Sahur di Bawah Terpal: Ramadhan di Tenda Pengungsian

Ramadan di Tengah Puing-Puing: Kisah Para Penyintas Banjir di Aceh

Bulan suci Ramadan kali ini disambut dengan duka mendalam bagi ribuan warga di Aceh. Luka akibat banjir bandang yang melanda beberapa bulan lalu masih membekas, menyisakan cerita perjuangan para penyintas. Ada yang masih menjalani sahur di tenda-tenda pengungsian, sementara sebagian lainnya menanti hunian sementara (huntara) yang pembangunannya tersendat. Di berbagai sudut Aceh yang terdampak, bantuan tak selalu datang merata. Desa yang menjadi viral mendapatkan perhatian lebih, sementara desa-desa yang sunyi berjuang sendirian untuk bangkit dari keterpurukan. Tiga laporan ini akan membawa kita menelusuri kehidupan para penyintas yang gigih berjuang untuk memulihkan diri pasca bencana.

Gampong Ujung Karang: Hilangnya Rumah dan Kenangan Manis Ramadan

Di Gampong Ujung Karang, Kecamatan Serbajadi, Aceh Timur, suasana menjelang Ramadan seharusnya dipenuhi aroma rempah dari dapur warga yang sibuk mempersiapkan hidangan. Namun, yang tercium kini hanyalah bau tanah basah dan kayu lapuk sisa banjir bandang yang meluluhlantakkan permukiman beberapa bulan silam.

Di tengah puing-puing yang berserakan, Usman berdiri di tempat yang dulunya adalah rumahnya. Ia menunjuk ke arah tanah kosong yang kini hanya menyisakan pondasi. Di sanalah ia tinggal bersama istri dan kelima anaknya. Rumah itu lenyap, terseret arus banjir yang datang tanpa ampun. Lahan pertanian rusak parah, bahkan sepeda motor kesayangannya masih tertanam dalam lumpur.

Bencana itu datang begitu tiba-tiba. Usman masih ingat betul pagi itu ketika air mulai naik. “Pagi Rabu itu pertama naik air, surut sebentar. Namun setelah surut naik lagi, nah itu air semakin tinggi dan tidak surut lagi serta menghantam semua yang ada di kampung ini,” kenangnya dengan nada pilu.

Ketika air semakin tinggi, fokusnya beralih dari harta benda ke keselamatan keluarganya. Usman segera membawa istri dan anak-anaknya ke tempat yang lebih aman. Dalam kepanikan itu, ia bahkan tak ingat lagi kapan rumahnya hancur. Yang terpatri dalam ingatannya adalah bagaimana mereka berhasil bertahan hidup.

Usman bersama warga lainnya terpaksa mengungsi ke perbukitan. Selama hampir satu minggu, mereka bertahan hidup mengandalkan bantuan dari keluarga dan kerabat. Ketika air akhirnya surut dan warga kembali ke kampung, pemandangan yang tersaji sungguh memilukan. Rumah-rumah hilang, sebagian hanyut terbawa arus, sebagian lagi hancur tak bersisa. Rumah Usman termasuk yang tidak dapat lagi ditemukan, hanya menyisakan tanah tandus dan kenangan.

Saat ini, Usman dan keluarganya menempati sebuah bangunan PAUD yang masih selamat dari terjangan banjir. Sebagian warga lain terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat atau membangun rumah sementara dari kayu-kayu sisa banjir. Bencana ini bukan hanya menghancurkan rumah, tetapi juga merenggut kehidupan yang telah ia bangun selama ini. “Inikan bencana, tidak hanya rumah, tetapi tanah, harta benda, bahkan pekerjaan juga hilang. Enggak tau saya mau cerita bagaimana lagi. Sudah hancur total,” ucapnya penuh kepasahan.

Trauma pasca-bencana masih membekas kuat. Setiap kali hujan turun, warga di kampung itu langsung dilanda kewaspadaan. “Kalau hujan turun, kami sudah was-was. Kadang kita lagi di luar, gitu hujan turun itu saya langsung pulang ke rumah karena takut akan kejadian kayak kemarin lagi,” tutur Usman dengan mata berkaca-kaca.

Di tengah situasi yang memilukan ini, Ramadan pun datang. Biasanya menjelang bulan puasa, dapur Usman ramai dengan aktivitas memasak. Tradisi meugang, menyembelih sapi atau kerbau untuk dinikmati bersama keluarga, selalu menjadi momen istimewa. Namun tahun ini, dapur itu sudah tak ada lagi.

