Rupiah Melemah Akibat Ketegangan di Timur Tengah
Nilai tukar rupiah pada Senin pagi mengalami pelemahan sebesar 17 poin atau 0,10 persen menjadi Rp 17.121 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 17.104 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi karena meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menutup Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Menurutnya, situasi ini menciptakan ketidakstabilan di pasar keuangan global dan memengaruhi nilai tukar mata uang negara-negara yang terkait.
“Rupiah diperkirakan akan terus melemah terhadap dolar AS dalam kondisi seperti ini,” ujar Lukman kepada Antara di Jakarta, Senin, 13 April 2026. “Peningkatan ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah telah memicu sentimen negatif terhadap aset-aset emerging market.”
Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan segera memulai blokade di Selat Hormuz untuk mencegah Iran melakukan apa yang disebutnya sebagai “pemerasan”. Ia menambahkan bahwa Angkatan Laut AS akan memblokade semua kapal yang ingin masuk atau keluar dari Selat Hormuz hingga semua pihak diizinkan masuk dan keluar.
Dari sisi Iran, Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Aziz, menyatakan bahwa setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz akan diwajibkan membayar pungutan. Pemerintah Iran merasa harus menetapkan sistem pengelolaan dan pengendalian untuk Selat Hormuz dan Teluk Persia. Karena itu, setiap kapal yang ingin masuk berdasarkan kepentingan nasional Iran harus membayar pungutan.
Lukman menilai bahwa jika situasi di Timur Tengah tidak membaik, maka harga minyak akan terus melambung dan meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh The Fed (Federal Reserve). Hal ini dapat berdampak pada aliran modal yang keluar dari pasar-pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Lukman memprediksi bahwa rupiah akan berkisar antara Rp 17.050 hingga Rp 17.200 per dolar AS dalam waktu dekat. Prediksi ini didasarkan pada analisis terhadap dinamika geopolitik dan kemungkinan perubahan kebijakan moneter di tingkat internasional.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah
Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menutup Selat Hormuz memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. Hal ini memengaruhi sentimen investor dan memperburuk tekanan terhadap rupiah.Kebijakan Iran terhadap Selat Hormuz
Iran mengklaim bahwa mereka memiliki hak untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Pernyataan ini memicu ketegangan dengan negara-negara Barat, khususnya AS.Prospek kenaikan suku bunga The Fed
Jika situasi di Timur Tengah memburuk, harga minyak akan melonjak, yang dapat memicu kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS. Hal ini berpotensi mengalirkan dana dari pasar negara berkembang ke pasar aman.Pergerakan rupiah dalam jangka pendek
Analis memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.050 hingga Rp 17.200 per dolar AS. Prediksi ini didasarkan pada stabilitas ekonomi domestik dan kondisi pasar global.
Kesimpulan
Pelemahan rupiah pada hari ini mencerminkan ketidakstabilan yang disebabkan oleh dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ancaman AS untuk menutup Selat Hormuz dan respons Iran terhadap hal ini memicu ketegangan yang berdampak pada pasar keuangan. Investor dan pelaku bisnis perlu memantau perkembangan situasi secara cermat, karena potensi kenaikan suku bunga The Fed dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah.





