Timur yang diduga mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi spageti dari program MBG.

“Sampai saat ini, korban yang dirawat di tiga rumah sakit mengalami perubahan, yaitu Duren Sawit, Pondok Kopi, dan Rumah Sakit Harum. Totalnya 72 siswa,” kata Gubernur DKI Pramono Anung di RSKD Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Sabtu (4/4).

Empat sekolah yang terlibat adalah SMAN 91, SDN Pondok Kelapa 01, SDN Pondok Kelapa 09, dan SDN Pondok Kelapa 07. Para siswa rata-rata mengalami gejala seperti demam, mual hingga diare akibat insiden tersebut.

Langkah Lanjutan dan Tanggung Jawab

BGN dan pihak terkait sedang melakukan investigasi lebih lanjut terkait penyebab dan mekanisme keracunan yang terjadi. Selain itu, pihak sekolah dan instansi terkait juga diminta untuk meningkatkan pengawasan terhadap penyajian makanan dalam program MBG agar tidak terulang kembali.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan memperhatikan aspek keamanan serta kesehatan dalam konsumsi makanan, terutama dalam program-program sosial yang melibatkan anak-anak.

Pos terkait