Bantahan Dugaan Malapraktik Kematian Balita: Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Berikan Penjelasan
Kasus yang menyelimuti kepergian Jesicca Sipayung, seorang balita perempuan berusia dua tahun, telah menimbulkan duka mendalam bagi keluarganya. Pihak Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan, melalui kuasa hukumnya, Betman Sitorus, secara tegas membantah adanya praktik malapraktik dalam penanganan medis terhadap almarhumah. Menurut keterangan yang disampaikan, seluruh prosedur perawatan telah dijalankan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Betman Sitorus menjelaskan bahwa pihak rumah sakit telah berupaya melakukan klarifikasi dengan keluarga pelapor. Pertemuan tersebut turut didampingi oleh kuasa hukum keluarga, di mana seluruh proses penanganan medis Jesicca telah dipaparkan secara rinci. “Di minggu kemarin sudah dilakukan klarifikasi dengan keluarga almarhum Jessica dan dokter yang menangani sudah menjelaskan kepada keluarga, kuasa hukumnya,” ujar Betman pada Senin (16/3/2026). Ia menegaskan kembali, “Yang pada pokoknya sudah melakukan perawatan sebaik-baiknya, sesuai SOP dan tidak ada malapraktik tentang perawatan yang dilakukan Rumah Sakit St Elisabeth.”
Kisah Pilu Sang Ibunda: Ingatan Terakhir Sang Buah Hati
Di tengah pernyataan resmi dari pihak rumah sakit, terselip kisah pilu dari Helmi Saragih, ibunda Jesicca. Dengan suara bergetar dan air mata berlinang, Helmi menceritakan detik-detik terakhir putri tercintanya. Duduk di bawah naungan pohon jati di Desa Purba Tongah, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, wanita berusia 31 tahun ini tak mampu membendung kesedihannya saat mengenang kepergian Jesicca.
Perjalanan Jesicca menuju akhir hayatnya dimulai dengan demam tinggi, kegelisahan, rasa takut, hingga gangguan buang air besar. Momen-momen terakhir tersebut terekam jelas dalam ingatan Helmi, termasuk permintaan terakhir sang anak di tengah ketakutan yang menghantuinya.
Helmi Saragih menduga bahwa kematian Jesicca disebabkan oleh dugaan malapraktik yang dilakukan oleh dokter maupun tenaga kesehatan di salah satu rumah sakit swasta di Jalan H. Misbah, Kecamatan Medan Maimun. Ia merasa ada kelalaian dalam penanganan medis yang diberikan kepada putrinya. Kasus ini kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian dengan nomor laporan LP/B/434/III/2026/Polda Sumut tertanggal 16 Maret 2026, yang merujuk pada Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan dan dokter Nelly Saurma Simarmata. “Dokternya yang dilaporkan, karena atas izin dokter, karena susternya menyuntik atas izin dokter, gitu,” jelas Helmi Saragih.
Kronologi Perawatan Hingga Perburukan Kondisi
Peristiwa yang merenggut nyawa Jesicca bermula pada Jumat, 2 Januari 2026. Saat itu, Jesicca mengalami demam tinggi dan sempat dibawa ke sebuah klinik. Namun, karena kondisi klinik tidak memadai, ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan. Setibanya di rumah sakit, hasil pemeriksaan menunjukkan demam Jesicca mencapai 40 derajat Celsius. Obat penurun panas diberikan melalui anus, dan kondisinya sempat membaik.
Keesokan harinya, pihak keluarga mempertanyakan kemungkinan pulang, mengingat kondisi Jesicca yang dianggap membaik. Namun, pihak rumah sakit melarang kepulangan Jesicca, bahkan mengancam akan menonaktifkan fasilitas BPJS jika tetap bersikeras pulang. “Akhirnya kami mengikuti peraturan rumah sakit, dan kami percaya bahwa anak kami nanti bakalan sembuh,” ujar Helmi.
Sekitar pukul 12:00 WIB, dokter Nelly Saurma Simarmata mendiagnosis Jesicca menderita demam berdarah (DBD). Pada sore harinya, seorang perawat menyuntikkan cairan kepada Jesicca dengan penjelasan bahwa efek sampingnya adalah rasa lemas. “Setelah itu, sekitar sore, perawat ada menyuntikkan Jessica. Dia, perawat itu, ngomong gini, Bu, ini nanti efeknya lemas ya, Bu. Ibu jangan khawatir. Perawatnya ngomong gitu,” tutur Helmi menirukan perkataan perawat tersebut.