“Saya tidak bisa cerita, sedih kalau lihat seperti ini, biasanya Ramadan kami sudah mempersiapkan banyak hal, mulai dari daging meugang, masakan-masakan untuk menyambut bulan puasa. Tapi sekarang apa yang mau dipersiapkan, bisa menjalani ibadah puasa tahun ini sudah sangat bersyukur,” ucapnya lirih.

Sahur bagi keluarganya kini jauh lebih sederhana. Kadang hanya nasi dengan lauk seadanya dari bantuan keluarga atau bantuan kemanusiaan yang singgah di lokasi pengungsian. “Enggak ada apapun, jadi gimana saya bilang ada. Sementara saat ini pekerjaan aja tidak ada. Enggak kerja, apa yang mau dipersiapkan untuk puasa, syukur bisa makan,” tutup Usman.

Gampong Leubok Mane: Bangkit dari Atap Rumah ke Hunian Darurat

Kisah serupa juga dialami Abdul Wahab (55), warga Gampong Leubok Mane, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Ketika banjir melanda kampungnya beberapa bulan lalu, ia sempat bertahan di atap rumahnya sebelum akhirnya dievakuasi dan tinggal di tenda pengungsian selama sebulan penuh.

Setelah air surut, ia kembali ke kampung dan segera mengumpulkan material bangunan yang masih tersisa. “Kayu-kayu yang tidak hanyut saya kumpulkan, sebagian material lain juga ada yang ditemukan kembali. Dari situlah saya bangun rumah seadanya supaya bisa dihuni,” ujarnya.

Di rumah darurat itulah ia dan ketiga anaknya kini menjalani bulan Ramadan. “Kalau sahur sama seperti makan biasa, masak sendiri di rumah. Waktu masih di pengungsian dulu, makan dari dapur umum,” kata Abdul Wahab.

Di berbagai wilayah terdampak banjir di Aceh Utara, sebagian warga kini mulai menempati hunian sementara. Mereka memasak sendiri untuk sahur dan berbuka di dapur yang disediakan di kawasan tersebut, sementara aktivitas ibadah seperti salat tarawih tetap dilakukan secara berjamaah di meunasah, masjid, atau balai pengajian.

Kabupaten Aceh Tamiang: Tantangan Hidup di Hunian Sementara

Situasi yang hampir sama terlihat di Kabupaten Aceh Tamiang. Ratusan keluarga korban banjir kini harus tinggal di hunian sementara (huntara) yang dibangun oleh pemerintah. Meskipun kondisinya lebih baik dibandingkan tinggal di tenda darurat, kehidupan para penyintas ini masih jauh dari kata normal.

Masalah air bersih, sanitasi yang memadai, hingga kepadatan hunian masih menjadi tantangan serius bagi warga yang harus menjalani Ramadan di tempat tersebut. Ruang gerak yang terbatas dan fasilitas yang minim menjadi ujian tambahan di bulan penuh berkah ini.

Namun, di tengah segala keterbatasan tersebut, Ramadan tetap dijalani dengan semangat. Sahur dimasak di dapur umum yang tersedia. Anak-anak berusaha menjalani puasa di ruang-ruang sempit hunian sementara. Dan setiap malam, warga tetap berkumpul untuk melaksanakan salat Tarawih bersama, mencari kekuatan dan kebersamaan di tengah kesulitan.

Bagi Usman, Abdul Wahab, dan ribuan korban banjir lainnya di Aceh, Ramadan tahun ini mungkin tidak menghadirkan suasana seperti biasanya. Tidak ada dapur yang ramai oleh aroma masakan meugang, tidak ada rumah yang utuh untuk berkumpul bersama keluarga besar, dan tidak ada kepastian kapan kehidupan akan benar-benar kembali seperti sedia kala.

Namun, di bawah terpal pengungsian, di rumah darurat yang terbuat dari kayu hanyut, dan di hunian sementara yang sempit, mereka tetap menjalankan ibadah puasa. Dengan kesabaran yang luar biasa dan dengan harapan yang membuncah bahwa suatu hari nanti, mereka akan kembali menyambut bulan suci Ramadan di rumah sendiri, di tengah keluarga dan lingkungan yang aman. Perjuangan mereka adalah pengingat akan ketangguhan semangat manusia dalam menghadapi cobaan.

Pos terkait