Saham Ritel Maret 2026: MIDI, MAPA, MAPI, ACES Tetap Prospektif

Sektor Ritel Indonesia: Peluang Pertumbuhan di Tengah Tantangan Ekonomi 2026

Meskipun daya beli masyarakat masih dalam tahap pemulihan di awal tahun 2026, sektor ritel Indonesia menunjukkan potensi pertumbuhan kinerja yang positif. Proyeksi ini didukung oleh beberapa katalis utama, termasuk ekspansi portofolio merek, peningkatan pertumbuhan penjualan toko yang sama (Same Store Sales Growth/SSSG), serta penguatan strategi penjualan omnichannel. Faktor-faktor ini diprediksi akan mendorong kinerja emiten ritel ternama seperti PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) sepanjang tahun ini.

Para analis pasar modal pun optimis dan memberikan rekomendasi saham di sektor konsumer yang dianggap menarik untuk dicermati oleh para investor. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai rekomendasi saham sektor ritel untuk periode perdagangan yang akan datang.

1. PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI): Ekspansi Agresif dan Kinerja Solid

PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) menargetkan ekspansi jaringan gerai yang signifikan pada tahun 2026. Perusahaan berencana membuka 200 gerai baru, sebuah peningkatan substansial dibandingkan realisasi 152 gerai baru pada tahun sebelumnya. Komitmen ekspansi ini tidak hanya terbatas pada penambahan jumlah toko, tetapi juga mencakup perluasan jangkauan bisnis ke sejumlah provinsi baru di luar Pulau Jawa, menandakan ambisi untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Dari sisi kinerja keuangan, MIDI menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hingga September 2025, emiten ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 591 miliar, yang mencerminkan pertumbuhan sebesar 27% secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Realisasi ini setara dengan sekitar 78% dari target internal perusahaan dan 79% dari konsensus Bloomberg, menunjukkan pencapaian yang kuat dan konsisten.

Berdasarkan analisis dari Christy Halim, seorang analis di BRI Danareksa Sekuritas, saham MIDI direkomendasikan dengan kategori “Buy” dengan target harga Rp 550. Kinerja positif yang didukung oleh ekspansi gerai dan pertumbuhan laba menjadikan MIDI sebagai pilihan menarik di sektor ritel.

2. PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA): Diversifikasi Merek dan Momentum Musiman

PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) terus aktif memperluas portofolio merek fesyennya. Langkah terbaru yang signifikan adalah menghadirkan merek alas kaki internasional asal Amerika Serikat, Sam Edelman, ke pasar Indonesia. Selain itu, melalui brand Golf House, MAPA juga berupaya memperkuat lini bisnisnya di tengah dinamika industri golf nasional yang terus berkembang.

Perusahaan melihat adanya momentum positif pada kuartal I 2026, yang sebagian besar didorong oleh faktor musiman. Merek-merek alas kaki utama seperti New Balance, Hoka, Skechers, dan Foot Locker diprediksi akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ini.

Dalam periode sembilan bulan pertama tahun 2025, MAPA mencatat pendapatan bersih sebesar Rp 13,9 triliun, mengalami kenaikan sebesar 12,3% YoY. Sementara itu, laba bersih mencapai Rp 1,16 triliun, meningkat dari periode yang sama di tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp 1,10 triliun.

Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), memberikan rekomendasi “Buy” untuk saham MAPA dengan target harga Rp 600. Diversifikasi merek dan kemampuan menangkap momentum musiman menjadi faktor kunci dalam rekomendasi ini.

3. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI): Kekuatan Segmen Premium dan Ekspansi Strategis

Kinerja PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) diproyeksikan akan tetap solid, didukung oleh ekspansi gerai baru dan performa kuat dari segmen Active dan Fashion. Strategi promosi yang terukur pada merek-merek ternama seperti Inditex dan Marks & Spencer juga turut menopang pertumbuhan kinerja perusahaan.

Lebih lanjut, portofolio fesyen premium MAPI semakin diperkaya dengan kehadiran merek fesyen asal Amerika Serikat, Abercrombie & Fitch (A&F), di Indonesia. Kehadiran merek-merek global ini menegaskan posisi MAPI sebagai pemain utama dalam ritel fesyen premium.

Pertumbuhan bisnis MAPI juga ditopang oleh beberapa faktor eksternal dan internal, termasuk peluncuran iPhone 17 pada kuartal IV 2025, yang diperkirakan akan meningkatkan trafik dan penjualan di gerai-gerai yang menjual produk elektronik. Selain itu, pemulihan kinerja anak usaha di segmen ritel juga terus berlanjut.

Sepanjang periode Januari–September 2025, MAPI berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 1,37 triliun, menunjukkan peningkatan sebesar 5,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,29 triliun. Pendapatan perusahaan juga mengalami kenaikan sebesar 8,76% YoY menjadi Rp 30,03 triliun.

Christofer Kojongian, seorang analis di Sucor Sekuritas, merekomendasikan saham MAPI dengan kategori “Buy” dan menetapkan target harga Rp 1.500. Kekuatan portofolio merek, strategi promosi yang efektif, dan dukungan dari peluncuran produk teknologi menjadi pendorong utama rekomendasi ini.

4. PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES): Transformasi Digital dan Tantangan Operasional

PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) terus berupaya memperkuat strategi digitalnya sebagai respons terhadap perubahan perilaku konsumen. Perusahaan secara konsisten melakukan siaran langsung (live streaming) selama 12 jam setiap hari di platform e-commerce populer seperti Shopee dan TikTok guna meningkatkan penjualan online.

Dalam upaya memaksimalkan potensi penjualan digital, ACES bahkan berencana untuk melakukan siaran langsung sepanjang hari setiap hari selama periode Ramadan, sebuah langkah ambisius untuk memperkuat daya saingnya di kanal digital.

Dari sisi operasional, terdapat indikasi positif pada pertumbuhan SSSG per Januari 2026 yang tercatat sebesar +1% YoY. Angka ini menandai kembalinya pertumbuhan positif setelah mengalami penurunan selama sembilan bulan berturut-turut sejak April 2025, menunjukkan adanya pemulihan bertahap pada tingkat penjualan di toko fisik.

Namun, dari sisi kinerja keuangan, ACES mencatat laba bersih sebesar Rp 481,1 miliar pada kuartal III 2025. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 574,2 miliar. Penurunan ini mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor operasional dan persaingan yang ketat.

Meskipun demikian, Arkasatyo dari CGS International Baruna memberikan rekomendasi “Add” untuk saham ACES dengan target harga Rp 500. Fokus pada transformasi digital dan upaya pemulihan SSSG menjadi pertimbangan utama dalam rekomendasi ini, meskipun tantangan kinerja keuangan perlu terus dicermati.

Secara keseluruhan, sektor ritel Indonesia menunjukkan ketahanan dan potensi pertumbuhan yang menjanjikan di tengah berbagai tantangan ekonomi. Strategi diversifikasi merek, ekspansi gerai, penguatan kanal digital, dan pemanfaatan momentum musiman menjadi kunci keberhasilan emiten-emiten di sektor ini. Investor yang cermat dalam menganalisis fundamental perusahaan dan tren pasar akan menemukan peluang investasi yang menarik di sektor yang dinamis ini.

Pos terkait