Rupiah Terus Tertekan, Spekulasi Pasar Muncul
Nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang signifikan dan nyaris menyentuh level psikologis Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (20/1). Pada sesi awal, rupiah dibuka melemah sebesar 30 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp 16.985 per dolar AS, dari sebelumnya di angka Rp 16.955.
Pelemahan ini memicu berbagai spekulasi pasar, termasuk kaitan dengan dinamika internal Bank Indonesia (BI), seiring munculnya nama Thomas Djiwandono sebagai kandidat Deputi Gubernur BI. Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak berkaitan dengan isu tersebut.
Menurut Purbaya, pergerakan rupiah sepenuhnya ditentukan oleh fundamental ekonomi nasional yang hingga kini tetap solid. Ia menilai bahwa rupiah akan tergantung pada kondisi ekonomi dalam negeri. “Anda lihat kan IHSG all time high di 9.133,” ujarnya kepada awak media, dikutip Selasa (20/1).
Purbaya juga menilai bahwa penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke level tertinggi sepanjang sejarah mencerminkan kuatnya kepercayaan investor. Hal ini juga didukung oleh aliran modal asing yang terus masuk ke pasar domestik.
“Kalau indeks naik ke situ, pasti ada flow asing masuk ke situ juga. Nggak mungkin sentimen domestik sendiri yang bisa mendorong itu ke level seperti itu,” tegasnya.
Dengan derasnya aliran modal asing tersebut, Purbaya optimistis bahwa suplai dolar AS di dalam negeri akan meningkat dan pada akhirnya menopang penguatan rupiah. “Jadi tinggal tunggu waktu aja rupiahnya menguat juga. Karena suplai dolar akan bertambah,” lanjutnya.
Faktor Spekulasi Pasar Juga Berkontribusi
Di sisi lain, Purbaya menyebut bahwa pelemahan rupiah saat ini sebagian dipicu oleh faktor spekulasi pasar. Terutama terkait kekhawatiran independensi BI menyusul masuknya nama Thomas Djiwandono, yang merupakan Wakil Menteri Keuangan dalam bursa calon Deputi Gubernur.
Padahal ia memastikan bahwa masuknya nama Keponakan Presiden Prabowo Subianto itu dalam bursa Deputi Gubernur BI tak akan menggoyangkan independensi dari BI itu sendiri. “Jadi ini mungkin sebagian spekulasi. Ketika Thomas akan ke sana, orang spekulasi, wah independensinya hilang. Saya pikir nggak akan begitu,” ungkapnya.
Namun, ia meyakini sentimen tersebut hanya bersifat sementara dan akan segera terkoreksi oleh pasar. “Nanti kalau begitu insaf juga, langsung menguat lagi rupiah,” tambahnya.
Komitmen Pemerintah untuk Menjaga Fondasi Ekonomi
Lebih jauh, Purbaya menegaskan pemerintah berkomitmen menjaga fondasi ekonomi nasional agar tetap kuat dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa fondasi ekonomi akan terus dijaga agar semakin membaik ke depan.
“Karena fondasi ekonominya kita akan jaga supaya semakin membaik ke depan. Pertumbuhan ekonomi akan semakin cepat,” pungkasnya.





