Rupiah Anjlok: Tekanan Global & Minyak Bakar Krisis

Rupiah Tertekan di Bawah Rp 17.000 per Dolar AS Akibat Gejolak Global dan Domestik

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan signifikan, menembus level Rp 17.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan terkini. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor global dan domestik yang muncul secara bersamaan. Salah satu pemicu utama adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang secara langsung mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran pasar global terkait potensi gangguan pasokan dan inflasi yang semakin meningkat. Akibatnya, para investor cenderung mengalihkan investasinya ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS. Fenomena ini secara inheren memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di samping itu, sentimen negatif terhadap aset domestik yang dinilai mulai rapuh turut memperparah pelemahan rupiah. Kondisi ini diperburuk oleh penurunan outlook rating Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional, serta arus keluar modal yang terus meningkat dari pasar keuangan domestik.

Analisis Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah

Menurut Myrdal Gunarto, seorang ekonom dari Maybank, pelemahan rupiah saat ini didominasi oleh faktor eksternal. Ia menekankan bahwa konflik geopolitik dan potensi gangguan pada rantai pasok energi global menjadi pendorong utama.

“Kalau saya lihat sih ini memang murni dari tekanan global, terutama dampak perang yang luas. Lalu diikuti dengan kekhawatiran adanya gangguan supply atau supply chain shock,” ujar Myrdal.

Pasar keuangan global tengah dilanda kekhawatiran akan potensi terganggunya pasokan minyak dunia. Kekhawatiran ini telah mendorong harga minyak mentah dunia melonjak menembus level USD 113 per barel.

“Jadi ada kekhawatiran yang namanya supply chain shock untuk komoditas minyak. Sehingga kita lihat ya harga minyak saat ini sudah menembus lebih dari USD 113 per barrel,” tambahnya.

Lonjakan harga energi ini berdampak langsung pada pergerakan dana investor global yang cenderung menarik investasinya dari pasar negara berkembang. Konsekuensinya terlihat jelas pada koreksi yang terjadi di pasar saham maupun pasar surat utang negara (SUN) domestik. Myrdal memperkirakan arus keluar dana asing dari pasar saham mencapai lebih dari USD 50 juta per hari, sementara di pasar obligasi pemerintah, outflow diperkirakan menembus lebih dari Rp 500 miliar.

“Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat rupiah terbang ya pada hari ini ya melemah terhadap dolar,” jelasnya.

Peran Bank Indonesia dalam Menstabilkan Nilai Tukar

Dalam menghadapi kondisi volatilitas nilai tukar yang tinggi, Bank Indonesia (BI) dinilai perlu memperkuat langkah-langkah stabilisasi di pasar keuangan. BI memiliki berbagai instrumen untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Myrdal menyarankan agar bank sentral melakukan intervensi di pasar valuta asing maupun pasar obligasi. Intervensi ini dapat dilakukan di pasar spot rupiah, serta pasar forward seperti NDF (Non-Deliverable Forward).

Selain itu, BI juga dapat masuk ke pasar sekunder surat utang negara untuk meredam tekanan yang terjadi di pasar obligasi. Ia menilai bahwa ruang kebijakan moneter yang dimiliki BI masih cukup memadai, mengingat cadangan devisa Indonesia yang tergolong besar.

“Ini kalau kita lihat sih dari BI juga amunisi moneternya masih mumpuni ya karena sedangkan devisa kita juga hingga periode Februari lalu masih sekitar USD 151,9 miliar,” ungkap Myrdal.

Selain intervensi pasar, Bank Indonesia juga dapat memperkuat instrumen stabilisasi likuiditas. Salah satunya adalah dengan meningkatkan frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menyerap likuiditas yang beredar di pasar.

Kebijakan Suku Bunga dan Sentimen Geopolitik

Terkait kebijakan suku bunga, Myrdal berpendapat bahwa bank sentral sebaiknya mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini dan tidak terburu-buru untuk menaikkannya.

“Terus ya jalan terakhir mereka harus tetap ini menjaga suku bunga BI Rate di level saat ini ya kalau untuk menaikkan suku bunga sih jangan dulu lah kalau dari saya sih,” katanya.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Ibrahim Assuabi menilai bahwa tekanan terhadap rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak hanya disebabkan oleh faktor eksternal. Ia juga menyoroti pengaruh sentimen geopolitik yang semakin memanas, khususnya perkembangan politik di Iran yang berpotensi memperpanjang konflik di Timur Tengah.

“Apa yang menyebabkan rupiah dan indeks harga saham gabungan melemah cukup tajam dalam perdagangan di hari Senin ini? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi adalah faktor eksternal dan internal yang kita lihat bahwa pemimpin baru Iran sudah terpilih,” ujar Ibrahim.

Ketegangan geopolitik ini dinilai berpotensi memicu gangguan pasokan energi global, terutama jika jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz terdampak.

“Ini yang membuat apa? Membuat harga minyak mentah dunia, baik yang crude oil maupun brent, ini pun juga melonjak tinggi,” katanya.

Ibrahim bahkan memprediksi bahwa harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak lebih tinggi lagi jika konflik di Timur Tengah tidak segera mereda.

“Nah banyak analis yang mengatakan kemungkinan besar harga minyak mentah ini akan mencapai level USD 200 per barrel apabila dalam jangka waktu satu bulan ini belum ada penyelesaian tentang krisis di Timur Tengah,” ungkapnya.

Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan ini dikhawatirkan akan menekan kondisi fiskal dalam negeri. Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu segera menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Pos terkait