Rupiah Tergelincir ke Rp16.925/USD

Rupiah Tertekan, Perdagangan Awal Pekan Dibuka Melemah

Pada awal perdagangan Senin, 9 Maret 2026, nilai tukar rupiah tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Data pasar keuangan menunjukkan bahwa mata uang Garuda dibuka pada posisi Rp16.925 per dolar AS. Penurunan ini menandai pelemahan sebesar 20 poin atau setara dengan 0,12 persen jika dibandingkan dengan penutupan sesi perdagangan sebelumnya.

Kondisi pelemahan rupiah ini sejalan dengan tren yang terjadi pada mayoritas mata uang di kawasan Asia. Sentimen negatif tampaknya tengah mendominasi pasar keuangan global, mendorong para investor untuk mencari aset yang lebih aman.

Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Melemah

Pergerakan nilai tukar di Benua Asia pada hari yang sama menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan pada beberapa mata uang utama. Hal ini mengindikasikan adanya sentimen global yang memengaruhi pasar regional. Rincian pelemahan mata uang di Asia adalah sebagai berikut:

  • Bath Thailand: Melemah sebesar 0,04 persen.
  • Ringgit Malaysia: Mengalami pelemahan tipis sebesar 0,02 persen.
  • Yuan China: Juga terpantau melemah 0,02 persen.
  • Rupee India: Mencatat pelemahan sebesar 0,15 persen.
  • Pesso Filipina: Mengalami pelemahan yang lebih dalam, yakni 0,65 persen.
  • Won Korea: Terjadi pelemahan drastis sebesar 13,23 persen.
  • Dolar Taiwan: Melemah 0,20 persen.

Sentimen Risk-Off Meningkat, Rupiah Diprediksi Terus Melemah

Para pengamat pasar uang memproyeksikan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS kemungkinan akan terus berlanjut. Prediksi ini didasarkan pada memburuknya sentimen risk-off atau kecenderungan investor untuk menghindari aset berisiko di pasar keuangan global.

Menurut pengamat pasar uang, Lukman Leong, salah satu pemicu utama tekanan terhadap mata uang rupiah adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus level psikologis 100 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi yang tajam ini menimbulkan kekhawatiran yang meluas di kalangan pelaku pasar.

“Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap dampaknya terhadap perekonomian global dan potensi peningkatan inflasi,” ujar Lukman Leong. Kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi dan perlambatan ekonomi global mendorong investor untuk menarik dana dari pasar negara berkembang dan mengalokasikannya ke aset yang dianggap lebih aman.

Prediksi Pergerakan Rupiah di Kisaran Rp16.850 hingga Rp17.000 per Dolar AS

Situasi sentimen risk-off yang meningkat ini secara alami mendorong para investor untuk cenderung beralih ke aset yang lebih aman. Dolar AS, yang dikenal sebagai salah satu aset safe haven terkuat, menjadi tujuan utama aliran modal. Hal ini secara langsung memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Dengan adanya perkembangan tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada dalam rentang yang cukup lebar pada perdagangan mendatang. Lukman Leong memprediksi bahwa rupiah akan bergerak pada kisaran Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS. Level Rp17.000 per dolar AS menjadi batas psikologis penting yang perlu diwaspadai, yang menunjukkan potensi pelemahan lebih lanjut jika tekanan pasar tidak mereda.

Faktor-faktor global seperti ketidakpastian geopolitik, inflasi yang terus membayangi, dan potensi perlambatan ekonomi global menjadi pendorong utama sentimen risk-off ini. Selain itu, kebijakan moneter bank sentral utama dunia, seperti Federal Reserve AS, juga akan terus memengaruhi pergerakan dolar AS dan, secara tidak langsung, mata uang negara berkembang lainnya.

Para pelaku pasar kini tengah mencermati perkembangan lebih lanjut di pasar energi, data-data ekonomi global, serta pernyataan dari para pembuat kebijakan moneter. Kemampuan rupiah untuk menahan pelemahan lebih lanjut akan sangat bergantung pada bagaimana sentimen global ini berkembang dan bagaimana otoritas moneter di Indonesia merespons dinamika pasar yang ada.

Pos terkait