Namun, beberapa jam setelah disuntik, kondisi Jesicca justru berbanding terbalik dengan perkiraan efek samping. Balita tersebut menjadi sangat gelisah dan rewel. Ketika Helmi menanyakan perubahan kondisi ini kepada pihak rumah sakit, ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. “Tapi, setelah beberapa lama prosesnya, ternyata yang dirasakan Jessica bukan lemas, malah sebaliknya. Dia gelisah, dia nggak bisa tidur, dia rewel terus gitu,” ungkapnya. “Dan, saat itu saya ngomong, ‘Suster, ini kenapa kok gini, mereka tidak ada jawaban’,” tambahnya.
Kondisi Memburuk dan Perjuangan Terakhir
Pada tanggal 4 Januari, kondisi Jesicca dilaporkan semakin memburuk. Ia mengalami sesak napas, wajah membengkak, dan perut kembung. Pemasangan selang oksigen pun dilakukan untuk membantu pernapasan. “Saat tanggal 4, perubahannya semakin memburuk, seperti kayak sesak bernafas, mukanya pun sudah bengkak-bengkak gitu, dan mereka tidak ada sama sekali mengatakan apapun dari pihak rumah sakit. Sehingga dipasanglah oksigen karena keadaannya seperti sudah mulai agak parah.”
Selanjutnya, pada 5 Januari, Jesicca menjalani rontgen. Pihak rumah sakit menginformasikan adanya cairan di paru-parunya dan menyarankan agar Jesicca dimasukkan ke ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Keluarga Helmi sempat meminta waktu untuk berunding sebelum mengambil keputusan.
Helmi juga sempat menanyakan kemungkinan untuk menemani Jesicca, mengingat kondisi anaknya yang masih sadar. Setelah berunding, keluarga akhirnya menyetujui Jesicca untuk dimasukkan ke dalam ruangan PICU. Di dalam ruangan, Jesicca menunjukkan rasa takutnya yang mendalam karena terpisah dari orang tuanya. Ia berulang kali meminta untuk keluar, bahkan mengalami gangguan buang air besar akibat ketakutan.
Permintaan Helmi agar Jesicca diberikan susu pun ditolak, dengan alasan harus dipasang selang terlebih dahulu. Ketika Jesicca meminta empeng sebagai pengganti, permintaan itu juga tidak dipenuhi. Helmi kemudian memohon agar suaminya diizinkan menemani Jesicca, namun kembali ditolak. “Saya bilang, suster, tolonglah panggilkan bapaknya karena saya lihat dia di dalam itu sudah tidak seperti di ruangan tadi. Dia sudah seperti ketakutan kali gitu, dan nggak boleh, nggak dibolehkan bergantian.”
Tak lama setelah itu, Helmi keluar sebentar untuk mencari empeng untuk putrinya. Sekitar sepuluh menit kemudian, saat ia kembali, ia mendapati tenaga kesehatan sedang melakukan tindakan resusitasi jantung terhadap Jesicca. Sekitar pukul 23:30 WIB, Jesicca dinyatakan meninggal dunia. “Lalu saya mengambil empeng keluar. Tidak ada 10 menit di luar, saya masuk, anak saya sudah tidak ada lagi. Dia sudah dipicu dadanya.”
Kekecewaan dan Harapan Keluarga
Mendengar kabar duka tersebut, hati Helmi hancur. Ia juga menyaksikan kepanikan para perawat yang saling bertanya mengenai keberadaan dokter yang seharusnya menangani Jesicca. “Dan di situ saya lihat perawat itu mengatakan, mana dokter, mana dokter. Dokter tidak ada di situ. Maka saya kecewa. Anak saya dimasukkan ke dalam itu, tetapi dokter tidak ada.”
Helmi mengaku telah dua kali bertemu dengan pihak rumah sakit, namun merasa tidak mendapatkan kepastian mengenai penyebab pasti kematian putrinya. Ia merasa pihak Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan terkesan menutupi sesuatu. “Dan, jawaban perawat, antara perawat dan dokter itu berbeda. Sepertinya mereka ada menutupi sesuatu gitu.”
Menanggapi laporan tersebut, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari Helmi Saragih dan akan memprosesnya. “Kita akan kroscek laporannya,” ujar Kombes Ferry Walintukan.




