Kemah Sastra 2026 Berakhir, Kegiatan yang Menginspirasi Generasi Muda
Kemah Sastra 2026 yang berlangsung selama beberapa hari di Villa Kedaung Kemiling telah resmi ditutup. Acara ini menjadi momen penting bagi para peserta yang terdiri dari kalangan pelajar dan pemuda yang memiliki minat pada dunia sastra. Para peserta perempuan tampak menghampiri Fitri Angraini, penanggung jawab acara sekaligus penerima dana Indonesiana-LPDP Kemenbud RI, untuk memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Fitri Angraini mengungkapkan rasa bangga dan haru setelah melihat antusiasme peserta dalam acara ini. Awalnya ia merasa pesimis bisa mendapatkan peserta lebih dari 20 orang. Namun, kenyataannya jauh berbeda. Ia menyebutkan bahwa jumlah pengirim mencapai ratusan, dengan sebagian besar berasal dari luar Lampung. Setelah dilakukan validasi, akhirnya terpilih 75 peserta/katya yang kemudian dikurasi menjadi 20 peserta yang berhak mengikuti lomba cipta offline dan kemah sastra ini.
Proses kurasi yang dilakukan oleh para kurator sangat ketat dan serius. Alasan Fitri, yang akrab disapa Bunda itu, adalah karena mempertaruhkan nama besar sastrawan berjuluk Paus Sastra Lampung, Isbedy Stiawan ZS. Hasilnya tidak meleset jauh. Para pemenang sesuai dengan prediksi Fitri dan Isbedy. “Hasil kurasi dewan juri yang terdiri dari Ari Pahala Hutabarat, Arman AZ, dan Iin Zakaria tidak meleset,” ujar Fitri sambil meneteskan air mata.
Banyak peserta yang diberi kesempatan menyampaikan pesan dan kesan mereka. Mereka merasakan manfaat besar dari kegiatan ini dan berharap acara serupa dapat diadakan lagi dengan peserta yang lebih banyak dan kalangan yang lebih luas. Beberapa di antaranya adalah Yuvanka Prasista, siswa kelas 8 SMP Xaverius 2 Bandar Lampung; Cykal Qv Ichiya Putri, kelas 12 SMAN 7 Bandar Lampung; Alisza Nasabila Azahra (SMA Al Huda, Jati Agung Lampung Selatan); Khendra Putra Alkautsar (kelas 8 SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro); Masyitha Alya Nurdiyono (Universitas Teknokrat Indonesia); Dian Alia Ananta (SMA Al Ma’rif 05 Padang Ratu, Lampung Tengah), dan lainnya.
Mayoritas peserta berharap kegiatan semacam Kemah Sastra dapat dilaksanakan secara rutin. Fitri Angraini, yang juga seorang akademisi dan pegiat literasi, menyarankan agar jika kegiatan ini difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan RI, maka sebaiknya juga didanai oleh Pemerintah Provinsi Lampung. Hal ini diharapkan mampu memberikan dukungan yang lebih baik bagi perkembangan sastra di daerah.
Isbedy Stiawan ZS, sastrawan ternama Indonesia, juga menyambut positif rencana ini. Ia menekankan bahwa untuk menjaga dan membangun ekosistem sastra di daerah, perlu adanya peran aktif dari pemerintah provinsi atau kabupaten/kota. “Jangan hanya fokus pada pembangunan fisik, namun spiritual juga harus diperhatikan,” ucap Isbedy.
Ia memberikan amanat bahwa penggalian kekayaan alam seperti emas, timah, dan minyak menjadi prioritas utama yang diburu. Namun, tambang kekayaan spiritual yang ada dalam diri anak-anak bangsa sepertinya masih diabaikan. Dengan demikian, kegiatan seperti Kemah Sastra ini menjadi salah satu cara untuk mengangkat dan mengembangkan potensi tersebut.





