Rupiah Menguat Tajam, Didukung Sentimen Positif Global dan Domestik
Pada penutupan perdagangan hari Senin, 9 Februari 2026, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan yang signifikan. Tren positif ini tidak hanya dirasakan oleh mata uang Garuda, tetapi juga diikuti oleh sejumlah mata uang lain di kawasan Asia yang turut terdepresiasi terhadap Dolar AS.
Berdasarkan data yang dihimpun, Rupiah berhasil menguat sebesar 0,42%, menutup perdagangan di level Rp16.805 per Dolar AS. Di sisi lain, indeks Dolar AS yang mengukur kinerja mata uang Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama dunia, tercatat melemah tipis sebesar 0,19% ke level 97,44.
Apresiasi Mata Uang Asia
Fenomena penguatan Rupiah sejalan dengan apresiasi mata uang regional lainnya di Asia. Beberapa mata uang yang menunjukkan kinerja positif antara lain:
- Baht Thailand: Mengalami kenaikan sebesar 0,96%.
- Ringgit Malaysia: Menguat 0,34%.
- Yuan China: Mencatatkan penguatan 0,09%.
- Rupee India: Naik 0,10%.
- Peso Filipina: Menguat 0,21%.
Selain itu, mata uang lain di Asia yang juga turut mengapresiasi meliputi Won Korea yang naik 0,13%, Dolar Taiwan menguat 0,31%, Dolar Singapura naik 0,20%, dan Yen Jepang yang mencatat penguatan 0,39%. Satu-satunya mata uang yang mengalami pelemahan adalah Dolar Hong Kong yang terkoreksi tipis 0,03%.
Faktor Pendorong Penguatan Rupiah
Menurut Ibrahim Assuaibi, Direktur Traze Andalan Futures, pergerakan Rupiah terhadap Dolar AS hari ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan internasional.
Kondisi Internasional:
- Perundingan Nuklir Iran-AS: Pernyataan positif dari Amerika Serikat dan Iran mengenai kelanjutan pembicaraan nuklir pasca-diskusi yang konstruktif pada Jumat lalu, berhasil meredakan kekhawatiran pasar. Pesan ini dinilai mampu mengurangi ketegangan dan kekhawatiran akan eskalasi konflik militer di Timur Tengah, terutama setelah AS mengerahkan beberapa kapal perangnya ke wilayah tersebut di awal tahun.
- Premi Risiko Minyak: Kekhawatiran akan konflik di Timur Tengah sebelumnya telah mendorong pasar untuk memasukkan premi risiko yang lebih besar pada harga minyak. Ancaman tindakan militer dari Presiden AS terhadap Iran juga sempat menambah ketegangan. Namun, Ibrahim menilai bahwa kemungkinan terjadinya perang di Timur Tengah saat ini cenderung kecil.
- Perhatian Pasar pada Data Ekonomi: Fokus pasar pada minggu ini tertuju pada rilis data ekonomi penting dari negara-negara konsumen minyak terbesar di dunia. Di Amerika Serikat, data penggajian non-pertanian untuk bulan Januari akan dirilis dalam pekan ini, diikuti oleh data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang dijadwalkan pada hari Jumat. Sementara itu, China akan merilis data CPI Januari pada akhir pekan, tepat sebelum memasuki liburan Tahun Baru Imlek, yang akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai kondisi importir minyak terbesar di dunia tersebut.
Kondisi Domestik:
- Proyeksi Penerimaan Pajak: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dilaporkan memperkirakan bahwa penerimaan pajak pada tahun 2026 dapat melampaui target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Perkiraan ini muncul meskipun basis pertumbuhan penerimaan pajak pada tahun sebelumnya tergolong rendah.
- Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Meningkat: Data terbaru mengenai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan adanya peningkatan signifikan sebesar 3,5 poin, mencapai level 127 poin pada Januari 2026. Tingkat IKK ini merupakan yang tertinggi dalam setahun terakhir, atau sejak Januari 2025, mengindikasikan optimisme konsumen yang meningkat terhadap kondisi ekonomi.
Proyeksi Perdagangan Mendatang
Menyikapi dinamika yang terjadi, Ibrahim memprediksi bahwa pada perdagangan hari berikutnya, Rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun cenderung menguat. Rentang pergerakan yang diprediksi adalah antara Rp16.760 hingga Rp16.800 per Dolar AS.





