JAKARTA – Film Sadali menempatkan seni rupa sebagai bagian penting dalam proses syuting, terutama bagi Adinia Wirasti yang memerankan karakter Mera. Alih-alih sekadar properti, lukisan dan media seni menjadi sarana baginya membangun gestur, kebiasaan, dan emosi tokoh.
Besar di lingkungan keluarga kolektor, Adinia mengaku akrab dengan dunia seni sejak kecil. Meski selera seseorang berbeda-beda, kegemarannya menikmati karya seni membuatnya terbiasa membaca bahasa visual, yang kemudian dia manfaatkan untuk pendalaman karakter.
“Seni rupa banyak membantu saya untuk memadatkan karakter, bukan sekadar menghias set,” ujarnya dalam media junket film Sadali di Jakarta, Senin (19/1/2026). Dia menekankan bagaimana proses itu membantunya meresapi peran Mera secara lebih natural.
Dalam film ini, Adinia menyoroti karya beberapa seniman yang memengaruhi perspektifnya. Salah satunya adalah Iwan Effendi, yang menurutnya punya garis dan warna kuat melalui media charcoal atau arang, dengan jejak tangan pembuat yang tetap terlihat.
Sebagai pelukis sekaligus pendiri Papermoon Puppet Theatre, Adinia menyoroti bagaimana karya Iwan Effendi mampu memancing respons emosional penonton. “Sebagai seniman, dia juga bisa mengekspresikan gerak boneka walaupun sebagai dalang dia berdiri di belakang boneka,” imbuhnya.
Selain Iwan, Adinia juga mengagumi Jeihan Sukmantoro. Lukisan-lukisan karya maestro seni rupa Indonesia ini memberi energi tersendiri dalam pendalaman emosional, sekaligus memperkaya dunia visual karakter yang dia perankan.
Kedekatan seni rupa dengan karakter juga terlihat dari konsistensi visual lukisan Sadali. Seluruh karya yang muncul di film dibuat oleh satu artisan seniman, sehingga karakter Sadali terasa utuh dan tidak terpecah secara visual.
Pelukis yang terlibat bahkan mendampingi para aktor secara langsung. Mereka diajari cara memegang kuas, menemukan tekanan tangan, dan memahami ritme gerak saat melukis. “Proses ini juga membantu aktor tidak sekadar berakting, tetapi membangun kebiasaan tubuh seorang seniman,” jelas Adinia.
Proses Belajar Melukis untuk Aktor
Film Sadali menekankan bahwa seni rupa tidak hanya menjadi elemen visual, tetapi juga bagian dari kehidupan karakter. Para aktor mengikuti proses belajar melukis agar gestur dan aktivitas seni yang muncul terasa natural, seolah memang bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.
Adinia menjelaskan bahwa proses ini dilakukan agar para pemain bisa lebih memahami cara bergerak, menekan kuas, dan menyesuaikan ritme sesuai dengan karakter yang dimainkan. Hal ini menciptakan keterlibatan emosional yang lebih dalam antara aktor dan peran mereka.
Selain Adinia, film ini juga dibintangi Hanggini, Ajil Ditto, Faiz Virzha, Shania Gracia, Ciara Nadine Brosnan, Wina Marrino, dan Joni Asman. Kehadiran elemen seni rupa diklaim bakal menjadi salah satu daya tarik Sadali, yang menekankan hubungan antara visual, emosi, dan karakter secara utuh.
Penceritaan yang Berbeda
Sadali merupakan sekuel dari Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu. Film ini disutradarai Kuntz Agus dan membawa penonton kembali ke kisah emosional tentang cinta, pilihan, dan konflik yang berbeda dari cerita pertama.
Dijadwalkan rilis pada 5 Februari 2026, film ini digadang menjadikan seni rupa sebagai bagian keseharian karakter di layar. Dengan pendekatan yang konsisten dan detail, Sadali menawarkan pengalaman yang unik dan mendalam bagi penonton.
Keunikan Visual dan Emosional
Dalam Sadali, seni rupa menjadi bagian integral dari narasi. Tidak hanya sebagai latar belakang, karya-karya seni yang ditampilkan memiliki makna dan pengaruh terhadap perkembangan karakter.
Para seniman yang terlibat dalam film ini juga turut serta dalam proses syuting, memberikan panduan dan bimbingan kepada aktor agar bisa memahami teknik dan filosofi seni. Hal ini menciptakan kesatuan antara dunia seni dan dunia perfilman.
Film ini diharapkan mampu menghadirkan kisah yang menggugah pikiran dan hati penonton, dengan seni rupa sebagai alat utama untuk menyampaikan pesan dan emosi.





